Warga mengantre untuk menerima santunan tinai yang didistribusikan World Food Program di Kabul, Afghanistan, Rabu (17/11/2021). PBB memperingatkan bahwa jutaan warga Afghanistan saat ini terancam kelaparan akibat krisis ekonomi. | AP/Petros Giannakouris

Internasional

29 Nov 2021, 03:45 WIB

Uni Eropa tak akan Akui Taliban

Taliban enggan disalahkan atas krisis ekonomi yang kini sedang membekap Afghanistan.

RUSSELS – Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan, Uni Eropa (UE) tidak akan mengakui pemerintahan Taliban di Afghanistan. Namun, perhimpunan Benua Biru akan berupaya membantu negara tersebut menangani krisis ekonomi.

"UE tidak mengakui rezim baru yang dipaksakan melalui kekerasan. Tapi kita perlu mencegah keruntuhan ekonomi dan sosial yang akan segera dihadapi negara itu. Kita harus berdiri di samping rakyat Afghanistan,” kata von der Leyen dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (27/11), dilaporkan Fars News Agency.

Ia mencemaskan kian memburuknya krisis kemanusiaan di Afghanistan. “Itulah sebabnya bulan lalu kami mengumumkan paket senilai 1 miliar euro, termasuk 300 juta euro dalam bantuan kemanusiaan. Uni Eropa akan terus terlibat dengan negara-negara di kawasan ini,” ujar von der Leyen.

Laman Republic World menyebutkan, negara lain seperti Rusia, Jepang, Kanada, Amerika Serikat, dan Prancis juga tak berencana mengakui pemerintahan Taliban. Berbeda dengan mereka, Cina justru menyerukan komunitas internasional untuk terlibat dengan Taliban.

photo
Pria Afghanistan mengantre untuk menerima santunan tinai yang didistribusikan World Food Program di Kabul, Afghanistan, Sabtu (20/11/2021). - (AP/Petros Giannakouris)

Akhir Oktober lalu, Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan, Taliban memiliki iktikad membangun hubungan dengan dunia internasional. “Kesan saya secara keseluruhan bahwa Taliban sangat ingin melakukan dialog dan kerja sama dengan pihak luar dan mereka serius tentang hal ini,” ucapnya pada 27 Oktober lalu.

Dia turut mendesak Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) melanjutkan dukungan pembiayaan ke Afghanistan. Pun menyerukan AS dan negara Barat lain untuk mencabut sanksi terhadap Afghanistan. Dia menilai, sanksi-sanksi kian membuat Afghanistan terpuruk.

“Afghanistan membutuhkan kebangkitan di semua lini, dan pembangunan adalah prioritas utama,” ujar Wang.

Wang meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyediakan lebih banyak vaksin bagi Afghanistan. Hal itu agar Afghanistan mampu memerangi pandemi Covid-19.

Dia mengungkapkan, Cina akan mengirim bantuan kemanusiaan darurat senilai 30 juta dolar AS ke Afghanistan. Wang kembali mengingatkan bahwa Cina selalu menyerukan komunitas internasional untuk terlibat, bukan mengisolasi Taliban selaku pemegang kekuasaan saat ini di Afghanistan. 

Enggan disalahkan

Sementara, Taliban enggan disalahkan atas krisis ekonomi yang kini sedang membekap Afghanistan. Taliban mengeklaim, mereka tengah bekerja memberantas praktik korupsi yang dilakukan pemerintahan sebelumnya.

“Kami tenggelam dalam masalah kami dan kami mencoba untuk mendapatkan kekuatan untuk membawa rakyat kami keluar dari kesengsaraan serta kesulitan dengan bantuan Allah,” kata Perdana Menteri Taliban di Afghanistan Mullah Mohammad Hassan Akhund dalam pidatonya pada Sabtu (27/11), dikutip laman Gulf Today.

Pada kesempatan itu, dia turut meyakinkan bahwa Taliban ingin membangun hubungan dan kerja sama dengan berbagai negara. “Kami meyakinkan semua negara bahwa kami tidak akan mencampuri urusan dalam negeri mereka dan kami ingin memiliki hubungan ekonomi yang baik dengan mereka,” ujarnya.

Pidato Akhund yang berdurasi 30 menit disiarkan di televisi pemerintah. Itu merupakan pidato pertamanya sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu. Pidato itu disampaikan menjelang pertemuan antara Taliban dan Amerika Serikat di Doha, Qatar, pekan depan.

Krisis ekonomi dan kemanusiaan di Afghanistan memburuk sejak Taliban menguasai kembali Afghanistan pada Agustus lalu. Aksi kejahatan, seperti penculikan dan perampokan, dilaporkan meningkat tajam di berbagai daerah, terutama ibu kota Kabul.

photo
Warga mengantre untuk menerima santunan tinai yang didistribusikan World Food Program di Kabul, Afghanistan, Sabtu (20/11/2021). PBB memperingatkan bahwa jutaan warga Afghanistan saat ini terancam kelaparan akibat krisis ekonomi. - (AP/Petros Giannakouris)

Pekan lalu, Taliban meminta Kongres AS mengambil langkah bertanggung jawab untuk mengatasi krisis kemanusiaan dan ekonomi yang sedang berlangsung di Afghanistan. Menurut mereka, langkah Kongres dapat mencairkan aset Afghanistan yang dibekukan Pemerintah AS dan mencabut sanksi terhadap Afghanistan.

"Ketika bulan-bulan musim dingin semakin dekat di Afghanistan, dan dalam keadaan di mana negara kami telah dihantam virus korona, kekeringan, perang, dan kemiskinan, sanksi Amerika tidak hanya merusak perdagangan serta bisnis tetapi juga dengan bantuan kemanusiaan,” kata Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Mutaqqi dalam surat terbuka yang ditujukan untuk anggota Kongres AS pada Rabu (17/11), dikutip Anadolu Agency.

Dia mengungkapkan, pemerintahan Taliban terkejut saat Pemerintah AS mengumumkan penerapan sanksi pada aset bank sentral Afghanistan. “Ini bertentangan dengan harapan kami serta Perjanjian Doha,” ucapnya merujuk pada perjanjian damai antara AS dan Taliban yang tercapai pada Februari tahun lalu.

Saat ini, AS membekukan aset asing Afghanistan senilai lebih dari sembilan miliar dolar. Pembekuan itu dilakukan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu.

Sumber : Reuters


×