Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

28 Nov 2021, 06:24 WIB

Pengguna Bahasa Melayu di Volksraad Periode Awal

Bupati Serang Djajadiningrat mengusulkan penggunanan bahasa Melayu di sidang Volksraad pada 1918.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Di periode awal Volksraad, November-Desember merupakan masa sidang kedua. Masa sidang pertama dilaksanakan pada Juni-Juli. Pada sidang Selasa, 23 November 1920, Achmad Djajadiningrat, untuk pertama kalinya, menggunakan bahasa Melayu-pasar ketika menyampaikan pandangan umum.

Bupati Serang Djajadiningrat inilah yang mengusulkan penggunanan bahasa Melayu di sidang Volksraad pada 1918. Cerita tentang pengusulan sudah diceritakan di “Nostalgia” 21 November 2021. Setelah pengesahan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi di Volksraad, orang-orang Indonesia yang menjadi anggota Volksraad dan mahir berbahasa Belanda menegaskan akan tetap menggunakan bahasa Belanda.

Praktis, hingga masa sidang Juni-Juli 1920, kata Djajadiningrat, hanya Waworoentoe yang biasa berbahasa Melayu di sidang Volksraad. Pada periode awal Volksraad ini, sidang dilakukan pada Juni-Juli dan November-Desember. Jika terus-menerus tak ada yang memakai bahasa Melayu, kata Djajadiningrat, artinya sia-sia belaka ada pasal di tata tertib yang membolehkan anggota berbahasa Melayu.

Djajadiningrat mengaku, mendapat celaan karena selalu menggunakan bahasa Belanda sehingga dianggap lebih mementingkan “pihak sana” --untuk menyebut Belanda. Terlebih, banyak orang Indonesia yang kemudian memilih tak menghadiri sidang Volksraad karena tidak bisa mengikuti jalannya persidangan akibat tidak memahami bahasa Belanda.

 
Banyak orang Indonesia yang memilih tak menghadiri sidang Volksraad karena tidak memahami bahasa Belanda.
 
 

Karena itulah, Djajadiningrat terdorong menggunakan haknya untuk berbahasa Melayu di sidang Volksraad. Agar pembicaraannya bisa dipahami, ia memilih menggunakan bahasa Melayu-pasar karena jika menggunakan bahasa Melayu-tinggi (Melayu Riau) banyak anggota Volksraad yang tidak bisa mengikutinya.

Melayu-pasar inilah yang disebut M Tabrani sebagai Melayu-gampang, yaitu Melayu gado-gado. Ada Melayunya, tetapi banyak Jawanya, banyak Sundanya, atau banyak Belandanya, tergantung asal daerah pengguna.

Djajadiningrat juga mengemukakan alasan lain penggunaan bahasa Melayu, yaitu agar masyarakat Indonesia bisa memahami hal-hal yang dibicarakan di Volksraad. Jika banyak yang menggunakan bahasa Melayu, Djajadiningrat meyakini, minat anggota Volksraad dari kalangan Belanda terhadap bahasa Melayu akan meningkat.

Alasan lainnya lagi, kata Dajadiningrat, orang Indonesia yang menjadi anggota Volksraad banyak yang tidak benar-benar fasih berbahasa Belanda. Ketika ingin menyampaikan pendapatnya di pemandangan umum, mereka meminta bantuan orang lain untuk menyusun pidatonya dalam bahasa Belanda. Cara ini, dinilai Djajadiningrat, memiliki kelemahan karena isi pidato tidak sepenuhnya 100 persen menggambarkan isi kepala anggota yang berpidato itu.

Djajadiningrat juga menyinggung soal pemilihan anggota Volksraad periode berikutnya yang akan segera dilakukan. Ia menilai, banyak orang Indonesia yang layak menjadi anggota Volksraad. Jangan sampai mereka gagal menjadi anggota Volksraad karena terhadang oleh kemampuan bahasa Belanda mereka.

 
Pada masa sidang Juni-Juli 1923, Agus Salim juga menggunakan bahasa Melayu. Banyak hal yang dipersoalkan Agus Salim.
 
 

Pada masa sidang Juni-Juli 1923, Agus Salim juga menggunakan bahasa Melayu. Banyak hal yang dipersoalkan Agus Salim, di antaranya, pemogokan pekerja kereta api. Masa sidang dimulai pada 11 November 1923. Agus Salim menyampaikan pandangan umumnya dalam bahasa Melayu pada sidang 13 Juni 1923.

Tanpa menyebut tahun, Mohammad Hatta menulis peristiwa Agus Salim berbahaya Melayu di Volksraad dalam kata pengantar yang ia berikan untuk buku Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional yang diterbitkan pada 1965. Hatta juga tidak menyebutkan sumber cerita, misalnya, dari ucapan langsung Agus Salim kepadanya ataupun dari sumber lain. Hatta menceritakan adanya penolakan dari anggota Volksraad Bergmeijer (Bergmeyer) terhadap penggunaan bahasa Melayu Agus Salim.

Dalam pidato itu ada ia menjebut perkataan ‘ekonomi’. Tapi Tuan Bergmeyer, lawannya jang selalu memperhatikan apa jang diuraikannja, tjepat mengeluarkan tegoran untuk mengedjek, ‘Apa kata ekonomi dalam bahasa Melaju?’ Ad rem Salim mendjawab, ‘Tjoba tuan sebutkan dahulu apa kata ekonomi itu dalam bahasa Belanda, nanti saja sebutkan apa Indonesianja. Tuan Bermeyer melongo, tidak dapat mendjawab lagi dan dalam sidang banjak anggota jang tertawa. Memang perkataan ‘ekonomi’ tidak ada salinannya dalam bahasa Belanda. Perkataan ‘staathuishoudkunde’ jang dipakai sebagai salinannja jang resmi tidak memberikan artinja jang sebenarnja,” tulis Hatta.

Cerita ini disampaikan Hatta untuk memberi gambaran mengenai sosok Agus Salim yang genial. “Jang mendapat buah pikiran jang penting-penting setjara tiba-tiba dan mudah sadja mengeluarkannya dengan sepintas lalu, jang nanti barangkali sudah dilupakannja lagi. Pada tiap-tiap pembitjaraan ada sadja buah pikiran baru jang dilantingkannja, jang sesudah itu tidak timbul lagi,” kata Hatta.

Cerita ini lalu menyebar ke mana-mana, lewat tulisan-tulisan. Ada yang menyebut peristiwanya terjadi pada 1927, padahal Agus Salim hanya menjadi anggota Volksraad sampai awal 1924. Haris Munandar dan Faisal Basri menuliskan kisah ini dengan menyebutkan sumbernya dari buku Goerge McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia. Tapi, di buku Kahin itu–baik yang terbitan 1955 dan terbitan 2003– tak ada kisah Salim diinterupsi Bergmeijer.

 
Koran-koran saat itu juga tak ada yang melaporkan adanya interupsi dari Bergemeijer ataupun anggota lainnya terkait penggunaan bahasa Indonesia oleh Agus Salim itu.
 
 

Koran-koran saat itu juga tak ada yang melaporkan adanya interupsi dari Bergemeijer ataupun anggota lainnya terkait penggunaan bahasa Indonesia oleh Agus Salim itu. Risalah sidang yang dimuat koran di Solo setiap hari selama hampir dua bulan, juga tak ada cerita Bergmeijer menginterupsi Salim. Interupsi kepada Salim muncul ketika di hari lain ia mempersoalkan kebebasan pendidikan agama dan pemimpin.

Memang ada penolakan terhadap aksi berbahasa Melayu Agus Salim, tetapi itu terjadi di luar Volksraad. Dilakukan di koran-koran Belanda. Mereka menilai, tindakan Agus Salim itu sebagai tindakan demonstratif yang tak perlu dilakukan, sehingga harus ditolak.

Mereka menyatakan, ada kesalahan dari awal karena diperolehkannya penggunaan bahasa Melayu di Volksraad, padahal bahasa Belanda lebih layak sebagai bahasa pengantar. Menggunakan bahasa Melayu juga dinilai bisa memunculkan kesalahpahaman karena banyak anggota Volksraad yang tidak mengerti bahasa Melayu.


×