Foto aerial ladang milik warga di hutan Pegunungan Meratus, Desa Hinas Kanan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Kamis (25/11/2021). Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah V Banjarbaru mencatat selama tiga tahun terakhir luasan hutan | ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Nasional

27 Nov 2021, 03:45 WIB

Indonesia Berpeluang Pimpin ITTO

Indonesia merupakan salah satu pemilik hutan tropis terluas di dunia, tapi belum sekalipun menduduki posisi direktur eksekutif ITTO .

JAKARTA – Sidang International Tropical Timber Organization (ITTO) ke-57 akan digelar pada 29 November hingga 3 Desember 2021. Salah satu agenda sidang Organisasi Kayu Tropis Internasional itu adalah pemilihan direktur eksekutif. Indonesia berpeluang untuk menduduki posisi itu dengan masuknya diplomat senior Yuri Octavian Thamrin.

Selain Yuri, dua kandidat lain yakni, Sheam Satkuru (Malaysia), dan Francisco Souza (Brasil). Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Agus Justianto mengatakan, Indonesia akan all out agar Yuri Thamrin terpilih sebagai direktur utama. 

Sebab, Indonesia merupakan salah satu pemilik hutan tropis terluas di dunia, tapi belum sekalipun menduduki posisi direktur eksekutif ITTO sejak berdiri. “Dalam sejarah hampir 40 tahun berdirinya ITTO, belum pernah ada warga negara Indonesia yang mendapatkan kehormatan dan kesempatan untuk menjabat sebagai direktur eksekutif ITTO," ujar Agus dalam konferensi pers daring, Jumat (26/11).

Menurut Agus, Yuri adalah sosok yang tepat memimpin ITTO. Ia adalah diplomat senior Indonesia dengan dua tempat penugasan Duta Besar yang strategis di luar negeri. Yaitu, Inggris (terakreditasi untuk Republik Irlandia dan Organisasi Maritim Internasional) dan Kerajaan Belgia (terakreditasi ke Grand Duchy of Luxembourg and the European Union). Yuri juga pernah menjabat Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Sebagai diplomat, Yuri punya pengalaman luas. Selama menjabat sebagai Head of Diplomatic Mission to Belgium, Luxembourg and the European Union, Yuri berhasil bekerja sama dengan Uni Eropa (UE) untuk menyimpulkan dan mengimplementasikan Forest Law Enforcement Governance and Trade Voluntary Partnership Agreement (FLEGT- Sertifikasi VPA) pada 2016.

Hal ini, kata Agus, merupakan inovasi pertama di dunia untuk mempercepat ekspor kayu bebas deforestasi dari Indonesia ke Uni Eropa.

Dengan kepemimpinan Yuri di ITTO nantinya, Indonesia dapat mengedepankan peran penting dalam kebijakan internasional. Antara lain, kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan, perdagangan kayu legal, serta menunjukkan peran Indonesia dalam menurunkan tingkat deforestasi dan kebakaran hutan dan lahan kepada dunia.

“Ini merupakan kesempatan yang besar untuk Indonesia menjadi direktur eksekutif ITTO, karena kita juga sebagai salah satu pemilik hutan tropis terbesar di dunia,” tutur Agus.

Atas pencalonannya, Yuri meminta dukungan penuh dari seluruh masyarakat di Indonesia. Menurutnya, pemilihan direktur eksekutif ITTO periode ini adalah kesempatan emas buat Indonesia. Sebab, periode ini jabatan itu menjadi jatah negara produsen wilayah Asia Pasifik.

Potensi Indonesia memimpin organisasi ini juga karena belum pernah menjabat. “Kenapa dalam 40 tahun tidak ada orang Indonesia yang berkontribusi dalam level tertinggi di ITTO, padahal kita punya hutan tropis salah satu yang terluas di dunia. Ini yang menjadi motivasi saya ikut pemilihan pada jabatan ini,” ujar Yuri.

Jika berhasil memimpin ITTO, Yuri memiliki visi memperkuat prinsip tanggung jawab bersama sebagai kunci dalam mencapai tujuan ITTO. Dia menggarisbawahi perlunya kerja sama dan kemitraan yang lebih erat antara negara produsen dan konsumen serta pemangku kepentingan lainnya.

“ITTO di bawah saya akan menjadi lebih solid, produktif dan inovatif,” ujarnya.

Indonesia diketahui memiliki hutan seluas 125 juta hektare. Sekitar 33 hektare di antaranya telah memiliki izin untuk kegiatan produksi.

Setiap tahun, Indonesia memproduksi kayu sekitar 45 juta meter kubik. Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu pengekspor produk kayu tropis terbesar di dunia dengan nilai sebesar 11 miliar dolar AS pada 2020. 


×