Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

26 Nov 2021, 03:30 WIB

Guru Kehidupan

Profesi guru sejalan dengan misi kenabian.

 

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW menemui dua majelis di dalam masjidnya.

Lalu, Beliau bersabda, “Keduanya berada dalam kebaikan, namun salah satu lebih utama dari yang lainnya. Satu majelis berdoa kepada Allah (zikir) dan mengharapkan ridha-Nya. Jika Ia kehendaki, maka akan dikabulkan, dan jika Ia kehendaki pula akan tertahan.

Sedangkan satu majelis lagi mendalami fikih dan ilmu lain, lalu mereka mengajarkan kepada orang yang belum mengetahui. Mereka inilah yang lebih utama. Dan, aku diutus untuk menjadi seorang pengajar.”  Perawi berkata, “Kemudian Beliau duduk bersama mereka.”  (HR Darimi).

Sejatinya, Nabi SAW adalah mahaguru bagi para sahabat, tabiin, tabiit tabiin, dan semua guru sampai akhir zaman. Beliau menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu, baik fardhu 'ain maupun fardhu kifayah agar meraih kejayaan.

“Jadilah orang berilmu ('aaliman), atau orang yang menuntut ilmu (muta’alliman), atau orang yang gemar mendengar ilmu (mustami’an), atau orang yang senang pada ilmu (muhibban). Dan, janganlah jadi orang yang kelima, niscaya engkau akan celaka.” (HR Thabrani).  

Sebagian dari guru-guru tersebut memiliki kemampuan untuk menyerap keilimuan, kearifan, dan keteladanan Nabi SAW dengan baik. Mereka itulah guru besar atau ulama yang disebut pewaris para Nabi (HR at-Turmudzi).

Sebagian lagi, dengan kualifikasi dan kompetensi yang dimilikinya menjadi guru di lembaga pendidikan. Mereka mengabdi dengan tulus untuk mendidik anak-anak bangsa menjadi pemimpin umat pada masa depan. Walaupun belum mendapat apresiasi yang sepadan, bahkan sering kali menerima perlakuan yang merendahkan, mereka tetap ikhlas menjalani pengabdian.  

Profesi guru sejalan dengan misi kenabian, yakni mendidik manusia mengenal dan mengabdi hanya kepada Allah SWT.  Oleh sebab itu, seorang guru mesti suka membaca (tilawah), terus menyucikan diri (tazkiyatun-nafs), mengajar (taklim), dan merenungi makna setiap kejadian (hikmah) yang melahirkan kearifan (QS al-Jumu’ah [62]: 2).

Jika kita ingin meraih kejayaan, setidaknya harus memiliki tiga guru, yakni guru expert, guru spiritual, dan guru kehidupan (Jamil Azzaini, Tuhan Inilah Proposal Hidupku, 2009).

Pertama, guru expert, yakni orang yang ahli dan berpengalaman dalam bidangnya, sehingga layak menjadi rujukan. Jika kita salah dalam memilih guru expert, kita akan menghabiskan waktu tanpa pencapaian yang berarti (QS an-Nahl [16]: 43).

Kedua, guru spiritual, yakni orang yang tekun meniti jalan menuju Tuhan. Mereka mendalami ilmu syariat, tarikat, hakikat, dan makrifat untuk menyeimbangkan hidup duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual. Jika kita salah memilih guru spiritual, akan terpedaya oleh bisikan setan yang menyesatkan (QS al-Kahfi [18]: 104).

Ketiga, guru kehidupan, yakni orang yang meraih kesuksesan dalam harta, takhta, kata, dan cinta.  Mereka adalah guru-guru terbaik untuk menjadi orang kaya yang dermawan, penguasa yang amanah, perangkai bahasa yang indah, dan idola yang ramah. Jika kita salah memilih guru kehidupan, tidak akan meraih kejayaan dan ketenangan (QS an-Nahl [16]: 97).

Allahu a’lam bissawab.


×