Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
23 Nov 2021, 03:30 WIB

Bagai Baru Sesaat

Hanyalah sekumpulan angan-angan kenangan yang diterimanya bagai baru sesaat belaka.

OLEH PROF FAUZUL IMAN

Seluruh keinginanan manusia dengan kadar kapasitasnya yang amat terbatas, tidak mungkin ditumpahkan untuk memenuhi seluruh hajat kehidupannya di dunia sebebas-bebasnya, tanpa mengenal batas.

Umat manusia boleh sukses dengan kekayaannya yang melimpah ruah. Barang-barang mewah telah dimiliki, mulai rumah hingga kendaraan pribadi. Segala bentuk hiburan dan rekreasi tak kurang-kurang telah dinikmati.

Demikian pula, boleh jadi, umat manusia telah mencapai dan menikmati seluruh tahapan dan jenis kedudukan tinggi. Betapapun manusia telah menikmati semua itu di dunia sebagai alam makro yang telah difasilitasi Tuhan dengan lengkap dan dengan adikudrati kemanusiaanya, tetapi semua kenikmatan kepemilikan hidup itu akan menjadi terbatas pula melintas dan menghinggapi manusia.

Terkait

Sungguh semua itu hanya serial kepemilikian dan aktivitas sesaat belaka. Pada realitasnya di dunia ini saja umat manusia dikepung oleh satu titik jenuh ke titik jenuh lain; dicekam oleh permainan rutinitas cembung.

Hari ini manusia boleh berbangga dengan arogannya (kesombongannya) bersenang-senang di tempat duduk mobil-mobil mewah. Esoknya, ia mulai jenuh ingin berganti dengan mobil lain.

Gambaran kehidupan manusia yang arogan dan genit ini tak akan pernah bertahan sepanjang waktu. Umat manusia, sebagai sudah diuraikan di muka, dengan kelebihan adikudrotinya, mereka dengan kadar keterbatasannya yang diberikan Tuhan tak akan pernah mungkin alias mustahil menumpahkan keinginannya sejagat langit.

Tuhan telah menantang kepada siapa saja yang supersombong ingin bermain-main menumpahkan keinginan sejagatnya. “Atau apakah bagi umat manusia ingin mendapatkan segala yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allahlah kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS an-Najm [53]: 24-25).

Tuhan telah membuktikan di hamparan empiris bahwa pada ujungnya umat manusia hanya mampu menikmati sesaat dan sekelabatan saja. Cekaman rutinitas yang bertumpuk keletihan dan kejenuhan berlingkar-lingkar dari satu titik ke titik lain bila manusia tidak mensyukurinya. 

Bermain-main dari satu keinginan dan keinginan lain. Tidak menetapnya ke satu kebahagiaan hanyalah sekumpulan angan-angan kenangan yang diterimanya bagai baru sesaat belaka.

Inilah yang Tuhan gambarkan kelak di akhirat, “Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah dan mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (QS Yunus [10]: 45).

Wallahu a'lam.


×