KH Ahmad Dahlan, sang pendiri Persyarikatan Muhammadiyah. | DOK MUHAMMADIYAH

Tema Utama

21 Nov 2021, 05:26 WIB

Muhammadiyah: Kini dan Nanti

Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa berikhtiar maksimal dan bersama-sama menangani Covid-19.

OLEH MUHYIDDIN

Muhammadiyah telah menapaki usia 109 tahun. Selama lebih dari satu abad, gerakan tajdid itu terus menyinari umat Islam dan warga bangsa. Berbagai peran dan kontribusinya di ranah keislaman, pendidikan, sosial, maupun kesehatan masyarakat dapat dirasakan semua kalangan.

Pada kesempatan perayaan Milad ke-109, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengangkat tema “Optimis Hadapi Covid-19: Menebar Nilai Utama.” Dalam pidatonya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir menjelaskan, situasi pandemi memberi pelajaran yang berharga tentang pentingnya memelihara kehidupan.

Sebagaimana termaktub dalam tujuan syariat Islam (maqashidu asy-syariah), kehidupan yang patut dilestarikan itu berkaitan dengan perlindungan terhadap jiwa-raga (hifdz al-nafs), akal (hifdz al-'aql), harta (hifdz al-maal), dan keturunan (hifdz al-nasl). Segala relasi perlindungan itu harus dijaga dengan penuh pertanggungjawaban secara komprehensif di atas fondasi hidup beragama (hifdz ad-din). Dengan demikian, kemaslahatan umum insya Allah dapat tercapai.

Selain itu, pandemi pun menghadirkan ibrah tentang perlunya memantapkan pandangan dan sikap luhur yang berbasis nilai-nilai utama (al-qiyam al-fadhilah). Menurut Haedar, di antara nilai-nilai pokok yang niscaya dikembangkan ialah tauhid prokemanusiaan (at-tauhid li al-insani), pemuliaan manusia (at-takrim al-insani), persaudaraan dan kebersamaan (al-ukhuwwah wa al-jama‘iyyah), kasih sayang (at-tarahum), tengahan (al-wasathiyyah), kesungguhan berikhtiar (al-mujahadah), keilmuan (al-‘ilmiyyah), serta kemajuan (al-ḥadariyyah).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

“Nilai-nilai utama tersebut dapat dijadikan dasar orientasi dalam menyikapi pandemi, sekaligus mengembangkan sikap luhur pascapandemi karena sangat bermakna bagi kehidupan bersama umat manusia,” katanya menegaskan.

Maka dari itu, Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus berikhtiar secara maksimal dan bersama-sama. Dengan merekatkan solidaritas, Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan optimisme kolektif. Spirit gotong royong pun penting agar negeri ini tangguh dalam menghadapi setiap tantangan, baik selama maupun sesudah merebaknya pandemi.

“Muhammadiyah berharap, Milad ke-109 ini sebagai momentum membangkitkan opitmisme bagi seluruh warga bangsa. Bhwa kita bisa mengatasi pandemi ini dengan terus berikhtiar maksimal secara bersama,” ujar Prof Haedar kepada Republika, beberapa waktu lalu.

“Bagi Muhammadiyah sendiri, Milad menjadi inspirasi untuk terus menebar nilai dan peran positif bagi bangsa dan dunia kemanusiaan semesta. Dengan semangat memberi, tanpa meminta. Demi tegaknya kemajuan hidup bersama,” sambung guru besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Etos tajdid

Dalam siklus kehidupan manusia, ada fase-fase kelahiran, pertumbuhan, dewasa, dan akhirnya menua. Usia 100 tahun tentunya tidak bisa dikatakan muda. Umur yang sama pun dapat dianggap tua bagi sebuah organisasi. Yakni, apabila para insan di dalamnya tidak bisa merawat elan vital, sebagaimana yang dicanangkan pendirinya.

Bagi Muhammadiyah, Milad ke-109 merupakan momentum untuk sekali lagi menumbuhkan spirit kemajuan. Haedar Nashir mengatakan, organisasi masyarakat (ormas) Islam ini akan selalu menjaga etos pembaharuan (tajdid).

“Muhammadiyah niscaya merekonstruksi etos tajdidnya secara lebih dinamis dengan mengembangkan pemikiran keislaman yang holistik-integralistik, antara pendekatan bayani (tekstual), burhani (ilmiah-kontekstual), dan irfani (ruhani-spiritual) yang interkoneksi sesuai problem dan tantangan zaman,” katanya memaparkan.

Muhammadiyah pada hakikatnya ialah gerakan tajdid. Hal ini sudah tampak jelas sejak ormas ini didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 silam. Dengan menghadirkan kebaruan, akan ada tantangan yang niscaya harus dihadapi. Pada akhirnya, pembaruan memancarkan maslahat bagi semua pihak.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Persyarikatan Muhammadiyah (lensamu)

Perjuangan Kiai Ahmad Dahlan dapat menjadi teladan. Mubaligh yang kini dijuluki Sang Pencerah itu mulanya harus menghadapi pelbagai penolakan dari sebagian kalangan. Umpamanya, ketika sang kiai membetulkan arah kiblat masjid. Saat mendirikan sekolah pun, suami Siti Walidah itu sempat dicibir beberapa orang.

Bagaimanapun, efek bola salju yang ditimbulkan Muhammadiyah tidak terbendung. Hingga akhir hayatnya, Kiai Dahlan menyaksikan bagaimana organisasi yang dirintisnya itu tumbuh berkembang, menebar manfaat kepada sebanyak-banyaknya orang. Ini sejalan dengan salah satu sifat ajaran Islam, yakni rahmatan lil ‘alamin.

Puluhan tahun setelah Muhammadiyah menyemai benih pembaruan, di kemudian hari banyak golongan Islam yang mengikuti jejaknya. Bahkan, bagi kelompok tradisional yang dahulu menentangnya. Dari perjuangan Kiai Dahlan, tampaklah bahwa Islam hadir di tengah zaman-baru sehingga sungguh memerlukan tajdid atau pembaruan.

Kini, semangat yang digelorakan Sang Pencerah terus dihayati para pimpinan organisasi dan seluruh warga Muhammadiyah. Haedar mengatakan, seluruh daya gerakan keislaman ini terus bergerak untuk meningkatkan kualitas sumber daya insani Muhammadiyah.

Di samping itu, ikhtiar mereka untuk terus melahirkan pusat-pusat keunggulan, memperluas jelajah perjuangan persyarikatan menuju kemajuan dalam pelbagai ranah kehidupan.

“Jadikan Milad sebagai momentum terbaik, pintu mengembangkan dakwah, tajdid, dan ijtihad kolektif guna mendorong semangat tagahyar (perubahan), tanwir (pencerahan), dan taqadam (kemajuan). Untuk membangun Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan di ranah lokal, nasional, dan global,” jelas cendekiawan kelahiran Bandung, Jawa Barat, itu.

Amar ma’ruf

Haedar menekankan, Muhammadiyah sampai kapan pun terus konsisten dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Itu tidak identik dengan konfrontasi atau kekerasan, lebih-lebih berdasar persepsi pribadi. Yang jelas, setiap insan Muhammadiyah sudah ditempa untuk memahami, mana yang prinsip dan mana yang bukan prinsip dalam jalan dakwah.

“Muhammadiyah atau juga yang lain tidak dapat mengambil dan menyelesaikan semua urusan kemasyarakatan dan kebangsaan sendirian,” ucapnya.

Muhammadiyah memiliki fikih dakwah yang moderat. Dengan perkataan lain, tidak ekstrem. Dalam hal ini, jelasnya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan ormas tersebut. Pertama, pandangan amar ma’ruf nahi munkar adalah hasil musyawarah atau keputusan organisasi, bukan perorangan.

 
Jangan menggunakan institusi organisasi dan atribut milik Muhammadiyah. Muhammadiyah punya prinsip dan cara sendiri
PROF HAEDAR NASHIR
 

Kedua, caranya sesuai prinsip dakwah serta kepribadian dan khittah. Ketiga, saluran dan tujuannya jelas sesuai mekanisme organisasi, bukan perorangan. Keempat, selalu mempertimbangkan kepentingan organisasi dan kemaslahatan umum. Adapun yang terakhir, berdakwah dilakukan dengan banyak cara dan pendekatan sehingga hasilnya tidak bisa sekali jadi.

“Karena itu, misalnya, bila (anggota) ingin melakukan perjuangan politik dan memiliki orientasi tertentu yang bersifat pribadi dalam gerakan politik—lalu dengan menggunakan (semboyan) amar ma'ruf nahi munkar--maka tempuhlah melalui parpol (partai politik) atau saluran pribadi,” jelasnya.

“Jangan menggunakan institusi organisasi dan atribut milik Muhammadiyah. Muhammadiyah punya prinsip dan cara sendiri,” sambung Haedar lagi.

Entrepreneurship

Ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas mengingatkan, perjuangan Muhammadiyah bergerak dalam berbagai lini, termasuk pembangunan ekonomi masyarakat. KH Ahmad Dahlan pun dalam setiap dakwahnya kerap mengajarkan para murid untuk mandiri secara ekonomi. Semangat entrepreneurship pun nyata di Muhammadiyah pada generasi awal. Pada 1916, umpamanya, kaum saudagar pernah mencapai 47 persen dari total anggota Persyarikatan.

Buya Anwar mengakui, tidak mudah untuk mewujudkan keadaan tersebut pada masa sekarang. Ia mengatakan, orang-orang—termasuk generasi muda—saat ini cenderung bermental karyawan. Jiwa bisnis mungkin ada, tetapi belum kuat betul.

“Ternyata, untuk menghijrahkan anak-anak kita dari employee mentality kepada entrepreneur mentality itu memang tidak mudah. Sebab, orang tua, lingkungan dan dunia pendidikan kita tidak mendukung,” katanya kepada Republika baru-baru ini.

photo
Persyarikatan Muhammadiyah terbentuk pada tanggal 18 November 1912 Masehi atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah. - (DOK MUHAMMADIYAH)

Ia pun berharap, Muhammadiyah terutama dalam periode mendatang bisa memberikan perhatian lebih pada terciptanya entrepreneurship dan intrapreneurship mentality, khususnya di kalangan warga Persyarikatan. Buya Anwar menjelaskan, selama ini sudah ada dua pilar utama yang menyangga perjuangan Muhammadiyah, yaitu pendidikan dan pelayanan sosial/kesehatan. Menapaki usia 109 tahun, ormas ini diharapkan mampu pula memunculkan pilar ekonomi dan bisnis.

Dia mengatakan, selama ini Muhammadiyah lebih dikenal lantaran memiliki banyak sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit. Untuk ke depannya, ulama berdarah Minangkabau ini berharap, Persyarikatan pun masyhur sebagai ormas Islam yang punya sentra-sentra bisnis. Umpamanya, hotel syariah, restoran, kuliner, transportasi, kawasan industri, dan lain-lain. Akan lebih baik lagi bila pusat-pusat keunggulan itu dimotori anak-anak muda.

“Dan kalau ini (munculnya pengusaha muda –Red) terus digemakan, dibina dan ditempa, maka insya Allah the glorious era of Muhammadiyah bisa terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ujarnya.

photo
Acara Resepsi Milad ke-109 Muhammadiyah di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kamis (18/11). Pada Milad Muhammadiyah kali ini mengangkat tema Muhammadiyah optimis hadapi pandemi dan komitmen menebar nilai utama. - (DOK REP Wihdan Hidayat)

Ikhlas sebagai kunci

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah. Jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah.” Itulah kata-kata yang mengandung makna filosofi asketik. Di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, entah siapa yang memulai, ungkapan tersebut sangat sering diucapkan atau dibicarakan.

Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti, keikhlasan merupakan salah satu watak yang harus diasah dan dipelihara. Dengan segala keberhasilan dan kekurangan yang ada, warga Muhammadiyah diharapkan tetap teguh dengan identitas gerakan. KH Ahmad Dahlan, sang pendiri organisasi ini pun, memberikan teladan tentang pemikiran dan sikap lillahi ta’ala dalam berjuang.

“Warga Muhammadiyah hendaknya memelihara keikhlasan dan meningkatkan jiwa pelayanan sebagai spirit utama dalam berdakwah di berbagai bidang kehidupan,” kata Abdul Mu’ti beberapa waktu lalu.

 
Dengan mental nirpamrih, dakwah yang dilakukan pun akan konsisten mencerahkan, menggerakkan, serta memajukan umat dan bangsa sesuai dengan nilai-nilai Islam.
 
 

Dengan mental nirpamrih, dakwah yang dilakukan pun akan konsisten mencerahkan, menggerakkan, serta memajukan umat dan bangsa sesuai dengan nilai-nilai Islam. Adapun pencerahan yang dimaksud berangkat dari semangat pembaruan (tajdid). Segala bentuk kebekuan berpikir atau kejumudan ditinggalkan. Sebab, hal-hal itu bisa menghalangi diri dan masyarakat—khususnya kaum muda—dari upaya peningkatan kualitas, yakni melalui dialog atau dialektika.

“Sebagai kader persyarikatan, umat, dan bangsa, generasi muda Muhammadiyah dituntut untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri,” ucapnya.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan, sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna persyarikatan, para kader Muhammadiyah hendaknya juga membekali diri dengan berbagai keterampilan dan kompetensi unggul yang diperlukan dalam kehidupan masa kini dan mendatang.

“Kader Persyarikatan hendaknya bisa menjadi cermin dan teladan bagi generasi muda pada umumnya, terutama dalam kepribadian atau karakter, pengabdian kepada masyarakat, serta kepeloporan dalam berbagai bidang yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat dan bangsa,” jelasnya.


×