Dyah Puspitarini menjadi tokoh penggerak tren menurunnya angka stunting di Indonesia. | Putra M Akbar/Republika
21 Nov 2021, 03:38 WIB

Jaga Generasi Bangsa dari Stunting

Kita memperjuangkan isu stunting ini di DPR.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Kesehatan menjadi faktor krusial untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Stunting alias kejadian balita kerdil menjadi salah satu tantangan yang harus dijawab untuk menyambut generasi emas pada 2045 nanti.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, persentase stunting meningkat dari 2016 sampai 2017 yakni 27,5 persen. Setelah 2017, angka ini cenderung menurun. Hingga sekarang, angkanya kembali meningkat hingga 28 persen.

Terkait

Dyah Puspitarini (37 tahun) menjadi salah satu tokoh penggerak tren menurunnya angka stunting di Indonesia. Sejak 2017, Ketua Umum Nasyiatul 'Aisyiyah itu kerap menyuarakan pentingnya pemenuhan gizi yang baik dan kewaspadaan Indonesia terhadap ancaman stunting.

“Sejak 2017, kita memperjuangkan isu stunting ini di DPR. Bolak-balik bertemu dengan berbagai komisi, sehingga akhirnya isu stunting ini dapat dianggarkan pemerintah dan mendapatkan perhatian juga oleh pemerintah kita,” kata Dyah saat dihubungi Republika, Rabu (17/11).

Dyah menjelaskan, kewaspadaan masyarakat terhadap isu stunting harus terus disuarakan. Fenomena ini merupakan hal paling dekat dengan kaum ibu dan anak.

Tak pelak, mereka merupakan kunci hadirnya generasi bangsa yang berkualitas. Dia menegaskan, pemicu stunting adalah permasalahan pemenuhan gizi yang sebetulnya sangat ringan dan sepele. Namun dampaknya justru sangat merugikan apabila dibiarkan terus-menerus.

Bersama Nasyiatul 'Aisyiyah, Dyah meyakini bahwa menjaga generasi bangsa bisa dilakukan dengan cara-cara mengaktualisasikan diri dalam nafas dakwah. Dia pun mencoba menekankan dan memvisualisasikan dalam setiap kesempatan bahwa stunting adaah pekerjaan komisi perdesaan, komisi kesehatan, komisi agama, dan komisi lainnya.

 
Kultur masyarakat kita yang masih mau mendengar para tokoh agama, maka isu stunting ini juga bagian dari dakwah.
 
 

“Kami melihat ya, kalangan agama juga mempunya peran untuk menyuarakan ini. Karena kita lihat kultur masyarakat kita yang masih mau mendengar para tokoh agama, maka isu stunting ini juga bagian dari dakwah yang harus terus disuarakan,” ujar dia.

Pada masa yang akan datang, dia berharap,  kasus stunting di Indonesia bisa menjadi nol persen. Menurut dia, harapan tersebut dapat dicapai apabila pelibatan kaum laki-laki  diikutsertakan. 

Mencintai organisasi

Sedari kecil, Dyah telah dekat dengan dunia organisasi. Latar belakang keluarganya yang merupakan organisatoris di lingkup Muhammadiyah menjadikan Dyah begitu terbiasa dengan dunia aktivis.

“Karena keluarga saya juga organisatoris, jadi saya sudah ada idola (contoh yang dilihat). Alhamdulillah orang tua saya justru memfasilitasi saya untuk berorganisasi. Bahkan waktu ikut IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), ayah saya itu nganterin saya rapat,” kata dia.

Menurut Dyah, organisasi merupakan nafas penting dalam upaya membentuk sebuah masyarakat yang berperadaban. Baginya, perempuan yang berorganisasi merupakan cara untuk mengaktualisasikan diri agar dapat bermanfaat bagi orang lain.

Di samping itu, organisasi menjadi lahan dakwah dan medium penunjang ketakwaan berbasis universal yang dapat diterima siapapun.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PP Nasyiatul Aisyiyah (ppnasyiah)

 

PROFIL

Nama lengkap: Dyah Puspitarini

Tempat, tanggal, lahir: Gunung Kidul, 19 Januari 1984

Riwayat pendidikan: Bachelor graduate Counseling Guidance Faculty of Education Yogyakarta State University (2008), Magister of Education Ahmad Dahlan University (2014), Doctoral Education Management Yogyakarta State University (2018-present).

Riwayat aktivitas: Nasyiatul Aisyiyah Zero Stunting Family Pioneer Cadre Instructor in TOT Nasyiatul Aisyiyah Central Leader IMA World Health (2018), Responsible for the Movement to Improve Balanced Nutrition, Presenter of Religious Leaders and Community Leaders activities to prevent stunting in the echibition of religious activities and social issues of the 10th Religion for Peace world forum in Lindau, Germany (2019).


×