Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
20 Nov 2021, 03:45 WIB

Pintu ke Mana Saja Itu Bernama Buku

Buku sebagai jendela dunia menjadi semacam “Pintu Ke Mana Saja” dalam manga.

OLEH ASMA NADIA

Senang sekali menyaksikan film Indonesia menjadi pembuka di ajang Jakarta Film Week, salah satu festival film dunia yang berlangsung 18-21 November 2021.

Dibuka Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, ada kalimat beliau --sebuah harapan tepatnya-- yang saya yakin diam-diam diaminkan para sineas dan pencinta film Indonesia yang saat itu hadir. “Film kita menjadi tuan di negeri sendiri dan tamu memesona di negeri orang…”      

Setidaknya, studio berkapasitas 420 penonton yang terisi penuh menjadi pertanda baik. Sejujurnya, ini pertama kali saya kembali ke bioskop setelah pandemi. Ditemani adik, kami menikmati garapan penulis skenario dan sutradara favorit saya, Alim Sudio dan Guntur Soeharjanto.

Terkait

Durasi 135 menit tak terasa membosankan. Novel karya A Fuadi tergarap ciamik. Inspirasi kebaikan betebaran menghangatkan hati, tanpa terjebak menggurui. Wajar menjadi tontonan pembuka pada perhelatan besar yang menampilkan 70 film dari 30 negara.

 
Jika menampilkan tarian atau nyanyian boleh, mengapa peserta lalu tidak boleh menunjukkan tulisan yang telah dimuat media massa atau dibukukan?
 
 

Sesekali saya berbisik di telinga adik yang mendampingi. Hal-hal yang saya suka, misalnya, akting pemain, baik jajaran aktor aktris muda maupun senior. Isu Palestina yang digarap cukup kuat hingga tidak terkesan tempelan.

Sinematografi istimewa memanjakan mata sebab mengangkat pesona tiga negara, Indonesia, Yordania, Kanada, dan lain-lain. Namun, satu hal  yang saya lingkari dengan tinta merah di dalam benak. Film Ranah 3 Warna bagi saya mengangkat kekuatan pena dan harkat penulis. 

Tulisan sebagai karya anak bangsa seharusnya dihargai sebagai bentuk kesenian. Sejajar dengan seni suara, musik, dan tari-tarian yang biasanya menjadi syarat yang harus ditunjukkan peserta kandidat program semacam pertukaran pelajar.

Jika menampilkan tarian atau nyanyian boleh, mengapa peserta lalu tidak boleh menunjukkan tulisan yang telah dimuat media massa atau dibukukan?

Maka itu, berharap sekali film ini menggugah anak-anak muda kita menapaki dunia literasi. Meningkatkan semangat membaca dan setelahnya, menulis. Latar belakang saya dan A Fuadi mirip. Sama-sama dari keluarga sederhana bahkan minus.

Sama-sama mendapatkan tiket untuk melanglang buana melalui tulisan-tulisan kami yang kemudian diterbitkan.

 
Sering saya sampaikan dalam berbagai acara kepenulisan bahwa penulis, profesi yang bisa ditekuni siapa saja tanpa harus mengantongi jalur formal pendidikan.
 
 

Buku sebagai jendela dunia —benar-benar menjadi semacam Dokodemodoa atau “Pintu Ke Mana Saja” dalam manga atau anime Doraemon yang telah memungkinkan kami sampai ke puluhan negara, serta ratusan kota di dunia.

Saya percaya, tak hanya kami. Buku, baik yang ditulis maupun dibaca, pastinya mementaskan banyak sosok sederhana untuk meraih tempat-tempat yang sebelumnya tak terbayangkan ada dalam jangkauan.

Sering saya sampaikan dalam berbagai acara kepenulisan bahwa penulis, profesi yang bisa ditekuni siapa saja tanpa harus mengantongi jalur formal pendidikan.

Sedikit dari profesi yang tak memerlukan surat sakti dan nyaris tanpa diskriminasi, apalagi terkait penampilan fisik. Kendaraannya adalah kekayaan bacaan dan imajinasi selain tekad yang dibasuh kesabaran dan kegigihan.

Saat diundang sebagai penulis tamu di Hong Kong Baptist University dan diminta memberikan sambutan sebagai juri lomba cerpen di sana, salah satu yang saya tekankan, penulis merupakan profesi yang bahkan bila hanya menulis satu buku, potensi penghasilannya tetap berkali-kali.

Penghasilan penulis tidak berhenti ketika cerpen atau cerita bersambungnya dimuat di media. Jika cerbung itu terbit dalam bentuk novel, meski sang penulis telah mendapatkan honor pemuatan cerbung, dia tetap berhak memperoleh royalti dari penerbit.

Jika ada penerbit asing yang tertarik menerbitkan di negerinya, penulis pun memiliki hak royalti terjemahan, meski bukan dia sendiri yang menerjemahkannya.

 
Mengingat tulisan memiliki sifat keabadian, ada apresiasi lain yang jauh lebih besar.
 
 

Apakah peluang seorang penulis kemudian berhenti di sana? Tidak. Sebab, ketika novelnya diangkat ke layar sinetron atau layar lebar, ada penghargaan lain dari rumah produksi untuk si penulis, walaupun bukan dia yang mengerjakan skenarionya.

Kerja penulis hanya saat menghadirkan karyanya pertama kali. Bayangkan jika seorang pengarang menulis berjudul-judul buku. Lalu, apakah penghasilan penulis selesai setelah diterbitkan media massa, dibukukan, diterjemahkan, atau dialihkan ke serial televisi ataupun film?

Mengingat tulisan memiliki sifat keabadian, ada apresiasi lain yang jauh lebih besar. Bagi kami yang Muslim, ada cercah harapan jika karya dituliskan dengan ikhlas, lalu semangat kebaikan di dalamnya terus menyapa lebih banyak orang, menggerakkan mereka untuk berubah lebih baik walau hanya lewat satu langkah kecil sederhana.

Semoga pahala kebaikannya menyambangi penulisnya. Maka jangan berhenti menulis dan menciptakan kisah-kisah yang baik.

Sesungguhnya royalti abadi dengan nominal tak terbilang yang Allah curahkan kepada para penulis --juga kreator karya-karya baik lainnya-- menanti. Tetap mengalir meski pengarangnya telah lama menutup mata.  

Ya, tulisan, buku-buku yang kita hadirkan, bukan sekadar rekam jejak, keterampilan memilih dan memainkan diksi, bukan sekadar kerja yang melibatkan imajinasi. Ia tabungan dengan profit jangka panjang  hingga akhirat kita. Insya Allah. 


×