Presiden Joko Widodo (kedua kanan) dan Ganjar Pranowo (tengah). | Antara/Aji Styawan

Nasional

17 Nov 2021, 03:45 WIB

CSIS: Ganjar Berpotensi Ditampung Nasdem dan Golkar

Arya menyampaikan tak menutup kemungkinan PDIP tetap akan mengusung Ganjar di Pilpres 2024.

JAKARTA -- Kepastian Ganjar Pranowo diusung PDIP pada pemilihan presiden (pilpres) 2024 mendatang masih belum terlihat jelas. Peneliti Center for Strategic International Studies (CSIS), Arya Fernandes, menilai Ganjar Pranowo berpotensi ditampung partai lain apabila tidak diusung PDIP.

"Kalau ditanya partai mana yang berpotensi, ya saya kira dua partai, pertama itu NasDem, yang kedua itu adalah Golkar," kata Arya saat dikonfirmasi Republika, Selasa (16/11).

Namun demikian, ia menilai PDIP tidak  mungkin memberikan kepastian mencalonkan Ganjar dalam waktu dekat. Ia menduga PDIP akan menginformasikan siapa yang akan didukung di menit-menit akhir.

"Dengan kondisi gitu, posisi Pak Ganjar itu dilematis dan posisi sulit. Sekarang tergantung Pak Ganjar, apakah dengan posisi ketidakpastian itu, ini nggak pasti akan didukung PDIP, apakah dia berani maju dari partai lain," ujarnya.

Kendati demikian, ada konsekuensi yang harus diterima NasDem dan Golkar jika ingin menggaet Ganjar. Jika NasDem mau menerima Ganjar maka gubernur Jawa Tengah harus bersedia mengikuti konvensi capres NasDem.

"Kalau konvensi jadi dilakukan NasDem, pertanyaannya apakah Ganjar bersedia atau nggak ikut konvensi? Kan nggak mungkin tiba-tiba NasDem mencalonkan orang yang tidak ikut konvensi. Kepastian NasDem mau calonkan Ganjar tergantung apakah Ganjar mau ikut konvensi atau nggak. Kalau nggak ikut, nggak mungkin mencalonkan NasDem," jelasnya.

Sementara itu, Arya meragukan Golkar bakal mengusung Ganjar sebagai capres selama Golkar tetap kokoh mencalonkan ketua umumnya Airlangga Hartarto. Arya menuturkan jika Ganjar tetap dicalonkan oleh Golkar untuk posisi wakil, maka konsekuensinya Ganjar belum tentu mau ditempatkan sebagai nomor 2.

"Dengan elektabilitas dia dibandingkan Airlangga itu bisa sembilan sampai 10 kali lipat itu. Apa Ganjar mau di nomor 2? Itu juga persoalan yang mungkin terjadi," tuturnya.

Selain itu, Arya menyampaikan tak menutup kemungkinan PDIP tetap akan mengusung Ganjar di Pilpres 2024. Menurutnya keputusan PDIP tersebut tergantung dari pasangan calon yang diajukan koalisi partai lain di 2024 dan juga elektabilitas Puan Maharani.

"Kalau kandidat partai lain di luar PDIP mencalonkan calon populer misalnya sekarang ada Prabowo, ada Anies, dua nama itulah. Kalau calon populer itu diusung oleh partai lain, kemungkinan PDIP akan dukung Ganjar. Kenapa? Kalau Puan bertarung dengan Prabowo dan Anies, potensi kalahnya lebih besar, pasti PDIP akan realistis. Kedua itu soal apakah dalam 1 tahun ke depan Puan bisa tembus 10 persen atau nggak. Kalau Puan bisa tembus 10 persen dan trennya naik, peluang Ganjar tipis," jelasnya.

photo
Presiden Joko Widodo dan Ganjar Pranowo - (Tahta Aidila/Republika)

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung merasa perlu mengklarifikasi pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Golkar lainnya Nurdin Halid yang sebelumnya mengatakan siap menampung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2024. Doli menegaskan, Golkar akan mengusung Airlangga Hartarto sebagai calon presiden.

"Sampai sejauh ini Golkar tidak ada perubahan kebijakan dlm menghadapi pilpres, kami sudah putuskan bahwa capres dari Golkar itu Pak Airlangga Hartarto," ujar Doli kepada wartawan, Sabtu (13/11).

Partai Golkar, kata Doli, tengah melakukan komunikasi politik dengan partai lain dalam membentuk koalisi untuk Pilpres 2024. Termasuk kepada sosok-sosok potensial lainnya yang masuk ke dalam bursa capres.

Pada Kamis (11/11) pekan lalu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurdin Halid menyambut baik fenomena banyaknya relawan yang mendukung Ganjar sebagai capres 2024. Jika Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tak memberikan posisi tersebut, partainya disebut siap menampungnya.

"Kalau Ganjar tidak ada tempat di partai, Golkar terbuka. Apakah di nomor satu (capres) atau nomor dua (cawapres)? itu soal nanti," ujar Nurdin. ';

×