Pekerja menata jeriken minyak goreng di agen penjualan minyak goreng di Jakarta, Senin (1/11). Harga minyak goreng di tingkat konsumen dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan signifikan. Kemendag menyampaikan, kenaikan yang dirasakan masyarakat a | Prayogi/Republika.

Ekonomi

15 Nov 2021, 09:32 WIB

Kemendag Gelontorkan Minyak Goreng Harga Khusus

Minyak goreng kemasan seharga Rp 14 ribu per liter sudah mulai tersedia.

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menggelontorkan minyak goreng dengan harga khusus ke pasar. Upaya tersebut merupakan strategi stabilisasi harga minyak goreng dalam jangka pendek. Kemendag bersama dunia usaha akan menyediakan 11 juta liter minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu per liter.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, langkah jangka pendek itu sudah dibicarakan antara produsen minyak goreng dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Produsen minyak goreng itu terdiri atas Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) dan Asosiasi Industri Minyak Nabati Indonesia (AIMNI).

"(Produsen minyak goreng) bekerja sama dengan Aprindo menyediakan 11 juta liter minyak goreng dalam bentuk kemasan sederhana. Lalu dijual dengan harga di bawah pasar, yaitu Rp 14 ribu per liter," ujar Oke kepada Republika, Ahad (14/11).

Oke menyatakan, program tersebut akan segera direalisasikan dalam waktu dekat. Akan tetapi, di beberapa toko ritel, minyak goreng kemasan seharga Rp 14 ribu per liter itu sudah mulai tersedia.

Oke menegaskan, pemerintah akan memastikan ketersediaan minyak goreng di dalam negeri. Meski begitu, pergerakan harga minyak goreng sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar terutama harga minyak sawit (CPO).

"Saat ini harga minyak goreng sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga CPO," kata dia.

Pergerakan harga minyak goreng dinilai berkorelasi dengan pergerakan inflasi di sejumlah negara. Tingkat inflasi di beberapa negara, seperti Cina dan AS mulai bergerak naik seiring terjadinya pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memperkirakan, kenaikan inflasi di Indonesia bisa menyentuh level 4,5 persen secara year-on-year (yoy) pada 2022 mendatang.

Menurut Bhima, kenaikan inflasi dapat berdampak pada sejumlah hal antara lain risiko penyesuaian suku bunga acuan. "Bahkan, inflasi juga bisa memicu terjadinya kelangkaan barang, risiko penimbunan dan juga meningkatnya angka kemiskinan," kata Bhima.

Ketika terjadi inflasi, kata Bhima, dampak yang perlu dikhawatirkan adalah transmisi dari kenaikan harga komoditas terhadap biaya produksi dan barang-barang yang dijual secara ritel. Bhima menilai, saat ini kenaikan inflasi sudah mulai terlihat dalam pergerakan harga minyak goreng.

Harga minyak goreng naik karena biaya bahan baku minyak sawit mentah atau CPO secara global meningkat signifikan. Kenaikan juga terjadi pada beberapa harga komoditas energi, seperti BBM, tarif listrik, dan LPG yang pada 2022 diperkirakan akan mengalami penyesuaian harga.

Pada saat yang bersamaan, lanjut Bhima, penjual atau produsen akan meneruskan setiap kenaikan biaya produksinya kepada harga di level konsumen. Di sisi lain, kondisi konsumen masih belum pulih secara merata. Hal tersebut justru akan berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat.

Apabila hal ini terjadi, menurut Bhima, produsen akan kembali terkena dampaknya. Opsi penyesuaian harga akan berimbas pada penurunan omzet. "Kelompok masyarakat yang paling bawah, pemulihannya lebih lambat dibandingkan kelompok lainnya sehingga mereka akan mengurangi pembelian barang," kata Bhima.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyampaikan, terdapat penurunan produksi minyak sawit nasional pada September 2021. Seiring dengan penurunan produksi, harga minyak sawit masih stabil tinggi.

Direktur Eksekutif Gapki, Mukti Sardjono, mengatakan, produksi CPO Indonesia pada September 2021 mencapai 4.176 ribu ton. "(Produksi) turun sekitar 1 persen dibandingkan Agustus dan masih belum naik seperti yang diharapkan," kata Mukti.

Tak hanya Indonesia, ia menyampaikan, penurunan produksi juga terjadi di Malaysia yang dilaporkan turun 0,39 persen dari produksi pada Agustus. Nilai ekspor produk minyak sawit juga turun menjadi 3,11 miliar dolar AS dari 4,43 milliar dolar AS pada Agustus.

"Dengan produksi rendah dan ekspor yang turun, stok akhir September minyak sawit Indonesia masih naik menjadi 3,65 juta ton dari 3,43 juta ton pada Agustus," ujarnya.


×