Warga menggunakan ban dalam saat menembus banjir luapan Sungai Belutu dan banjir rob di kawasan Sei Rampah, Serdang Bedagai, Sumatra Utara, Sabtu (13/11/2021). Banjir yang melanda kawasan tersebut sudah terjadi sejak dua pekan terakhir dan telah merendam | ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/wsj.

Kabar Utama

15 Nov 2021, 03:55 WIB

Waspadai Peningkatan Risiko Bencana

Petani mengalami gagal panen akibat lahan pertanian terdampak banjir. 

JAKARTA -- Masyarakat harus semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana di tengah musim penghujan. Sebab, musibah banjir dan longsor di berbagai daerah yang terjadi belakangan ini telah menimbulkan sejumlah korban jiwa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi, hujan dengan intensitas sedang bakal terus terjadi hingga Desember 2021. BMKG memperkirakan kondisi tersebut akan terjadi hingga pekan pertama Desember. 

"Pada November II-Desember I 2021 umumnya diprakirakan curah hujan berada di kriteria rendah hingga menengah (0 -150 mm/dasarian)," kata Kepala Bidang Diseminasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko, di Jakarta, Ahad (14/11).

Hary menjelaskan, BMKG memprakirakan ada sejumlah daerah yang bakal mengalami hujan dengan kategori tinggi atau di atas 150 mm/dasarian pada November ini. Wilayah itu meliputi Jawa Tengah bagian utara hingga Jawa Timur bagian utara.

Hujan dengan intensitas tinggi juga berpotensi terjadi di Kalimantan Timur bagian tengah, Sulawesi Selatan bagian utara, Papua Barat bagian timur, dan Papua bagian tengah.

photo
Warga menyelamatkan barang-barang yang terendam banjir akibat luapan Sungai Belutu dan banjir rob di kawasan Sei Rampah, Serdang Bedagai, Sumatra Utara, Sabtu (13/11/2021). Banjir yang melanda kawasan tersebut sudah terjadi sejak dua pekan terakhir dan telah merendam empat Kecamatan serta diperkirakan sebanyak 5.600 rumah warga terdampak. - (ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/wsj.)

Dia melanjutkan, cuaca tersebut akan berlanjut ke Papua bagian tengah pada November pekan ketiga hingga Desember pekan pertama.

Selama dua hari ke depan, BMKG juga memperkirakan sejumlah daerah yang bakal dihantam hujan lebat disertai kilat dan angin kencang. Wilayah itu yakni kepulauan Riau, Bengkulu Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung dan pulau Jawa termasuk Jakarta.

Sepanjang November ini, sudah ada lebih dari 10 korban jiwa akibat bencana banjir dan longsor di berbagai daerah. Terbaru, bencana tanah longsor di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, pada Kamis (11/11), menimbulkan satu korban jiwa. Insiden tanah longsor tersebut terjadi di Desa Rumah Kinangkung, Kecamatan Sibolangit.

Sebelumnya, banjir bandang di Kota Batu, Jawa Timur, pada awal November tercatat menimbulkan tujuh korban jiwa. Kemudian, musibah banjir di Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, menyebabkan dua warga meninggal dunia. 

Saat ini, lebih dari 33 ribu jiwa masih mengungsi akibat banjir hebat yang melanda Kabupaten Sintang. Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) pada Sabtu (13/11) menyatakan, meskipun banjir dari luapan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi itu mulai surut, banjir yang menerjang sejak pertengahan Oktober itu masih merendam 12 wilayah kecamatan. 

Petugas BPBD Sintang, Fidelis Asdi mengatakan, penurunan debit sungai sudah terpantau sejak Jumat (12/11), dengan rata-rata penurunan di kisaran 10-15 sentimeter. "Akan tetapi, penurunan tersebut tak signifikan. Karena, banjir masih merendam rumah-rumah penduduk di 12 kecamatan," kata Fidelis dalam siaran pers BNPB. 

Laporan dari BPBD kepada BNPB juga menyebutkan bahwa jumlah warga yang mengungsi masih masif. Tercatat sampai Sabtu (13/11), banjir yang melanda mendesak 33.221 jiwa dari 10.381 kepala keluarga (KK) eksodus ke pos-pos pengungsian. “Mereka yang mengungsi ini, kebanyakan dari sembilan kecamatan terparah banjir,” ujar Fidelis. 

Para pengungsi tersebut tersebar di 32 pos pengungsian, yang berada di 12 kecamatan wilayah banjir. BPBD setempat telah mendirikan lima pos pemantauan lapangan khusus. 

Satuan tugas (Satgas) penanganan bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor (Bantingsor) Sintang telah melakukan rapat evaluasi terkait penanganan banjir yang berkaitan dengan data dan dampak banjir yang terjadi selama 21 hari di wilayah Sintang Kalimantan Barat.

"Sudah 21 hari banjir di Sintang belum ada tanda-tanda debit air surut secara signifikan, kita mesti meningkatkan kewaspadaan," kata Ketua Satgas Penanganan Bantingsor Sintang Yosepha Hasnah, di Sintang, Kalbar, akhir pekan lalu. 

Yosepha mengatakan, banjir yang melanda Kabupaten Sintang terjadi sejak 23 Oktober. Bahkan, kawasan hulu seperti Serawai, Ambalau, Kayan Hulu, dan Kayan Hilir sedang banjir besar.

photo
Sejumlah warga dan kendaraan memadati ruas jalan Sintang-Putussibau yang putus akibat terendam banjir di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Sabtu (13/11/2021). BPBD Kabupaten Sintang menyatakan banjir masih merendam beberapa kecamatan di daerah setempat, meski demikian banjir telah surut 10 hingga 15 sentimeter pada Jumat (12/11/2021). - (ANTARA FOTO/Jane Elisabeth Wuysang/jhw/wsj.)

"Jadi kita wajib waspada, karena informasi BMKG dan BNPB bahwa puncak La Nina pada Januari-Februari 2022 mendatang," ucap Yosepha yang juga menjabat sebagai Pelaksana Harian Bupati Sintang.

Kapolres Sintang AKBP Ventie Bernard Musak meminta agar data korban banjir terus diperbarui. Ia mengatakan, banjir telah menghambat aktivititas masyarakat, bahkan warga kesulitan untuk menarik uang di ATM karena  terendam banjir. "Cari uang tunai susah, mesin ATM banyak terendam," kata dia.

Musibah banjir juga menimbulkan kerugian material. Di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat, misalnya, BPBD setempat mencatat kerugian akibat longsor dan banjir di Kecamatan Talamau mencapai Rp1,7 miliar lebih.

"Longsor dan banjir menimbulkan kerusakan infrastruktur, barang milik masyarakat dan lahan pertanian," kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Pasaman Barat Azhar.

Dari data yang dikumpulkan, nilai kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan fasilitas umum dan barang milik masyarakat mencapai Rp 560 juta. Adapun kerugian masyarakat akibat gagal panen serta terhambatnya usaha mencapai Rp 1,2 miliar. "Dengan demikian total kerugian sementara mencapai Rp 1,76 miliar," ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BMKG (@infobmkg)

Sumber : Antara


×