Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika

Refleksi

13 Nov 2021, 03:50 WIB

Amaliah Tarbiyah Rasulullah SAW

Amaliah tarbiyah Rasulullah SAW pada umatnya dilakukan dalam empat hal secara terpadu dan terintegrasi.

OLEH PROF KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Sebagaimana telah diketahui dan diyakini bersama bahwa seluruh kegiatan dan perilaku Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah bagi orang-orang yang beriman.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Ahzab (33) ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Salah satu kegiatan beliau yang perlu dipahami dan dimengerti sebagai uswatun hasanah, apalagi dalam kondisi sekarang, yaitu amaliah tarbiyahnya, dalam bentuk segala usaha yang dilakukan dalam rangka mendidik umat dengan pendidikan yang sesuai dengan ajaran Islam. Tujuan amaliah tarbiyah ini untuk melahirkan insan Muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, unggul dalam ilmu pengetahuan dan keterampilan, bertanggung jawab, menyayangi sesama, dan bermanfaat bagi kehidupan umat secara luas.

Ujungnya untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki dunia dan akhirat. Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Ibn Majah, Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku hanya diutus sebagai muallim (guru/pengajar).” (HR Ibn Majah).

Dalam kaitan dengan amaliah tarbiyah Rasulullah SAW ini, Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah (2) ayat 151 dan 152: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui (151). Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (152).”

Berdasarkan ayat tersebut di atas bahwa amaliah tarbiyah Rasulullah SAW pada umatnya dilakukan dalam empat hal secara terpadu dan terintegrasi, yaitu, pertama, tilawatul ayat. Membacakan ayat (dalam pengertian luas), baik ayat Alquran maupun ayat kauniyyah. Artinya, Rasulullah SAW mendorong agar umat Islam bisa dan terbiasa membaca Alquran, memahaminya, dan secara bertahap mengamalkannya.

 
Rasulullah SAW mendorong agar umat Islam bisa dan terbiasa membaca Alquran, memahaminya, dan secara bertahap mengamalkannya.
 
 

Alquran adalah pedoman hidup orang-orang yang beriman yang jika diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan akan menyebabkan kebahagiaan dan ketenangan hidup. Firman-Nya dalam QS Fathir (35) ayat 29 dan 30: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (29). Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (30).”

Dalam kaitan dengan ayat-ayat kauniyyah, Rasulullah SAW mendorong agar pesan-pesan Alquran ini dipelajari umat Islam dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Firman-Nya dalam QS Fushilat (41) ayat 53 dan 54: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (53). Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu (54).”

Juga firman-Nya dalam QS Luqman [31] ayat 20: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

Dalam sejarah peradaban Islam, ketika umat Islam melaksanakan pesan-pesan Alquran untuk mempelajari ayat-ayat kauniyyah maka lahirlah berbagai ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan. Hampir semua ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang berasal dari umat Islam.

 
Hampir semua ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang berasal dari umat Islam.
 
 

Kedua, melakukan tazkiyyah, yaitu penyucian jiwa dan mental agar tidak didominasi oleh sifat-sifat buruk dan jahat yang merusak tatanan kehidupan. Firman Allah dalam QS asy-Syams (91) ayat 7-10: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) (7). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (8). Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (9). Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (10).”

Imam al-Ghazali dalam bukunya, Kimia Kebahagiaan, menyatakan ada empat sifat dan watak yang sering berpengaruh pada kehidupan manusia: (a) sifat hewan (bahimah), merasa cukup bahagia dengan hanya makan, minum, tidur, dan hubungan seksual (mulut, perut, dan di bawah perut); (b) sifat binatang buas (sabu'), merasa senang dan bahagia jika bisa menghancurkan orang lain, seperti melukai, menindas, bahkan juga sampai membunuhnya;

(c) sifat setan, merasa bahagia jika bisa menyesatkan orang lain, mengganggu, memfitnah, dan berbuat licik, hasad dan dengki; (d) sifat malaikat, yaitu senang dan bahagia dengan kepatuhan dan ketundukan terhadap perintah Allah SWT.

Pengendalian sifat-sifat buruk dan penguatan sifat-sifat baik hanya bisa dilakukan dengan tarbiyyah sahihah pendidikan yang benar dan tepat. Dalam kaitan ini kita dapat memahami tentang kegelisahan para alim ulama, para ormas, para tokoh masyarakat, para pendidik, dan hampir semua kalangan terhadap Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi. Dalam permendikbud ini dikesankan seolah-olah bahwa perilaku seksual yang menyimpang hanya dikatakan kejahatan apabila dilakukan tanpa persetujuan korban.

 
Pengendalian sifat-sifat buruk dan penguatan sifat-sifat baik hanya bisa dilakukan dengan tarbiyyah sahihah pendidikan yang benar dan tepat.
 
 

Namun, jika dilakukan sesuai persetujuan korban maka tidak termasuk dalam kejahatan versi permendikbud ini, sebagai contoh pada pasal 5 ayat 2b (memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan korban), 2f (mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban), 2g (mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban), dan 2h (menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban).

Ketiga, mengajarkan Alquran dan hikmah (sunah) yang akan menjadikan orang-orang yang beriman lurus dan istiqamah dalam kehidupannya. Selamat dan bahagia dunia akhirat.

Rasulullah SAW bersabda: "Wahai manusia (umatku), sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian (dua hal/pedoman) dan selama kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan sunahnya (hadis)." (HR Baihaqiey dari Ibn Abbas).

Keempat, menumbuhkan semangat untuk terus belajar dan belajar sepanjang hayat. Rasulullah bersabda: “Jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka.” (HR Baehaqi).

Jika umat Islam konsisten melaksanakan pesan-pesan tarbiyah Rasulullah SAW tersebut, insya Allah, umat Islam akan menjadi khaira ummah (umat yang terbaik) dengan ciri-ciri seperti cerdas, unggul bertanggung jawab, bermanfaat bagi yang lain, dan menebarkan rahmatan lil alamin.

Wallahu a’lam bishawwab.


×