Presiden Joko Widodo saat wawancara khusus dengan Republika di beranda Istana Negara, Kamis (11/11). | Republika/Edwin Putranto

Kabar Utama

12 Nov 2021, 03:55 WIB

'Saya Harus Tarik, Pusatnya Itu Kita'

Kepresidensian di G-20 akan dimanfaatkan Indonesia mendorong ekonomi Islam.

OLEH NUR HASAN MURTIAJI

Presiden Joko Widodo memulai lawatan pertama ke luar negeri di masa pandemi Covid-19 saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Roma, Italia pada Jumat (29/10) lalu. Indonesia mengemban presidensi G-20, posisi yang strategis bagi Indonesia mengingat pandemi masih menyisakan pemulihan kesehatan dan ekonomi global.

Kepada Republika, Presiden Joko Widodo menceritakan agenda dalam pertemuan para pimpinan elite dunia itu. Beberapa kali Presiden Jokowi tertawa lepas atau tersenyum meski tetap dalam balutan masker saat wawancara dengan Irfan Junaidi, Nur Hasan Murtiaji, dan Edwin Dwi Putranto, di teras halaman Istana Negara.

Presiden Jokowi juga mengungkapkan optimismenya mengenai penanganan pandemi Covid-19 yang diharapkan berkorelasi erat dengan pemulihan ekonomi ke depan. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar sedunia, Indonesia bertekad membesarkan ekonomi dan keuangan syariah dengan ekosistem G-20. Berikut kutipan wawancara eksklusif Republika dengan Presiden Jokowi, Kamis (11/11).

Bisa Anda ceritakan soal keketuaan Indonesia di G-20 yang ditetapkan di Italia kemarin?

Ya memang kita ini negara berkembang pertama yang memegang keketuaan di G-20. Jadi presidensi G-20 itu merupakan kehormatan bagi Indonesia, sebuah kepercayaan karena memang G-20 ini menyangkut hampir dua pertiga populasi dunia. Kemudian, hampir 80 persen produk domestik bruto (PDB) dunia ada di G-20.

photo
Presiden Joko Widodo bersama Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaedi (kiri) dan Wakil Pemimpin Redaksi Nur Hasan Murtiaji saat wawancara khusus di beranda Istana Negara, Kamis (11/11). - (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Menjadi kehormatan dan kepercayaan bagi kita di tengah ketidakpastian situasi global, terutama situasi ekonomi dan kesehatan. Kemudian di tengah keragu-raguan global dalam memutuskan sesuatu karena memang situasinya yang tidak pasti. Di tengah munculnya kompleksitas masalah yang begitu sangat banyak di dunia yang semuanya tidak terkalkulasi.

Masalah krisis energi di negara-negara besar maupun negara maju, kemudian urusan supply chain yang juga berantakan kesulitan kontainer antar negara dan itu juga harus diselesaikan. Kompleksitas masalah seperti itu yang kita ambil manfaatnya bagi kepentingan nasional kita. Utamanya kita bisa berkontribusi dalam menyelesaikan masalah yang ada. Nanti lewat forum-forum di Konferensi Tingkat Tinggi G-20. Karena nanti akan kurang lebih 150-an forum meeting selama kita jadi presidensi di G-20.

Apa agenda yang Indonesia akan dorong selama menjadi presidensi G-20?

Kemarin kita menyampaikan memang seharusnya G-20 bisa menjadi solusi merumuskan kebijakan, gagasan besar penyelesaian masalah. Tapi kemarin di G-20 memang belum terjadi kesepakatan yang final.

Kita itu sudah akan banyak keputusan final yang dihasilkan dalam rangka pemulihan kesehatan dan ekonomi, sehingga temanya "Recover together, recover stronger". Itu arahnya ke sana. Pemulihan itu harus bersama. Kalau kuat ya bersama. Tidak bisa sebuah negara itu berdiri sendiri. Kamu sudah vaksin 100 persen, tapi ada negara yang baru enam persen, masih banyak sekali itu. Tidak bisa karena ini akan menularkan ke yang lain.

 
Kemarin itu hampir semua kepala negara mendatangi kita. Yang ingin bilateral itu banyak sekali, tapi karena waktunya yang tidak mungkin, akhirnya kita pilih yang memiliki relevansi dengan apa yang kita lakukan. 
 
 

Yang kita tekankan nanti dalam G-20, pemulihan kesehatan itu ya bersama-sama, pemulihan ekonomi itu ya bersama-sama. Tidak bisa saling meninggalkan satu negara pun dalam pemulihan ini, sehingga tema ini betul-betul memberikan pesan yang kuat.

Di G-20 itu banyak tokoh negara besar yang bertemu Anda. Apa yang membuat mereka demikian?

Itu yang menjadi perbedaan saat kita datang di G-20 pada tahun-tahun sebelumnya. Kemarin itu hampir semua kepala negara mendatangi kita. Yang ingin bilateral itu banyak sekali, tapi karena waktunya yang tidak mungkin, akhirnya kita pilih yang memiliki relevansi dengan apa yang kita lakukan. Saya kira tak hanya yang ingin bilateral saja yang banyak, tapi yang ingin ketemu secara langsung juga.

Momentum ini yang kita gunakan dalam rangka membangun sebuah pondasi kepercayaan internasional pada kita. Yang kita bangun ini adalah trust, percaya pada negara kita. Timing-nya juga pas, waktu kita pas bisa menangani Covid. Nah ini pas banget. Di dalam forum internasional pas banget. Ekonomi kita juga nggak jelek-jelek amat. Dibanding mereka, kita jauh lebih baik. Penanganan pandemi pas lagi baik-baiknya. Dan kita harapkan insya Allah ke depan tetap baik. Momentumnya pas dapat kita.

Tapi di dalam presidensi G-20 ke depan ini kita ingin fokusnya di pemulihan kesehatan, kemudian transisi energi dari fosil ke renewable, dan ketiga ekonomi digital. Saya kira tiga hal ini fokus yang kita harapkan dapat menyelesaikan masalah.

photo
Presiden Joko Widodo saat wawancara khusus dengan Republika di beranda Istana Negara, Kamis (11/11). - (Republika/Edwin Putranto)

Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar sedunia. Sebagai presidensi G-20, adakah agenda yang terkait tema keislaman?

Kita sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, peluang ini juga harus kita pakai untuk memperkuat brand itu. Artinya, kita nanti dalam agenda ekonomi digital, kita akan masuk ke ekonomi syariah yang menjadi potensi Indonesia.

Saya kira kalau sebelum kita masih di ranking ke-10 atau 11, sekarang kita masuk ke ranking empat. Saya kira ini akan terus kita dorong. Insya Allah bisa masuk ke ranking dua atau tiga. Peluangnya masih sangat kuat. Dan G-20 itu nanti akan kita pakai menuju ke sana. Karena ekonomi syariah itu kan tak hanya berkembang di negara-negara Muslim saja. Di Korea, Inggris, Prancis juga pesat sekali.

Kira-kira mereka mau mengadopsi ekonomi syariah?

Mereka kan melihatnya sesuatu yang menguntungkan bagi negaranya. Selalu melihatnya dari sisi itu. Ada peluang dan dimanfaatkan oleh mereka untuk keuntungan ekonomi negaranya. Kita yang seharusnya memberikan porsi yang lebih besar kepada ekonomi syariah, masak bisa kalah dengan mereka.

 
Kita yang seharusnya memberikan porsi yang lebih besar kepada ekonomi syariah, masak bisa kalah dengan mereka.
 
 

Di G-20 kan ada negara Muslim lainnya?

Ya, ada Arab Saudi, Turki. Saya kira kita harus tarik bahwa centre-nya itu ke kita. Dan kita sudah berusaha dalam 3-4 tahun itu membawa.

Tekad untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah global, bagaimana untuk mencapai ke sana?

Saya yang kira kita sudah lakukan, seperti menggabungkan bank syariah menjadi BSI. Itu salah satu upaya agar pendanaan syariah ini menggembung. Kalau menggembung, artinya akses keuangan untuk industri syariah, ekonomi syariah, itu juga akan membesar. Dan kita harapkan BSI itu menjadi nomor 6 atau 7 bank nasional sehingga menjadi bank yang kuat betul, sehingga bisa menopang pertumbuhan ekonomi syariah yang kita perkirakan akan meningkat drastis di negara kita.

Perkiraan kita growth nya akan tumbuh tinggi. Karena akses ke keuangan lebih gampang, dan dalam jumlah yang besar. Akses keuangannya tersedia, jangan mentok misalkan dalam jumlah sedikit. Ini akan memunculkan pengusaha Muslim yang kuat karena akses menuju keuangannya tersedia.

Situasi geopolitik cukup seru. Ada persaingan AS-Cina, ada Afghanistan. Bagaimana Indonesia menyikapi situasi ini sebagai ekosistem G-20?

Politik luar negeri kita kan bebas-aktif. Saya kira kita harus pada posisi sebagai penyeimbang, seperti isu Laut Cina Selatan. Kita kan nggak masuk dalam urusan sengketa wilayah yang disengketakan.

photo
Presiden Joko Widodo bersama Wakil Pemimpin Redaksi Nur Hasan Murtiaji (kanan) saat wawancara khusus di Istana Negara, Kamis (11/11). - (Republika/Edwin Putranto)

Kita selalu menyampaikan sebaiknya dialog. Kita menjaga kawasan ini tetap stabil, damai, pertumbuhan ekonomi kita lakukan. Dan dialog itu selalu saya sampaikan berulang-ulang kepada siapa pun, baik di kawasan kita ataupun yang lain.

Dalam hal Afghanistan itu kan kita ikut dalam kurun yang panjang. Mereka kita ajak ke sini, kita fasilitasi melakukan dialog, antara pemerintah dan Taliban waktu itu. Tidak sekali dua kali. Kemudian kita pertemukan.

Saya juga pernah ke sana. Di sana juga melakukan pertemuan yang intensif dengan mereka. Sejak awal saya melihat peluang untuk rekonsiliasi memang tidak mudah.

Dalam perjalanan, bagaimana posisi Indonesia di G-20?

Saya selalu sampaikan kalau kita ini, semua pemimpin itu jangan mengedepankan rivalitas, persaingan, tetapi kedepankan kolaborasi, kerja sama. Saya kira hasilnya akan berbeda. Saya selalu sampaikan itu. Tergantung pada para leaders sekalian.

Indonesia termasuk sukses menangani Covid. Bahkan WHO mengakui itu. Strategi apa yang membuat hal ini?

Kalau saya lihat, kegotong-royongan kita semua. Semua kita. Saya perintahkan untuk turun ke lapangan semua, termasuk saya. Sehingga semua merasa terkontrol, merasa terawasi, dan semuanya berkompetisi untuk memperbaiki angka-angka dan kondisi di daerah masing-masing, baik provinsi maupun kota/kabupaten. Tapi saya lihat hampir semua negara bingung juga, apa yang harus dilakukan. Lockdown atau nggak. Itu saja ruame dan seru.

 
Yang kedua, kita juga awal-awal, gonta-ganti acara terus. PSBB, ganti PPKM Mikro, ganti lagi PPKM Darurat, ganti PPKM Level 1 sampai 4. “Waaahh. Isinya mencla-mencle, plin-plan”. Lha wong penyakitnya juga nggak jelas.
 
 

Dulu awal-awal kita juga di forum menteri juga sama, 70 persen itu pro lockdown. Awal-awal begitu. Karena negara lain juga lockdown. Tapi setelah kita hitung lebih detail, ada sisi sosial ekonomi yang harus dihadapi, ada sisi sosial politik yang akan terimbas dari policy itu, sehingga kita putuskan gas dan rem itu sejak awal.

Karena nggak mungkin dengan cadangan tabungan rumah tangga yang kecil kemudian kita lockdown. Saya nggak tahu imbasnya akan masuk ke mana. Karena apapun detail sampai ke bawah itu kita cek. Tabungan rakyat seperti apa, kita cek.

Yang kedua, kita juga awal-awal, gonta-ganti acara terus. PSBB, ganti PPKM Mikro, ganti lagi PPKM Darurat, ganti PPKM Level 1 sampai 4. “Waaahh. Isinya mencla-mencle, plin-plan”. Lha wong penyakitnya juga nggak jelas. Penyakitnya gonta-ganti. Ini gimana sih model penyakitnya. Perilakunya kayak apa.

Kalau strateginya tetap terus, ya babak belur dong kita. Ya strategi berubah sesuai dengan keadaan lapangan. Saat keputusan level 1 sampai 4 itu juga kayak makanan pedes A, pedes B, pedes C, pedes banget. Pakai level. Tapi dengan itu, menurut saya, ada kompetisi tiap daerah untuk menurunkan level ke yang paling rendah. Baik itu karena di situ kita cantumkan jumlah vaksinasi yang sudah disuntikkan berapa persen, lansia yang sudah disuntikkan berapa persen. Kemudian kematian berapa, BOR-nya berapa. Semua indikator yang ada, dan semua berlomba. Polri dan TNI terjun ke bawah ke tempat yang kira-kira levelnya tinggi.

Akhirnya saling berkompetisi antar daerah agar bagus. Apalagi kemarin itu ada aglomerasi. Itu persaingannya lebih ketat lagi. Kita nggak bisa turun karena aglomerasi itu akan saling mengikut kalau tidak diperbaiki. Efeknya ke dalam (pengendalian Covid) itu bagus sekali. Kita kan muter juga. Kita kumpulkan. Gubernur, bupati, wali kota, pangdam, kapolres, dandim. Kalimantan, ke Bali kumpulin. Tunjukin satu-satu, itu angka BOR kabupaten kota mu itu sekian. Ini posisi vaksinasi baru sekian. Saya beri waktu dua minggu. Saya kira model keterbukaan seperti itu bagus.

photo
Presiden Joko Widodo saat wawancara khusus dengan Republika di beranda Istana Negara, Kamis (11/11). - (Republika/Edwin Putranto)

Makin ke sini kasus Covid makin landai. Kita juga harus berdamai dengan Covid. Kini ada wacana menggeser dari pandemi ke endemi. Bagaimana strategi mengenai ini?

Saya pada Mei 2020, tiga bulan setelah pandemi, sudah ngomong. Kita memang harus hidup berdampingan dengan Covid, tapi ya ramai (pro kontra di masyarakat). Kita ini kan punya tim epidemiolog, dokter, semuanya kan berbasis pada santifik, pada data. Tapi memang pro dan kontra biasa lah.

Yang kita lihat, posisi sekarang, sejak puncaknya di Juli, turun di Agustus, September, sekarang kan sudah landai. Kasus aktif terus di bawah 10 ribu, kasus kematian di bawah 20, kemudian kasus harian di bawah 500 dalam seminggu ini.

Saya kira proses dari pandemi menuju endemi harus ada transisinya. Kita akan melihat sampai nanti Natal dan Tahun Baru. Kalau Natal dan Tahun Baru bisa kita lewati, bisa kita kendalikan, itu akan lebih mudah untuk menuju transisi ke endemi. Memang proses seperti itu, baru masuk ke endemi.

Dan itu ada angka-angkanya semua. Misalkan (positivity) rate-nya, BORnya seperti apa, kematian seperti apa. Angka vaksinasi seperti apa. Semuanya berdasarkan yang sudah jadi standar. Kita masih punya satu tahapan yaitu Natal dan Tahun Baru. Kalau itu bisa kita lewati, akan masuk ke masa transisi menuju endemi.

Bagaimana kontribusi digital untuk proses penanganan pandemi?

Sejak awal kita sudah menggunakan digital untuk mem-back up data-data. Tapi saat itu memang ada empat platform yang kita pakai. Ada yang dari Kesehatan, Kominfo, BUMN, dan dalam perjalanan tet-tet-tet, kemudian kita putuskan gunakan PeduliLindungi. Satu-satunya platform yang kita pakai. Setelah kita lihat lebih simpel, lebih gampang diaplikasikan, implementasi tidak begitu ruwet. Betul-betul sangat mendukung data misalkan perjalanan, orang masuk mal, restoran, dan kita bisa kontrol.

 
Saya kira proses dari pandemi menuju endemi harus ada transisinya. Kita akan melihat sampai nanti Natal dan Tahun Baru. Kalau Natal dan Tahun Baru bisa kita lewati, bisa kita kendalikan, itu akan lebih mudah untuk menuju transisi ke endemi.
 
 

Daerah merah mana, hijau mana, sehingga yang perlu kita perbaiki di lokasi mana menjadi kelihatan semua. Mau ke pesawat, kereta, ke mal, sekolah, semuanya kita kumpulkan dalam platform PeduliLindungi. Dari situlah kita akan mendapatkan data-data saintifik yang betul-betul akurat untuk membuat pertimbangan policy ke depan.

Dan kita nanti yang gagas dalam forum G-20 untuk mengoneksikan antar platform digital ini ke negara-negara lain sehingga kalau ada orang Inggris mau ke sini ketahuan dulu merah atau hijaunya. Orang Amerika mau ke sini ketahuan juga. Artinya lintas batas antar negara ini menjadi terkoneksi dan akan kelihatan platformnya. Masing-masing negara punya platform, meski belum disepakati ya. Tapi kalau disetujui akan sangat membantu. Memang tak semua negara punya, tapi paling ndak kita akan memulai dulu dari negara yang siap.

Kemarin kita sudah dengan Singapura, dengan Uni Emirat Arab sudah setuju. Orang menyangka negara kita segede ini tidak punya platform seperti itu. Sejak awal kan kita punya. Tapi memang masih kita perbaiki terus. Banyak yang bahkan kaget kita punya platform seperti ini.

Ini perlu kita sampaikan bahwa kita nggak ketinggalan amat.

Sejumlah pakar menyampaikan kekhawatiran gelombang ketiga Covid-19 pada akhir tahun nanti?

Kita harus hati-hati. Kalau pakar sudah berbicara, kita harus hati-hati karena beliau-beliau memperkirakan itu ada basis data. Sehingga mulai dari sekarang sudah saya sampaikan ke Menko PMK. Siapkan menuju ke Natal dan Tahun Baru itu agar nanti saat hari H itu semua sudah siap. Dan nggak usah pakai penyekatan, tapi terkontrol.

Masih dimatangkan saat ini, misalkan dilarang berkerumum dalam jumlah besar, harus didampingi dengan Satgas setiap acara. Ya kita harus menahan dulu, sabar dulu. Pandem belum usai. Sekarang di Eropa meningkat banget, tajam banget.

Bagaimana dengan perbatasan-perbatasan negara?

Kita kan sekarang yang baru dibuka 19 negara. Itu pun rekomendasi WHO. Artinya negara yang kita buka itu level 1. Boleh. Kayak Australia. Silakan. Uni Emirat Arab yang level 1 silakan. Tidak 220 negara boleh.

Nanti kalau bisa satu persatu mulai dibuka level corridor arrangement, kayak Malaysia. Banyak yang minta, Singapura. Bisa saja Bali dulu, tidak Indonesia. Tahap demi tahap. Dari pengalaman kemarin, kita tidak tergesa-gesa. Kalau suatu kota masih level 2, ya level 2 dulu. Harus konsisten.

photo
Presiden Joko Widodo bersama Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaedi (kiri) dan Wakil Pemimpin Redaksi Nur Hasan Murtiaji saat wawancara khusus di beranda Istana Negara, Kamis (11/11). - (Republika/Edwin Putranto)

Indikator ekonomi nasional kita positif. Pemulihan ekonomi tampaknya bergerak naik. Bagaimana memanfaatkan agar momentum ini berkelanjutan?

Kuncinya satu saja, kita bisa kendalikan pandemi ini dengan baik. Kalau pandemi bisa kita kendalikan seperti sekarang, otomatis konsumsi akan naik. Kalau konsumsi naik, artinya permintaan menjadi naik, produksi juga akan naik. Kalau produksi naik, artinya lagi apa, pasti purchasing manager index dan manufaktur akan naik. Dulu 52 sekarang sudah 57. Ini kan trennya seperti itu. Kuncinya hanya satu, bisa mengendalikan Covid. Itu saja.

Kita lihat kuartal II bisa 7,07 persen, growth-nya. Karena Covid naik pada pertengahan Juli dan Agustus, PPKM Darurat, empat minggu, anjlok. Tapi kita masih untung, alhamdulillah masih di angka 3,5 persen. Masih positif. Negara lain masih negatif banyak banget.

Perkiraan kita kalau kondisi bisa terjaga seperti ini, saya kira kuartal IV bisa di atas lima persen, insya Allah. Angka-angka tadi, purchasing manager index, angka-angka konsumsi yang juga naik, ekspor yang juga pada angka sangat baik. Harga komoditas yang semuanya pada posisi baik. Kemudian juga didukung oleh kebiasaan kita menghabiskan APBN/APBD pada akhir tahun, itu membantu kuartal IV ini. Tapi saat ini itu akan mendorong konsumsi. Karena tumpuan growth pertumbuhan itu 56 persen ada di konsumsi.

Itu yang mau kita geser arah ke depan kita, growth itu dipengaruh oleh produksi, sehingga kenapa kita hilirisasi industri karena arahnya harus kita geser. Itu yang kita namakan transformasi ekonomi, dari ketergantungan growth pada konsumsi menjadi ketergantungan growth pada produksi. Sehingga stop (eskpor) nikel mentahan, bauksit mentahan. Semuanya harus hilirasi, industrialisasi.

 
Yang juga paling penting adalah stabilitas politiknya. Guncangan Covid, guncangan ekonomi, karena hampir semua negara politiknya juga ikut guncang. Hampir semua negara saya dengar. Aduh, aduh (sambil tertawa).
 
 

Mudah-mudahan bisa berkelanjutan?

Kuncinya hanya satu, Covid bisa kita kendalikan.

Ada stimulus khusus untuk mendorong daya beli ini?

Bantuan sosial hampir semua titik kan kita injeksi. UMKM kita injeksi dengan subsidi bunga. PKL, usaha mikro, kita suntik Rp 2,4 juta, kemarin suntik lagi Rp 1,2 juta per unit usaha. Tidak hanya satu dua juta usaha, yang terakhir itu hampir 20an juta untuk usaha.

Kemudian untuk menaikkan konsumsi rumah tangga. Bantuan sosial berupa bantuan langsung tunai dari dana desa, kemudian bantuan bantuan sosial tunai ke masyarakat kurang mampu. Bantuan kas itu banyak sekali. Itu sedikit bisa naikkan daya beli sehingga kita harapkan bisa menaikkan konsumsi masyarakat. Kalau konsumsi naik, produksi ikut ketarik naik.

Dan politiknya juga tenang?

Yang juga paling penting adalah stabilitas politiknya. Guncangan Covid, guncangan ekonomi, karena hampir semua negara politiknya juga ikut guncang. Hampir semua negara saya dengar. Aduh, aduh (sambil tertawa).

Tapi politik kita stabil?

Ekonomi bisa kita mantain seperti ini, saya kira politiknya juga akan baik. Insya Allah.


×