Lifter putri Bali Ni Nengah Widiasih memperlihatkan medali emas seusai penganugerahan medali bagi juara angkat berat kelas 45Kg Peparnas Papua di Hotel Suni Garden Lake, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (8/11/2021). Ni Nengah Widiasih berhasil me | ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Olahraga

10 Nov 2021, 05:00 WIB

Peparnas Papua Kian Populerkan Olahraga Disabilitas

Peparnas menjadi ajang pembuktian para atlet untuk menunjukkan kualitas.

JAYAPURA -- Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVI Papua 2021, Jack Komboy, mengajak semua masyarakat Papua untuk datang dan memberikan dukungan kepada para atlet yang berkompetisi. Apalagi, pemecahan berbagai rekor tingkat nasional juga terus terjadi di Peparnas kali ini.

"Kami berharap semua hadir memberikan dukungan penuh terhadap para atlet yang berlaga di dua zona penyelenggaraan pertandingan," kata Jack dalam keterangan persnya, Selasa (9/11).

Mantan bek Persipura Jayapura itu berharap atlet difabel mendapat kesetaraan dalam berolahraga, terutama di kompetisi resmi. Menurutnya, Peparnas menjadi ajang pembuktian para atlet untuk menunjukkan kualitas. "Kita sudah menyukseskan PON, mari kita ramaikan juga Peparnas sekaligus menjunjung kesetaraan," ujarnya.

Peparnas Papua mempertandingkan 12 cabang olahraga yang digelar di 12 arena Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Cabang olahraga yang dipertandingkan adalah angkat berat, atletik, boccia, bulu tangkis, catur, judo, menembak, panahan, renang, sepak bola cerebral palsy, tenis lapangan kursi roda, dan tenis meja.

Seluruh peserta memperebutkan 2.812 medali yang terdiri dari 861 medali emas, 861 perak, dan 1.090 perunggu di 640 nomor lomba.  

Atlet elite tenis meja DKI Jakarta David Jacobs mengatakan, olahraga disabilitas makin populer dan berkembang pesat seiring dengan banyaknya ajang besar yang bergulir, termasuk Peparnas XVI Papua.

David menyebut peserta dalam pesta olahraga terbesar edisi ke-16 jauh lebih banyak dibandingkan Peparnas XIV Riau 2012 dan XV Jawa Barat 2016, khususnya untuk cabang olahraga tenis meja.

Menurut David, hal ini tak lepas dari perhatian pemerintah pusat dengan makin berprestasinya atlet Indonesia di pentas internasional, seperti Paralimpiade Tokyo 2020.

"Sehingga, animo masyarakat disabilitas lebih banyak yang terjun menjadi atlet. Hal ini sangat positif untuk pembinaan ke depan. Saya berharap akan banyak atlet potensial lahir di Peparnas Papua," ujar David yang meraih perunggu paratenis meja TT10 di Paralimpiade Tokyo.

Cabang olahraga tenis meja di Peparnas Papua berlangsung di Istora Papua Bangkit, Kabupaten Jayapura, 6-13 November 2021. Jumlah peserta yakni 266 atlet yang berasal dari 33 provinsi dan mempertandingkan 44 nomor dari klasifikasi tunadaksa, tunarungu, tunagrahita, dan tunanetra.

Tak kurang dari 40 atlet yang pernah berkompetisi di level internasional juga tampil di Istora Papua Bangkit. Jawa Barat dan DKI Jakarta adalah kontingen paling banyak memiliki atlet elite dengan masing-masing delapan.

Kemudian, Jawa Tengah mengirim enam atlet. Sementara Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jawa Timur, dan Papua masing-masing tiga atlet elite. Kalimatan Barat, Kalimantan Timur, Maluku, Riau, Sulawesi Utara, dan Sumatra Barat sama-sama memiliki satu atlet elite.

Tenis meja adalah satu dari lima cabang olahraga andalan Indonesia dalam ajang internasional selain renang, bulu tangkis, atletik, dan angkat berat. Pada Paralimpiade Tokyo 2020, Indonesia mengirim tiga atlet.

Dua di antara atlet Paralimpiade Tokyo itu akan turun di Peparnas Papua membela DKI Jakarta, yakni David Jacobs dan Komet Akbar. Sementara, Adyos Astan hadir bersama kontingen Maluku.


×