Foto pemandangan gedung bertingkat di Jakarta, Kamis (4/11/2021). Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat realisasi investasi Triwulan III-2021 atau periode Juli-September yang mencapai Rp216,7 triliun, nilai tersebut tumbuh | ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz

Ekonomi

09 Nov 2021, 10:49 WIB

Erick Jajaki Investasi untuk BUMN

Peluang investasi energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia cukup terbuka lebar.

JAKARTA — Peluang menarik modal dari investor asing dijajaki Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir seusai lawatannya bersama rombongan Presiden Joko Widodo ke Italia, Skotlandia, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Erick mengatakan, lembaga investasi Qatar Investment Authority (QIA) mengaku terkesan dengan potensi dan perkembangan bisnis di Indonesia, terutama dalam bidang energi dan pariwisata.

"Syukur alhamdulillah pertemuan menghasilkan sejumlah poin-poin penting, yang salah satunya minat Qatar Investment Authority (QIA) berinvestasi dalam bidang pariwisata, energi, dan lain-lain,” kata Erick seperti dikutip Republika, Senin (8/11).

Erick mengadakan pertemuan dengan Chief of Asia-Pacific & Africa Investments di QIA Sheikh Faishal Bin Thani Al Thani. Lembaga investasi terbesar dunia dan pemilik saham klub sepak bola Paris Saint Germain (PSG) itu menyatakan ketertarikannya berinvestasi di Indonesia.

Menurut Erick, dengan potensi sumber daya alam maupun SDM yang dimiliki Indonesia, para investor percaya untuk berinvestasi. Kepercayaan itu menjadi bukti bangsa ini memiliki segala prasyarat untuk terus bertumbuh baik secara kualitas maupun kuantitas perekonomian.

Peluang investasi energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia cukup terbuka lebar. Selain memiliki sumber daya yang melimpah dan meningkatnya permintaan, pemerintah Indonesia juga merespons kebijakan itu dengan menyiapkan sejumlah teknologi andal.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erick Thohir (erickthohir)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, besarnya potensi bisnis EBT di Indonesia dilihat dari sisi potensi EBT yang belum dioptimalkan. Ia menyebutkan, peluang pertama dan utama adalah Indonesia memiliki sumber daya baru dan terbarukan yang melimpah, terutama solar, diikuti hidro, bioenergi, angin, panas bumi, dan lautan.

“Total potensi 648,3 gigawatt (GW), termasuk potensi uranium untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Hingga saat ini, baru dua persen dari total potensi yang telah dimanfaatkan," kata Arifin.

 

Arifin juga menyoroti harga energi baru dan terbarukan mulai tumbuh kompetitif, khususnya harga Solar PV global yang cenderung menurun. Apalagi, ia menambahkan, didukung dengan pengembangan teknologi baru, seperti pumped storage, hidrogen, dan Battery Energy Storage System (BESS) sehingga akan mengoptimalkan pemanfaatan potensi EBT yang melimpah di Indonesia.

Meningkatnya kebutuhan energi, menurut Arifin, mendorong pemerintah untuk terus menyediakan akses energi ke seluruh lapisan masyarakat terutama di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T) dengan harga terjangkau, tapi tetap memperhatikan ketersediaan sumber daya energi setempat. Kondisi in sejalan dengan pemenuhan target rasio elektrifikasi 100 persen pada tahun depan.

"Tentu, ini menjadi peluang bagi pengembangan EBT karena harga bahan bakar fosil di daerah terpencil bisa begitu mahal, sedangkan sumber EBT tersedia dan dapat dimanfaatkan secara lokal,” ujar Arifin.

Pemerintah sendiri terus memperkuat kerangka peraturan untuk memastikan keberhasilan transisi energi di Indonesia. Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) 2021-2030 memberikan porsi lebih besar kepada EBT.

Terkait energi hijau, sebagai subholding gas Pertamina, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk siap berkolaborasi dalam pemanfaatan gas bumi yang potensial untuk penyediaan energi bersih dan ramah lingkungan (green energy).

Kolaborasi tersebut sejalan dengan visi holding minyak dan gas bumi (migas) Pertamina Group, yakni go global dalam upaya ekspansi bisnis mancanegara sekaligus mendukung Paviliun Indonesia di Expo 2020 Dubai.

Direktur Sales dan Operasi PGN Faris Aziz menyampaikan, kolaborasi pertama, yaitu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhoksheumawe, di mana PGN mendukung industri dan pengembangann KEK tersebut melalui LNG regasification, LNG/LPG Hub, LNG trading, serta Mini LNG Plants.

LNG dikembangkan di KEK tersebat agar dapat menjadi energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Kolaborasi selanjutnya adalah LNG Bungkering sebagai inisiatif PGN mendukung kapal-kapal Indonesia (shipping) melalui LNG dengan metode bunkering. Hal ini mengingat perairan Indonesia yang strategis untuk rute pengiriman internasional.

Proyek lainnya pengembangan biometanol. Green energy dalam bentuk biometanal berpotensi mengurangi emisi dengan mengganti penggunaan minyak fosil. Biometanol diproses dari limbah cair minyak sawit yang disebut POME. Jika dibiarkan dan tidak diproses, POME dapat membahayakan lingkungan.

“Semua inisiatif investasi tersebut sejalan dengan komitmen untuk mendukung target pemerintah dalam pengurangan emisi karbon, seperti yang tertera dalam Paris Agreement dan Konferensi COP-26,” kata Faris.


×