Ilustrasi peluncuran kartu kredit korporasi. | darmawan / republika

Ekonomi

08 Nov 2021, 09:44 WIB

BNI-BRI Pantau Kredit Korporasi BUMN

Kredit korporasi BUMN masih tetap terjaga meski di tengah tantangan bisnis dampak pandemi.

JAKARTA – Bank pelat merah memantau kredit PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya. Sejauh ini, kredit Garuda Indonesia dan BUMN Karya masih memenuhi kewajibannya kepada bank yang memberikan pinjaman.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Mucharom mengatakan, kredit korporasi BUMN masih tetap terjaga meski di tengah tantangan bisnis yang dialami perusahaan sebagai dampak pandemi. "Garuda Indonesia dan BUMN Karya masih memenuhi kewajibannya kepada bank," kata Mucharom kepada Republika di Jakarta, Ahad (7/11).

Mucharom menyampaikan, BNI terus melakukan pemantauan secara intens dengan mencermati kondisi bisnis yang masih sangat menantang. Menurut dia, upaya restrukturisasi merupakan langkah yang rasional untuk meringankan beban perusahaan.

"Sampai dengan saat ini, total cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) Garuda Indonesia telah kami bentuk dengan cukup, untuk meng-cover risiko mereka," ujar Mucharom.

BNI juga terus berkoordinasi dengan Kementerian BUMN yang sedang mematangkan rencana penyelamatan bisnis Garuda Indonesia. Sementara itu, lanjut Mucharom, secara umum, total CKPN yang telah dibentuk juga sudah cukup memadai untuk BUMN Karya.

BNI aktif berkoordinasi dan berkomunikasi dengan Konsultan Business & Financial Controller Restru Waskita Karya, Kementerian BUMN, dan Kementerian Keuangan. Langkah tersebut untuk memonitor dan memastikan seluruh terms and conditions dapat terlaksana sesuai kesepakatan.

BNI menyalurkan kredit korporasi senilai Rp 279,9 triliun hingga September 2021. Tercatat, kredit korporasi ke BUMN turun 7,1 persen year on year (yoy) dari Rp 112,0 triliun menjadi Rp 104,0 triliun pada kuartal III 2021.

Bank BUMN lainnya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga mencatat penurunan kredit korporasi ke BUMN pada kuartal III 2021. Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto menyebutkan, BRI telah menyalurkan kredit korporasi ke BUMN dengan total nilai Rp 80 triliun hingga kuartal III 2020.

Aestika mengatakan, nilai tersebut terkontraksi 7,5 persen secaratahunan. Apabila diperinci, sebesar 20,5 persen disalurkan kepada sektor konstruksi, 19,9 persen kepada sektor kelistrikan, gas dan air, serta 8,4 persen kepada sektor transportasi.

Secara keseluruhan, Aestika mengatakan, kualitas kredit korporasi BRI ke perusahaan BUMN tercatat membaik. Hal tersebut tercermin dari NPL kredit perusahaan BUMN pada akhir kuartal III 2021 sebesar 0,62 persen, nilai itu membaik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 1,20 persen.

Aestika mengatakan, pencadangan BRI ditetapkan dengan mempertimbangkan kondisi restrukturisasi yang secara konsisten terus melandai. Khusus untuk Garuda Indonesia dan BUMN Karya, BRI terus melakukan monitoring secara intens.

Garuda Indonesia dan BUMN Karya terus dipantau bank BUMN karena masalah keuangan. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebutkan,Garuda Indonesia memiliki cost per bulan itu 150 juta dolar AS, sementara pendapatannya 50 juta dolar AS, jadi utang 100 juta dolar AS setiap bulan.

Utang Garuda Indonesia menembus 7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 100,6 triliun. Utang tersebut terdiri atas beban pembayaran sewa pesawat terhadap lessor.

Sementara itu, salah satu BUMN Karya, PT Waskita Karya (Persero) Tbk tercatat memiliki liabilitas, termasuk utang, yang cukup tinggi pada tahun buku 2019 yang mencapai Rp 93,47 triliun. Kementerian BUMN menyiapkan sejumlah langkah penyelamatan Waskita.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Waskita Karya (Persero) Tbk (@waskita_karya)


×