Islamic Book Fair 2020. Dunia Islam sama sekali tak kekurangan pahlawan yang berkontribusi besar bagi peradaban | Prayogi/Republika

Laporan Utama

07 Nov 2021, 03:05 WIB

Strategi Narasi untuk Tokoh Muslim

Dunia Islam sama sekali tak kekurangan pahlawan yang berkontribusi besar bagi peradaban

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

Beragam nama tokoh Muslim dari abad pertengahan masih terdengar cukup asing bahkan bagi umat Islam sekarang. Menurut Ketua Ikatan Penerbit Seluruh Indonesia (Ikapi) Hikmat Kurnia, upaya untuk memperkenalkan profil dan karya mereka harus dilakukan lewat strategi yang tepat.

“Kalau kita mau mengenalkan tokoh-tokoh Muslim, kita harus tahu siapa tokoh (yang mau diperkenalkan) dan ke target pasar yang mana. Kalau buku anak, maka pendekatan kebahasaan dan ilustrasinya juga harus disesuaikan dengan bahasa anak,” kata Hikmat saat dihubungi Republika, Rabu (3/11).

Apabila dua langkah tersebut sudah ditentukan,  hal-hal teknis mengenai pembukuannya pun dibentuk. Dari sisi ketebalan buku, redaksional, promosi sekaligus pemasarannya harus dilakukan dengan baik. Di sisi lain, dia menjelaskan, upaya untuk mengenalkan nama-nama seperti Ibnu Haytham, Khawarizmi hingga Ibnu Sinna harus menggali dari sisi human interest tokoh yang hendak diangkat.

Menurut dia, masyarakat Muslim Indonesia cenderung memitoskan suatu tokoh tanpa menggambarkan tokoh tersebut dari sudut pandang yang lain. “Tokoh Islam itu jangan dimitoskan, tapi dipotret apa adanya,” kata dia.

Dia menilai, suatu tokoh baiknya diperkenalkan dengan meneladani bagaimana tokoh itu menjalani hidupnya. Misalkan, tokoh Islam seperti Muhammad Al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel dapat dipotret sebagai tokoh remaja di usianya yang begitu muda memiliki pencapaian yang gemilang.

Dalam sosok Al-Fatih, dia mengungkapkan, sisi human interest dapat digali dari sisi keremajaan si tokoh; bagaimana dia dididik, hingga bagaimana dia dibesarkan. Tokoh-tokoh lainnya seperti Imam Syafii dan  Al-Khawarizmi  pun perlu dipotret dengan framing seperti itu.

“Jadi human interest-nya harus ditumbuhkan, sehingga orang akan terikat dengan tokoh tersebut. Kalau emosionalnya si pembaca ini tumbuh, maka tokoh ini akan dekat dengan sendirinya kepada pembaca,” kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

General Manager Republika Penerbit Syahruddin El-Fikri menyampaikan, dunia Islam sama sekali tak kekurangan pahlawan yang berkontribusi besar bagi peradaban. Jauh sebelum dunia barat diterangi oleh renesains, mereka terlebih dahulu berguru dan meniru ilmuwan-ilmuwan Muslim.

Menurut Syahruddin, saat ini tokoh-tokoh Muslim perlu diperkenalkan kembali dengan pendekatan yang sesuai zaman. “Kami (Republika Penerbit) sudah mulai memperbanyak penerbitan dengan tema tokoh-tokoh Muslim, termasuk kita sudah ada rencana mengangkat sosok sahabat Nabi, Bilal bin Rabah, yang kita targetkan pembacanya adalah kalangan remaja,” katnya.

Syahruddin mengungkapkan, saat ini ceruk pembaca buku-buku yang mengangkat sosok tokoh Islam sudah mulai terbentuk. Untuk itu, kata dia, Republika Penerbit sudah mulai mengangkat karya-karya tokoh dan ilmuwan klasik Islam dan tokoh Muslim di Indonesia.

“Termasuk kita angkat tokoh-tokoh pendiri ormas (organisasi masyarakat). Ada juga tokoh perempuan Rahmah El-Yunusiah yang mendapat gelar istimewa dari Pemerintah Mesir sebagai syaikhah. Ini kita juga ada buku tentang beliau yang kita terbitkan dalam bentuk novel,” kata dia.

Pemimpin Yayasan iHAQI yang juga aktif sebagai produsen film-film keumatan, Ustaz Erick Yusuf, menyampaikan, bahwa memperkenalkan tokoh-tokoh Muslim dalam karya film memang harus dilakukan dengan menggandeng sejumlah elemen. Pesan-pesan yang bisa disampaikan, kata dia, tidak melulu soal unsur spiritual semata.

“Bisa juga kita angkat dari sosok kepahlawanannya, bagaimana menolong orang lain dan nilai-nilai yang bisa diteladani dari sosok tersebut. Yang penting kita bungkus dalam pandangan Islam yang kaffah ya, yang menyeluruh,” kata dia.


×