Warga berada di dekat poster edukasi waspada fintech ilegal di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Yogyakarta, Rabu (4/11/2020). | AntANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Opini

05 Nov 2021, 03:45 WIB

Jalan Pintas Menekan Ketimpangan

Fintech terlihat ampuh dan paling masuk akal untuk mengurangi laju ketimpangan ekonomi.

MEDIA WAHYUDI ASKAR; Direktur Institute for Policy and Development UGM

Pada era modern saat ini, isi dompet tidak lagi mencerminkan kekayaan seseorang. Jika dahulu orang-orang menaruh lembaran uang dalam jumlah besar di dompetnya, sekarang cukup hanya dengan telepon pintar, masyarakat bisa bertransaksi.

Maka pertanyaannya, siapa saja yang sudah memanfaatkan produk keuangan, apa dampaknya, apa bentuk layanan finansial yang betul-betul diinginkan masyarakat, dan apa yang harus dilakukan untuk menemukan hal tersebut?

Di banyak negara di Eropa, unicorn, seperti Revolut dan Transferwise menawarkan kemudahan dalam melakukan transaksi perbankan. Di Cina, Alipay membantu pedagang kecil mengelola transaksi keuangan dan menyediakan layanan kredit perbankan.

Mobile payment telah menjadi keseharian masyarakat untuk memesan taksi, membeli makanan, baik di restoran mewah maupun pedagang kecil di pinggir jalan.

 

 
Di banyak negara di Eropa, unicorn, seperti Revolut dan Transferwise menawarkan kemudahan dalam melakukan transaksi perbankan. 
 
 

 

Di Indonesia, Grab, perusahaan ride-hailing asal Malaysia bermitra dengan pemain lokal seperti Ovo, menjadi aplikasi pembayaran di Indonesia. SEA Ltd, lewat unit e-commerce Shopee menghubungkan jutaan penjual dan pembeli.

Gojek dan Tokopedia lewat GoTo Financial mengembangkan inovasi terkait layanan pembayaran, penyaluran pinjaman, dan investasi. Bagi konsumen, produk keuangan seperti Gopay dimanfaatkan sebagai alat pembayaran nontunai atau pinjaman melalui Paylater.

Dari sisi merchant UMKM, tersedia perangkat berupa sistem point of sales untuk mengelola pelanggan dan pembayaran serta  payment gateway, yang membantu pengusaha menerima pembayaran secara cepat dan berbiaya murah.

Perkuat UMKM

Setidaknya terdapat tiga potensi financial technology atau fintech (teknologi finansial/tekfin) bagi perekonomian Indonesia. Pertama, GoPay misalnya, dengan data dan informasi jutaan pedagang dapat mengurangi informasi asimetris antara pedagang dan konsumen. Sehingga memungkinkan pedagang mendapatkan akses kredit dari lembaga nonperbankan. 

Dalam konteks ini, lembaga fintechmenjadi penentu kemajuan UMKM. Peran UMKM tidak hanya menyerap tenaga kerja, tetapi juga penting bagi ketahanan pangan.

Sebagian besar produk pangan dipasok melalui pasar tradisional dan warung-warung kaki lima. Pedagang tersebut terkoneksi pada jutaan petani di wilayah pedesaan. Baik pedagang maupun petani memiliki keterbatasan modal usaha dan informasi terkait rantai pasok.

 
Ketiga, lembaga fintech bisa membantu pedagang, yang belum terjangkau layanan perbankan bersifat fisik.
 
 

Lewat teknologi, lembaga fintech mudah melakukan profiling pedagang serta perilaku konsumen. Maka itu, penyedia fintech menjadi katalisator yang memungkinkan petani ataupun pedagang, menjual produk berbasis permintaan dan mengurangi risiko usaha.

Kedua, data BI mencatat, transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) meningkat pesat pada masa pandemi Covid-19. Saat ini, QRIS tersambung dengan sekitar 5,8 juta pedagang atau merchant ritel nasional, didominasi UMKM.

Ketiga, lembaga fintech bisa membantu pedagang, yang belum terjangkau layanan perbankan bersifat fisik.

Survei terbaru Lembaga Demografi UI menunjukkan, GoTo Financial efektif membantu masyarakat dan pedagang unbanked dan underbanked mengakses layanan keuangan formal. Omzet mitra UMKM GoTo Financial pada akhir 2021 diperkirakan, meningkat 37 persen setara Rp 53,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.

Ekosistem berkelanjutan

Saat ini, sekitar 104 juta masyarakat Indonesia belum tersentuh layanan finansial (Financial Inclusion Insights/FII, 2020). Dengan biaya transaksi lebih murah, jangkauan lebih luas, fintech krusial meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 
Meski fintech mengubah cara pandang masyarakat melakukan aktivitas finansial, masih banyak lubang masalah sosial dan ekonomi yang belum dapat diisi.
 
 

Meski fintech mengubah cara pandang masyarakat melakukan aktivitas finansial, masih banyak lubang masalah sosial dan ekonomi yang belum dapat diisi.

Mengurangi biaya pinjaman, pencatatan keuangan, peningkatan jumlah simpanan, ataupun penyediaan pinjaman tanpa bunga, penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Meski masalah finansial identik dengan kemiskinan, ini bukan hanya penyebab, melainkan juga akibat persoalan fundamental yang kompleks. Lembaga fintech juga harus memahami, ini bukan persoalan akses semata.

Dalam hal pengelolaan keuangan untuk usaha kecil, sebagaimana dinyatakan Jessica Schicks (2010), pinjaman belum tentu menjamin keberlanjutan usaha. Banyak pelaku usaha menggunakan pinjaman untuk hal di luar kebutuhan atau konsumsi personal.

Fintech juga tak dapat berbicara banyak jika internet belum tersedia atau masyarakat tak punya cukup uang membeli telepon pintar. Maka pemerintah bersama otoritas terkait wajib memastikan ekosistem fintech berkembang baik.

Masih banyak tantangan dalam mengakselerasi inovasi teknologi di bidang keuangan. Namun, jika dilakukan dengan baik, fintech dapat membantu pedagang kecil dan kelompok marginal sehingga bisa terlibat dalam pasar ekonomi.

Walau terdengar utopia, tapi langkah itu terlihat ampuh dan paling masuk akal untuk mengurangi laju ketimpangan ekonomi.


×