Kru pesawat melambai pada media dari pintu pesawat maskapai Jetstar flight JQ505 yang tiba di Bandara Tullamarine, Sydney, Senin (1/11/2021). Pesawat yang tiba dari Singapura itu adalah yang pertama tiba dengan penumpang yang tak harus menjalani karantina | EPA-EFE/JAMES ROSS AUSTRALIA AND NEW ZEALAND

Internasional

04 Nov 2021, 03:45 WIB

Ahli: Pandemi Jadi Endemi 2022

Sejumlah ahli kesehatan di dunia memprediksi pandemi Covid-19 bakal menjadi endemi pada 2022.

JENEWA -- Sejumlah ahli kesehatan di dunia memprediksi pandemi Covid-19 bakal menjadi endemi pada 2022. Kendati demikian, mereka memperingatkan SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 ini tetap menjadi virus yang tak dapat diprediksi dan dapat bermutasi di antara populasi tak divaksinasi.

"Menurut kami, antara sekarang dan akhir 2022, ini adalah titik di mana kita bisa kembali mengendalikan virus ini, saat kita dapat secara signifikan menguragi penyakit parah serta kematian," kata ahli epidemiologi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Maria Van Kerkhove saat diwawancara Reuters, Rabu (3/11).

Pandangan atau perkiraan tersebut didasarkan pada hasil penelitian para ahli penyakit yang memetakan kemungkinan perjalanan pandemi selama 18 bulan ke depan. WHO memperkirakan, pada akhir 2022, 70 persen populasi dunia sudah divaksinasi.

"Jika kita mencapai target itu, kita akan berada dalam situasi yang sangat, sangat berbeda secara epidemiologis," ujar Van Kerkhove.

Namun, ia mengaku khawatir tentang negara-negara yang telah mencabut pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran Covid-19. "Sungguh menakjubkan bagi saya saat melihat orang-orang di jalanan, seolah-olah semuanya sudah berakhir," ucapnya.

Ia memperingatkan, seandainya prediksi bahwa Covid-19 bakal menjadi endemi pada tahun mendatang terbukti, bukan berarti tidak akan ada lagi korban meninggal akibat virus tersebut. "Endemi bukan berarti jinak," ujar Van Kerkhove.

Sejauh ini, Covid-19 varian Delta masih mengoyak Eropa, terutama di negara-negara dengan tingkat vaksinasi rendah, seperti Rumania dan Rusia. Delta juga menyebar di tempat-tempat yang telah mencabut kewajiban menggunakan masker.

Delta pun berkontribusi pada peningkatan infeksi baru-baru ini di Singapura dan Cina. Kedua negara itu memiliki tingkat vaksinasi tinggi, tapi kekebalan alaminya kecil karena tindakan penguncian atau karantina yang ketat.

"Transisi akan berbeda di setiap tempat karena akan didorong oleh jumlah kekebalan dalam populasi dari infeksi alami, dan tentu saja distribusi vaksin, yang bervariasi, dari satu negara ke negara lain," kata Marc Lipsitch, ahli epdemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Sementara di Amerika Serikat (AS), beberapa ahli memperkirakan gelombang Delta akan berakhir bulan ini. Itu bakal mewakili gelombang besar Covid-19 terakhir.

Ahli penyakit dari University of Washington, Chris Murray, memprediksi bahwa gelombang Delta di AS akan berakhir pada November. "Kami akan mengalami peningkatan musim dingin yang sangat sederhana (dalam kasus Covid-19). Jika tidak ada varian baru yang besar, maka Covid-19 mulai benar-benar mereda pada April (2022)," ucapnya.

Trevor Bedford, ahli virologi komputasi di Fred Hutchinson Cancer yang melacak evolusi SARS-Cov-2, melihat gelombang musim dingin yang lebih ringan di AS. Hal itu bakal diikuti transisi ke penyakit endemik pada 2022-2023.

Dia memproyeksikan, AS akan menghadapi 50-100 ribu kematian per tahun akibat Covid-19. Jumlah itu di atas perkiraan, yakni 30 ribu kematian per tahun akibat flu.

"Virus kemungkinan akan terus bermutasi, membutuhkan suntikan booster tahunan yang disesuaikan dengan varian terbaru yang beredar," kata Bedford.

Ahli epidemiologi dari Imperial College London, Neil Ferguson, memprediksi, kematian akibat Covid-19 di Inggris selama dua hingga lima tahun mendatang masih akan berada di atas rata-rata. Namun, hal itu tidak bakal membanjiri sistem kesehatan atau mengharuskan penerapan jarak sosial kembali.

"Ini akan menjadi evolusi bertahap. Kami akan menghadapi ini sebagai virus yang lebih bandel," kata Ferguson.

Saat ini pakar dan ilmuwan kesehatan tengah mencermati perkembangan Covid-19 varian Delta subvarian AY.4.2 yang telah terdeteksi di puluhan negara. WHO menyebut, peningkatan kasus AY.4.2 mulai diamati sejak Juli lalu.

Sumber : Reuters


×