Ilustrasi Muktamar NU. | ANTARA FOTO

Khazanah

03 Nov 2021, 10:57 WIB

Jelang Muktamar NU, Nahdliyin Diajak Berefleksi

Muktamar ke-34 NU akan digelar pada 23-25 Desember 2021 mendatang di Pondok Pesantren Darussa'adah, Lampung Tengah.

JAKARTA -- Berbagai elemen Nahdlatul Ulama (NU) terus bersiap dalam menyambut muktamar ke-34. Ketua Steering Committee (SC) Muktamar ke-34 NU Prof Mohammad Nuh mengatakan, persiapan tidak hanya meliputi aspek fisik, tetapi juga nonfisik.

Ia mengingatkan, jam’iyah tersebut kini menyongsong usia satu abad. Karena itu, ia menambahkan, berbagai pemikiran dan perenungan perlu digiatkan oleh seluruh Nahdliyin. 

“Dalam rangka 100 tahun NU, ada beberapa fenomena menarik,” kata ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu saat dihubungi Republika, Senin (1/11).

Sebagai contoh, Nuh menjelaskan, jumlah cendekiawan NU saat ini relatif lebih banyak daripada beberapa dekade silam. Pada era 1960-an, kata dia, tokoh-tokoh organisasi ini yang bergelar doktor cukup jarang ditemui. Barulah sejak 1980-an, dampak mobilitas vertikal dari dunia pendidikan kian terasa. Para pemuka Nahdliyin tidak hanya berasal dari kalangan ulama tradisional, tetapi juga profesional dengan pelbagai latar keilmuan umum.

Terkait itu, ia berharap para peserta muktamar nanti turut memikirkan arah NU ke depan. Potensi sumber daya insani yang majemuk dan berkualitas di organisasi tersebut seyogianya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa dan umat Islam, khususnya Nahdliyin. Terlebih lagi, tantangan zaman kini kian kompleks seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi.

“Maka, di kepengurusan yang akan datang, salah satu (tugasnya) menjahit seluruh potensi NU yang beragam itu,” ujar menteri pendidikan dan kebudayaan RI periode 2009-2014 itu.

Ia menuturkan, pada Januari 2026 mendatang seharusnya menjadi momen NU lepas landas (take-off). Sebelum saat itu tiba, Nuh mengimbau semua warga Nahdliyin untuk terus berpegang pada pilar-pilar organisasi, yakni kebangsaan, keilmuan, dan kesejahteraan. “Tiga pilar itu untuk 100 tahun ke depan harus diperkuat lagi supaya bisa take-off,” katanya.

Muktamar ke-34 NU akan digelar pada 23-25 Desember 2021 mendatang di Pondok Pesantren Darussa'adah, Lampung Tengah, Provinsi Lampung. Nuh mengakui, persiapan untuk menyelenggarakan forum tersebut cukup singkat, yakni sejak Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Jakarta, akhir September 2021 lalu. Untuk itu, pihaknya terus mengingatkan panitia agar bekerja secara total dan optimal.

Sekjen PBNU Ahmad Helmy Faishal Zaini meminta panitia agar dapat menciptakan penyelenggaraan muktamar yang sejuk, tenang, dan damai. Forum yang bermartabat, ia menambahkan, ditandai dengan adanya situasi yang terkendali. Masalah yang bersifat internal hendaknya tidak sampai berdinamika di luar. Berbagai peristiwa yang terjadi pada muktamar-muktamar terdahulu seyogianya menjadi pelajaran bersama.

“Berkualitas dari sisi keputusan yang diambil merupakan bagian dari harapan para warga NU, baik masalah-masalah keagamaan, sosial kemasyarakatan, maupun kebangsaan,” kata Helmy seperti dilansir Republika dari laman resmi NU, kemarin.

Helmy juga mengusulkan kepesertaan muktamar terdiri atas dua unsur, yakni satu orang dari syuriyah dan seorang lagi dari tanfidziyah. Alhasil, keterwakilan dibatasi hanya dua orang dari setiap cabang dan wilayah. Pada muktamar-muktamar sebelumnya yang dihelat dalam situasi nonpandemi, kepesertaan biasanya terwakili tujuh orang, yakni unsur syuriyah (tiga orang), tanfidziyah (tiga orang), serta kiai kultural (satu orang).

Agenda pembukaan Muktamar ke-34 NU akan dilangsungkan secara terbatas dan hybrid. Sebagian peserta diarahkan untuk mengikuti acara tersebut secara daring. Dihubungi pada Ahad (31/10), Sekretaris SC KH Asrorun Niam Sholeh memastikan pertemuan itu akan dijalankan dengan protokol kesehatan.


×