Ilustrasi shelter biskita transpakuan bogor. | ANTARA FOTO

Bodetabek

03 Nov 2021, 10:43 WIB

Biskita Transpakuan Bogor Mulai Uji Coba 

Biskita Transpakuan Bogor akan menjadi dambaan transportasi masyarakat Kota Bogor.

BOGOR -- Biskita Transpakuan mulai diuji coba di Kota Bogor, Selasa (2/11). Ini merupakan layanan angkutan umum massal dengan konsep Bus Rapid Transit (BRT). Total 49 bus yang akan diterima Kota Bogor tahun ini, bisa digunakan masyarakat secara gratis hingga akhir 2021.

Program ini merupakan program Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan untuk pengembangan transportasi massal di wilayah Bogor Depok Tangerang Bekasi (Bodetabek). Pilot project adalah di Kota Bogor.

“Ini pertama kali, mudah-mudahan bermanfaat buat masyarakat. Langkah ini merupakan upaya bersama antara BPTJ dan Pemkot Bogor dalam menghadirkan layanan angkutan umum massal dengan standar pelayanan minimum (SPM), melalui subsidi dengan skema buy the service (BTS),” ujar Kepala BPTJ, Polana B Pramesti, di Balai Kota Bogor, Selasa (2/11).

Polana mengatakan, pelayanan Biskita Transpakuan harus dihadirkan dengan standar layanan yang jauh lebih baik, dibandingkan angkutan konvensional. Konsep ini menjadi acuan SPM yang mempersyaratkan pemenuhan berbagai aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan dan yang paling penting adalah kemudahan pelayanan. 

Teknologi digital juga dapat memudahkan masyarakat untuk menggunakan transportasi massal ini. Sebab, layanan ini merupakan konsep kebijakan yang bersifat full strategi, yang diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk beralih ke angkutan umum massal. Kini, Pemkot Bogor perlu membuat kebijakan yang bersifat push policy, untuk mendorong masyarakat lebih memilih menggunakan angkutan umum massal.

Pantauan Republika, bus tersebut berukuran 3/4 dengan kapasitas 35 orang. Bus ber AC itu berapasitas tempat duduk 20 orang dan 15 orang berdiri. Sisi luar bus terdapat motif batik Bogor berwarna ungu.

Bagian dalam bus, terdapat CCTV yang dapat mengontrol laju bus dan para pengemudi. Pengemudi bus merupakan sopir angkot yang dikonversi menjadi sopir bus. Di dalam bus juga terdapat pengeras suara yang menyebutkan ke mana pemberhentian bus selanjutnya.

Sebanyak 10 unit bus yang diuji coba pada Selasa (2/11) akan melintas di Koridor 5 dengan belasan titik berhenti. Bus ini melintasi rute Ciparigi, Warung Jambu, Ahmad Yani, Air Mancur, fly over Martadinata, Merdeka, Jembatan Merah, dan Stasiun Bogor. Kemudian, dari Stasiun Bogor kembali lagi menuju Ciparigi melalui Jalan Juanda, Sudirman, Pemuda, Warung Jambu, Sholeh Iskandar, Talang, Simpang Pomad.

Salah seorang penumpang, Paulina (66 tahun) mengaku senang dengan adanya perkembangan transportasi massal di Kota Bogor. Tidak hanya kendaraan yang nyaman dan bersih, tapi staf yang bekerja di Biskita Transpakuan juga ramah dan tidak menyulitkan penumpang.

Namun, dia meminta adanya perhatian seperti jaminan kesehatan, bagi penumpang lanjut usia (lansia) seperti dirinya. “Seperti saya, neli atau nenek lincah kalau ada yang jatuh terus sakit gimana nih keputusannya? Harus kerja sama dengan ambulans ataupun rumah sakit. Itu yang kami perhitungkan. Harus ada jaminan kesehatan kalau terjadi apa-apa,” tutur wanita berkerudung ini.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bima Arya (bimaaryasugiarto)

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, mengatakan, hadirnya Biskita Transpakuan dari BPTJ Kemenhub ini, merupakan awal dari kebiasaan baru masyarakat Kota Bogor. Baik yang sebelumnya menggunakan kendaraan pribadi, begitu juga yang terbiasa menggunakan kendaraan umum konvensional. Sebab, Biskita Transpakuan ini selaras dengan program konversi angkot 3:1 di Kota Bogor.

Bima Arya menyebutkan, masyarakat Kota Bogor nantinya bisa membiasakan diri berhenti pada tempatnya, seperti shelter, tidak membuang sampah sembarangan di kendaraan umum, menggunakan sistem pembayaran nontunai, dan lain-lain. Hal itu tentunya akan dilakukan sambil sosialisasi hingga akhir tahun nanti.

“Termasuk membiasakan sopir untuk tidak menggoda penumpang, menaati standar pelayanan minimalnya semua. Membiasakan untuk selalu mengingatkan apabila semua itu ada yang perlu dikuatkan, ada yang perlu disempurnakan. Ada waktu sosialisasi bagaimana cara membayarnya semua,” ujarnya.

Dia memastikan, baik para pengemudi, pengelola badan hukum, maupun Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor memberikan pelayanan maksimal. Dengan tujuan memanjakan masyarakat Kota Bogor yang terlalu lama memimpikan pelayanan publik transportasi yang nyaman.

Selaku operator pemenang lelang, Plt Direktur Utama Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) Kota Bogor, Eko Wibisono, mengatakan, PDJT yang berkonsorsium dengan PT Kodjari Tata Angkutan dan Lorena

“Itu kami sudah berbagi peran. Pengelolaan di kami. Lorena untuk manajemen operasi dan pemeliharaan. Kodjari investor bus, karena PDJT belum punya modal kerja dan sebagainya,” ujarnya.


×