Sejumlah pelajar menunggu waktu pergantian kelas saat pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) di SD Negeri 064979, Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatra Utara, Senin (1/11/2021). Vaksin Sinovac aman dan ampuh membentuk kekebalan anak usia 6-11 tahun. | ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/Lmo/wsj.

Kabar Utama

02 Nov 2021, 03:45 WIB

BPOM: Sinovac Ampuh untuk Anak Usia 6-11 Tahun

Vaksin Sinovac aman dan ampuh membentuk kekebalan anak usia 6-11 tahun.

JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan emergency use authorization (EUA) atau izin penggunaan darurat vaksin Sinovac untuk anak usia 6-11 tahun pada Senin (1/11). Menurut Kepala BPOM Penny K Lukito, vaksin Sinovac aman dan ampuh membentuk kekebalan anak usia 6-11 tahun.

Penny menjelaskan, hasil uji klinis menunjukkan bahwa tingkat imunogenisitas atau kemampuan vaksin Sinovac dalam memicu respons imun tubuh pada anak usia 6-11 tahun lebih besar dibandingkan pada orang dewasa. "Tingkat imunogenisitas pada anak 96,15 persen, dewasa 89,04 persen. Dari sisi keamanan, Sinovac juga aman untuk anak usia 6-11 tahun," kata Penny dalam konferensi pers, Senin (1/11). 

Dia menjelaskan, laporan hasil uji klinis juga menunjukkan bahwa efek samping yang muncul akibat vaksinasi serupa dengan kelompok anak usia 11-17 tahun, yaitu sekitar 11 persen hingga 17 persen dari total subjek uji klinis. Izin penggunaan vaksin Sinovac untuk anak usia 11-17 tahun sebelumnya sudah diterbitkan dan dinyatakan aman untuk digunakan.

"Jadi sekarang penggunaan dari vaksin Sinovac bisa digunakan untuk vaksinasi anak untuk usia 6 sampai dengan 17 tahun dan tentunya dewasa," kata Penny. 

Ia mengatakan, vaksinasi anak merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Apalagi, saat ini pembelajaran tatap muka (PTM) sudah dimulai. Penny pun berharap BPOM bisa segera memberikan izin penggunaan darurat terhadap vaksin Pfizer dan Sinopharm untuk kelompok usia anak umur 6 hingga 11 tahun.

Saat ini, kata Penny, BPOM masih menunggu detail dari pihak pengawas obat AS mengenai data evaluasi, khususnya bagi penggunaan untuk anak usia 6-11 tahun. Oleh sebab itu, pemberian izin itu harus ditunda untuk sementara waktu. 

Ia mengatakan, izin penggunaan vaksin bagi anak hingga kini belum  dikantongi pihak Pfizer. Agar dapat digunakan, BPOM berupaya aktif meminta pihak Pfizer segera memenuhi persyaratan yang dibutuhkan agar izin tersebut dapat segera diterbitkan.

"Hanya kami tentunya membutuhkan yang bersangkutan dalam hal ini pihak Pfizer mendaftarkan produk tersebut untuk penggunaan anak. Itu yang kami tunggu, bahkan kami proaktif mengejar juga karena tentunya ingin memberikan beberapa alternatif untuk vaksin yang bisa digunakan untuk anak," ungkap Penny.

Permasalahan serupa juga terjadi pada vaksin Sinopharm. BPOM mendesak pihak terkait segera melengkapi data yang diperlukan agar vaksin tersebut dapat segera digunakan untuk kelompok umur anak-anak.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso memastikan, pihaknya segera menyusun aturan detail terkait penggunaan vaksin Sinovac pada anak usia 6-11 tahun. Piprim menuturkan, saat ini sebenarnya hanya sedikit kasus yang menunjukkan adanya kontraindikasi terhadap vaksin jenis tertentu pada anak. 

photo
Seorang pelajar menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis kedua yang digelar oleh Humas Polda NTT dalam rangka memperingati HUT ke-70 Humas Polri di Kota Kupang, NTT, Sabtu (30/10/2021). Pelaksanaan vaksinasi COvid-19 bagi pelajar di kota itu dalam rangka mempercepat capaian vaksinasi karena sampai Sabtu (30/10/2021) capaian vaksinasi di Kota Kupang baru mencapai 3,16 persen dari total sasaran 582.844 orang. - (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/aww. )

Namun, untuk mengantisipasinya, IDAI tetap menyusun detail penggunaan vaksin, khususnya bagi anak yang memiliki kondisi khusus tertentu. "Pada prinsipnya amat sedikitlah yang akan mengalami ada kontraindikasi. Jadi sebagian besar anak kami harapkan dapat menerima vaksin ini," kata Piprim, kemarin. 

IDAI juga memastikan penggunaan vaksin Covid-19 tidak akan berimplikasi langsung pada vaksin lain yang digunakan pada kelompok umur tersebut. Oleh sebab itu, ia meminta kepada orang tua dan seluruh pihak sekolah untuk dapat mendukung program vaksinasi agar dapat berjalan efektif.

"Jadi kami bisa kerja sama dengan sekolah biar lebih efektif ya, karena ini kan sebagian besar anak usia SD," katanya. 

Piprim mengingatkan, vaksinasi Covid-19 pada anak sangat penting. Apalagi, angka kematian anak akibat Covid-19 di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia, meskipun secara persentase hanya di kisaran 1 persen. Selain itu, anak kerap menjadi carrier atau pembawa virus Covid-19 dan tanpa gejala yang bisa menularkan pada orang tua atau lansia yang rentan apabila terinfeksi.

"Karena anak-anak selain bisa tertular, juga bisa menularkan. Anak-anak ini banyak yang jadi OTG, sehingga tidak ketahuan dan bisa menularkan kemana-mana," katanya. 

Piprim menyatakan, IDAI dengan anggotanya yang lebih dari 4.600 dokter anak siap mendukung program vaksinasi Covid-19 untuk anak usia 6 sampai 11 tahun. Hal ini sebagaimana yang sudah dilakukan pada program vaksinasi untuk anak usia 11-17 tahun.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 saat ini akan tetap difokuskan terhadap para lansia. Sedangkan untuk pelaksanaan vaksinasi terhadap anak-anak, kata dia, akan ada skala prioritas yang ditetapkan.  “Untuk vaksinasi terhadap anak-anak, tahap awal diterapkan di daerah yang cakupan vaksinasi lansia-nya sudah sudah tinggi," kata Muhadjir, kemarin. 

Vaksinasi anak penting dilakukan mengingat belakangan marak muncul kasus Covid-19 di lingkungan sekolah. Kasus Covid-19 yang menimpa anak sekolah juga berasal dari siswa di jenjang sekolah dasar (SD). Hal itu seperti yang terjadi di Kota Bandung. 

Wali Kota Bandung Oded M Danial menilai, penyelenggaran PTM terbatas di Kota Bandung masih terkendali meski ratusan siswa dan guru dinyatakan terpapar Covid-19. Akibat kondisi tersebut, sebanyak 50 sekolah menghentikan PTM dan beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). 

Terkait angka terbaru, Oded mengaku belum mendapatkan laporan dari Dinas Pendidikan Bandung. "Tapi, sejauh ini PTM masih dalam kendali," kata Oded kepada wartawan di Balai Kota Bandung, Senin (1/11). 

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung Cucu Saputra, mengatakan, total sekolah yang sudah dilakukan tes acak Covid-19 sebanyak 212 sekolah hingga Jumat (29/10). Jumlah sampel yang sudah diperiksa sebanyak 8.206, sedangkan hasil yang sudah keluar sebanyak 7.515 dari total 190 sekolah.

"Positif 243 dan negatif 7.272," katanya. Jumlah positif Covid-19 terdiri dari 224 siswa dan 19 orang guru.

Cucu melanjutkan, hasil tes PCR siswa dan guru di 50 sekolah mencapai di atas 5 persen yang hasilnya positif Covid-19. Sesuai ketentuan, kata dia, PTM harus dihentikan sementara. 

photo
Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 kepada warga berusia 12-17 tahun di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (3/7/2021). Vaksinasi massal tersebut diperuntukan bagi kalangan anak usia 12-17 tahun dan masyarakat umum yang berlangsung hingga 4 Juli 2021 dengan target 1,3 juta anak usia 12-17 tahun di DKI Jakarta telah divaksin. - (Republika/Thoudy Badai)

Stok Vaksin Cukup untuk Sebulan 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan Indonesia hingga saat ini telah memiliki 252 juta dosis vaksin Covid-19. Sebanyak 241 juta dosis di antaranya sudah didistribusikan dan sudah terpakai sebanyak 194 juta dosis. 

Dengan demikian, menurut Budi, masih ada sekitar 47 juta dosis vaksin siap pakai di provinsi, kabupaten, dan kota. "Jumlah itu relatif cukup untuk cadangan suntikan satu bulan ke depan," ujar Budi saat konferensi pers usai rapat terbatas kebijakan PPKM secara daring, Senin (1/11).

Menkes mengatakan, jumlah stok 47 juta dosis vaksin cukup untuk satu bulan mengacu pada laju vaksinasi saat ini. Menurut dia, Indonesia bisa menyuntikkan 50 juta dosis vaksin dalam lima pekan. 

"Karena laju suntikan kita kan sekitar 50 juta dalam lima pekan, jadi masih cukup stoknya yang ada di kabupaten, kota, provinsi untuk satu bulan," ujarnya.

Budi mengungkapkan, angka vaksinasi nasional saat ini sudah mencapai 194 juta suntikan. Budi berharap dengan laju suntikan mencapai 50 juta per lima pekan, pekan ini angka vaksinasi bisa menyentuh 200 juta suntikan. 

Dengan kecepatan vaksinasi saat ini, Budi memprediksi capaian vaksinasi dosis lengkap atau dosis kedua bisa mencapai 59 persen pada akhir tahun.  "Perhitungan kami, pada akhir tahun vaksinasi dosis pertama 168 juta orang atau 80,9 persen. Dosis lengkap 123 juta orang atau 59 persen," katanya. 

Ia memerinci, angka vaksinasi dosis pertama saat ini sebanyak 119 juta orang atau 57 persen. Adapun capaian vaksinasi dosis kedua sebanyak 3,8 juta orang atau 35 persen.

Budi mengatakan, Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin dalam dalam rapat terbatas kebijakan PPKM pada Senin (1/11) telah mengingatkan imbauan Badan Kesehatan Dunia (WHO) agar seluruh negara bisa mencapai angka vaksinasi lengkap sebanyak 40 persen.

Budi meyakini Indonesia mampu melampaui target capaian vaksinasi tersebut hingga akhir tahun, mengacu kemampuan vaksinasi dan jumlah stok vaksin saat ini. "Indonesia Insya Allah bisa 60 persen, jadi sudah melampaui target yang diberikan oleh teman-teman di WHO," kata Budi. 

Untuk meningkatkan capaian vaksinasi, pemerintah daerah terus menggencarkan vaksinasi bagi masyarakat lanjut usia (lansia). Hal ini seperti yang sedang dilakukan Pemerintah Kota Cirebon dengan mendatangi rumah lansia secara door to door.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Edy Sugiarto mengatakan, Kota Cirebon sebenarnya telah memenuhi semua persyaratan untuk mencapai level 1 PPKM. Hanya capaian vaksinasi lansia yang hingga kini belum terpenuhi.

Berdasarkan data covid19.cirebonkota.go.id, vaksinasi Covid-19 tahap satu di Kota Cirebon mencapai 243.915 orang (93,03 persen) dan vaksinasi tahap kedua sudah mencapai 161.397 orang (61,56 persen). Sedangkan untuk lansia, capaian vaksinasi Covid-19 pertama mencapai 15.250 orang (59,15 persen) dan vaksinasi kedua mencapai 10.933 orang (42,40 persen).

"Capaian vaksinasi lansia hanya tinggal nol sekian persen. (Jika tercapai), Kota Cirebon sudah level 1 (PPKM)," ujar Edy, Senin (1/11).

Untuk itu, Dinkes Kota Cirebon akan terus mendorong agar capaian vaksinasi Covid-19 pada lansia bisa mencapai 60 persen. Dengan demikian, Kota Cirebon yang saat ini masih berada di level 2 PPKM, bisa segera masuk level 1 PPKM. "Kita akan push," kata Edy.

Sumber : Antara


×