Seorang warga melintasi banjir di Kelurahan Bumi Ayu Dumai, Riau, Kamis (28/10/2021). Hujan deras yang mengguyur Dumai tiga malam berturut-turut mengakibatkan bencana banjir di sejumlah kecamatan dengan dampak terparah di Kecamatan Dumai Selatan dan Dumai | ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

Kabar Utama

02 Nov 2021, 03:11 WIB

Banjir dan Longsor Mulai Mengancam

BMKG Bandung mengungkapkan perubahan iklim yang terjadi saat ini mempengaruhi temperatur dan curah hujan.

JAKARTA -- Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah daerah mulai dilanda banjir. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca ekstrem berpotensi terjadi di hampir seluruh provinsi hingga 6 November.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, hasil analisis kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya potensi belokan dan perlambatan angin yang dapat meningkatkan pola konvektifitas serta aktifnya fenomena MJO, gelombang Rossby, dan gelombang Kelvin.

"Ini dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan,” kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan tertulis, Senin (1/11).

BMKG memprakirakan potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang, berpotensi terjadi di 33 provinsi pada pekan ini. Beberapa wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan, antara lain, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Deputi Bidang Pencegahan telah meminta BPBD di seluruh wilayah provinsi untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

"Pada Jumat lalu (22/10), Deputi Bidang Pencegahan BNPB telah menyampakan langkah-langkah kesiapsiagaan, khususnya menghadapi dampak fenomena La Nina di Tanah Air," kata Abdul, kemarin.

photo
Relawan bersama warga dan TNI-Polri bergotong royong membersihkan material longsor yang menutup jalan di kawasan lereng gunung Sumbing Desa Umbulsari, Windusari, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (28/10/2021). Hujan deras pada Rabu (27/10/2021) menyebabkan tebing setinggi 15 meter dengan panjang 25 meter longsor menutup akses jalan antar kabupaten Magelang dengan Temanggung. - (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

BNPB mengimbau BPBD dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem tersebut. Ia menambahkan, beberapa langkah kesiapsiagaan perlu dilakukan sejak dini, seperti mengaktifkan tim siaga bencana hingga tingkat desa maupun koordinasi antar desa di bagian hulu dan hilir.

Musibah banjir salah satunya telah melanda Kabupaten Pidie, Aceh. Sebanyak 120 rumah warga dilaporkan rusak akibat banjir yang terjadi pada Jumat (29/10) malam. Bencana ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi dan meluapnya Sungai Krueng Peunalom.

Abdul mengatakan, dari 120 rumah itu, sebanyak 69 rumah di antaranya rusak berat. Sisanya rusak ringan. Rumah yang rusak itu, kata dia, tersebar di Gampong (sebutan desa di Aceh) Peunalom I, Gampong Peunalom II, Gampong Layan, dan Gampong Pulo Mesjid. Semua gampong terdampak itu berlokasi di Kecamatan Tangse.

Kendati demikian, Abdul mengatakan banjir sudah surut per Ahad (31/10) siang. Warga pun mulai membersihkan rumah masing-masing. "Proses pembersihan sisa material banjir dipercepat dengan mengerahkan alat berat," kata Abdul.

Bantuan logistik bagi warga terdampak juga sudah diberikan. Menurut dia, sejumlah LSM turut membagikan kebutuhan logistik kepada warga.

Ia mengatakan, fenomena La Nina berpotensi terjadi pada periode Oktober 2021 sampai Februari 2022. "Peningkatan curah hujan ini berpotensi memicu terjadinya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang," ujarnya.

Hujan dengan intensitas tinggi juga memicu terjadinya banjir di Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. Drainase yang tersumbat memperparah peristiwa yang terjadi pada Ahad (31/10) pukul 15.00 waktu setempat.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan Essa Nugraha mengatakan, sebanyak 31 kepala keluarga (KK) terdampak dan 31 rumah terendam akibat fenomena tersebut. Tinggi Mata Air (TMA) saat kejadian berkisar antara 60 -100 sentimeter dan memaksa warga untuk mengungsi ke posyandu dan rumah kerabat.

"Diungsikan di posyandu dan rumah warga lainnya. Kami pasang tenda milik warga sekitar di depan posyandu," kata Essa, Senin (1/11).

Di Jawa Barat, hujan deras pada Ahad (31/10) sore menyebabkan lima titik lokasi di Desa Mekarsari, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, mengalami bencana longsor. Akibatnya, beberapa rumah warga mengalami kerusakan dan sebagian longsor sempat menutup akses jalan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung mencatat, longsor terjadi di pemukiman warga di Desa Mekarsari pukul 18.30 WIB. Longsor pertama memutus akses jalan warga. Ketinggian tebing yang longsor mencapai 15 meter dan memiliki panjang 20 meter.

Longsor kedua menimpa rumah warga. Sedangkan longsor ketiga, keempat, dan kelima memiliki ketinggian longsor dan panjang yang berbeda. "Longsor di lima titik akibat curah hujan tinggi," ujar Kepala BPBD Kabupaten Bandung Ahmad Djohara.

photo
Sejumlah pengungsi banjir mendapatkan pelayanan kesehatan di Kelurahan Bukit Datuk Dumai, Riau, Senin (1/11/2021). Pusat Layanan Kesehatan milik pemerintah setempat memberikan pelayanan kesehatan kepada pengungsi banjir yang mulai terserang penyakit seperti demam, batuk, iritasi kulit dan diare serta memberikan bantuan berupa makanan sebagai asupan gizi khususnya bagi anak-anak. - (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/wsj.)

Antisipasi 

Pemerintah daerah menyatakan telah mengantisipasi bencana banjir seiring mulai masuknya musim penghujan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, pihaknya akan terus memperbaiki sistem drainase dan melakukan pembebasan lahan untuk pencegahan banjir.

Ia mengatakan, Pemprov DKI sedang merealisasikan pembuatan sumur resapan, gerebek lumpur, situ, dan pengerukan. "Ada 13 sungai, 31 waduk lebih yang kita keruk setiap tahun," jelas Riza saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (1/11).

Dia mengatakan, Pemprov DKI Jakarta mengerahkan sekitar 257 ekskavator yang dioperasikan selama hari kerja di semua musim. Menurutnya, masalah cuaca ekstrem dengan intensitas tinggi kali ini memang akan berlangsung lama.

"Pemerintah terus memperbaiki, merevisi, berbagai regulasi yang ada. Logistik semua sudah siapkan sampai perahu karet," tuturnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mewanti-wanti seluruh daerah menyiapkan rencana aksi mitigasi guna meminimalisir dampak kerugian dan korban menghadapi fenomena La Nina yang diprediksi terjadi di pengujung 2021. Fenomena La Nina berpotensi meningkatkan curah hujan yang juga mendorong peningkatan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

Pemerintah daerah, kata Khofifah, perlu memastikan kesiapan personel, alat, dan sarana pendukung agar tidak gagap jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Mitigasi yang menurutnya bisa dilakukan adalah dengan membersihkan saluran air dan selokan, pengerukan sungai, pembenahan tanggul sungai, optimalisasi drainase, pemangkasan pohon, dan sebagainya.

photo
Warga membersihkan perabotan rumahnya yang terendam banjir akibat luapan kali Bekasi di Teluk Pucung, Bekasi Utara, Jawa Barat, Ahad (31/10/2021). Banjir setinggi 40-80 cm merendam rumah warga terjadi pada pukul 01.00 WIB dini hari. - ( ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.)

Khofifah mengingatkan, kesiapsiagaan tidak saja harus disiapkan di level pemerintah daerah saja. Masyarakat juga harus diajak untuk sadar lingkungan, agar memahami risiko bencana yang dihadapi. Karena, kata dia, gotong royong menjadi salah satu upaya meminimalisir risiko bencana.

“Misalkan sungai di wilayah tersebut rawan banjir akibat pendangkalan atau sedimentasi, maka masyarakat sekitar bisa bergotong royong melakukan normalisasi sederhana, menanam pohon, dan sebagainya. Di titik mana butuh support dari pemerintah, maka hal tersebut bisa dikomunikasikan,” kata Khofifah, Senin (1/11).

photo
Peta persebaran bencana alam per 1 November 2021 berdasarkan data BNPB. - (BNPB)

Perubahan iklim

BMKG Bandung mengungkapkan perubahan iklim yang terjadi saat ini mempengaruhi temperatur dan curah hujan. Kondisi tersebut sudah terjadi di level global, nasional dan lokal. Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu mengatakan pihaknya telah melakukan observasi temperatur dan curah hujan terkait perubahan iklim dan terjadi kenaikan temperatur dengan rata-rata kenaikan 0,4 derajat celcius dibandingkan dengan rata-rata tahun 1981-2010.

Pola curah hujan menunjukan adanya kenaikan pada musim hujan dan penurunan curah hujan pada saat musim kemarau. "Atau musim hujan semakin surplus air, dan pada musim kemarau semakin defisit air," ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima, Senin (1/11).

Ia mengatakan perubahan iklim sudah terjadi di level global, nasional, maupun lokal.

photo
Warga berjalan sambil membawa payung saat hujan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (1/11/2021). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang untuk berbagai wilayah di Indonesia hingga 6 November 2021. - (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.)

Terkait hubungan perubahan iklim dengan kejadian ekstrem, Teguh Rahayu mengatakan cuaca ekstrem terjadi apabila curah hujan di atas 150 mm. Namun kaitan langsung antara perubahan iklim dengan kejadian cuaca ekstrim masih sulit dijelaskan secara definitif ataupun secara fisis.

"Hal ini disebabkan oleh masih kurangnya data observasi secara global dan juga pemahaman terhadap proses fisis masih dipahami secara parsial, hingga kesimpulan pasti sulit untuk ditentukan, namun secara empiris, kedua kejadian ini berkorelasi positif," katanya.

Ia menambahkan, BMKG selama ini melakukan monitoring perubahan iklim di Indonesia dengan memantau konsentrasi CO2 di atmosfer yang dilakukan oleh stasiun GAW di Kototabang, Sumatera Barat. Pengamatan yang dilakukan sejak tahun 2004 hingga tahun 2020 menunjukan tren kenaikan konsentrasi CO2 di atmosfer Indonesia sejalan dengan pantauan konsentrasi CO2 global.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BMKG (infobmkg)

Rahayu menambahkan perubahan iklim didefinisikan IPCC sebagai perubahan kondisi skala iklim yang diidentifikasi berdasarkan perubahan rata-rata variabel dan variabilitasnya yang bertahan dalam jangka panjang (lebih dari 30 tahun). UNFCC memberi definisi perubahan iklim sebagai perubahan yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia (antropogenik).

Kondisi tersebut yang berdampak pada perubahan komposisi atmosfer global, selain variabilitas iklim alami yang diamati selama periode tertentu. Variabel utama yang terukur dan menjadi acuan perubahan utama adalah temperatur. ';

×