Warga memakai topeng bergambar peserta Pilpres 2019, Joko Widodo (kiri) dan Prabowo Subianto (kanan) saat aksi Rukun Agawe Santoso pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Solo, Jawa Tengah, Ahad (13/10/2019). | ANTARA FOTO

Nasional

01 Nov 2021, 03:45 WIB

Pengamat Prediksi Arah Dukungan Jokowi pada 2024

Presiden dinilai bisa menjadi king maker dalam pertarungan 2024 meski bukan pimpinan parpol.

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo dipercaya masih memiliki pengaruh besar di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Dukungan yang akan diberikan Presiden Jokowi kepada calon presiden (capres) bahkan diperkirakan bisa turut mempengaruhi suara pemilih.

Pengamat Politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menduga pengaruh Presiden Jokowi pada Pilpres 2024 masih akan besar. Menurutnya, capres yang didukung Presiden Jokowi akan mendapat keuntungan elektoral.

Karyono menilai Presiden Jokowi masih punya peranan di Pilpres 2024 walau bukan pimpinan partai politik. "Secara politik sebagai presiden, Jokowi memiliki pengaruh cukup kuat di dalam konfigurasi dan konstetasi 2024," kata Karyono dalam keterangannya, Ahad (31/10).

Karyono menyinggung Jokowi adalah presiden yang menjabat dua periode. Jokowi pun masih menjabat sebagai Presiden ketika Pilpres 2024 berlangsung.

"Saya menduga Presiden bisa menjadi king maker dalam pertarungan 2024. Jokowi bisa menjadi bandul politik. Artinya dukungan Pak Jokowi kepada siapa pun itu masih memiliki pengaruh," ujar Karyono.

Karyono menduga Presiden Jokowi tengah mengkalkulasi dukungan politik yang akan diberikan pada Pilpres 2024. Ia memprediksi dukungan Jokowi bisa diberikan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ketua DPR Puan Maharani atau Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kalau ketiganya melenggang ke Pilpres 2024.

"Dengan Pak Ganjar, Jokowi memiliki kedekatan beberapa kali kunjungan kerja ke Jawa Tengah, begitu pula dengan Puan Maharani. Presiden juga beberapa kali mengajak Prabowo kunjungan kerja ke luar daerah," ujar Karyono.

Selain itu, Karyono menekankan bahwa dukungan kepada capres oleh Presiden Jokowi merupakan simbiosis mutualisme. Ia menduga Jokowi berharap presiden penggantinya dapat melanjutkan sejumlah program yang digagas seperti Ibu Kota Negara dan proyek strategis nasional lain.

Sedangkan para capres dipastikan memerlukan dukungan Presiden Jokowi. "Nanti bisa saja Presiden yang akan mendekati para capres atau sebaliknya capres yang akan mendekati Pak Jokowi," ucap Karyono.

Walau demikian, Karyono menyebut dukungan Presiden Jokowi bisa dilakukan secara terang-terangan atau diam-diam. "Saya yakin beliau pasti akan bersikap. Kan Presiden sempat bilang pada pendukungnya bahwa untuk Pilpres 2024 sabar menunggu," sebut Karyono. 

Ambang batas

Pendiri Lembaga Survei KedaiKopi (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) Hendri Satrio mendukung bila ambang batas pencalonan Presiden atau Presidential Threshold (PT) dihapuskan. Menurutnya, syarat PT justru menyulitkan masyarakat menentukan pemimpin yang diinginkan.

Tokoh yang ingin mendaftar sebagai capres di Pilpres 2024 wajib memenuhi syarat PT sebesar 20 persen. Hanya PDIP yang mampu memenuhi syarat tersebut alias bisa mengusung capresnya sendiri. Adapun parpol lain wajib membentuk koalisi guna memenuhinya.

"Threshold harusnya memang enggak ada...agak percuma juga threshold ini untuk membatasi ruang gerak rakyat dalam tentukan siapa capres yang mereka inginkan," kata Hendri kepada Republika, Jumat (29/10).

Hendri memandang PT sebenarnya tak akan membuat capres terlampau banyak hingga menyulitkan KPU dan membingungkan masyarakat. Sebab, mereka yang ingin melaju sebagai capres wajib punya dukungan dana yang memadai.

"Dan saya yakin kalau pun nol persen (PT) enggak akan sembarangan juga orang calonkan jadi capres karena mahal biayanya," ujar Hendri.

Oleh karena itu, Hendri memprediksi capres yang siap bertarung di Pilpres 2024 tak sampai enam orang bila syarat PT dihapus. "Kalau pun nol persen PT-nya capres enggak akan lebih dari lima, duitnya siapa yang mau bayar kan mahal," ucap Hendri.


×