Santri menunjukkan produk kartu pintar (Smart Card) | Republika
31 Oct 2021, 18:07 WIB

Baznas: Cashless Society ala Pesantren Mustahik

Smart Card ini bisa digunakan untuk buku tabungan siswa, transaksi pembayaran di koperasi, hingga kartu perpustakaan. 

Menghadapi era 4.0, lembaga pendidikan Islam terus berbenah. Beragam inovasi lewat digitalisasi terus dilakukan. Sekolah Cendikia Baznas (SCB) berkolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) berupaya untuk menjawab kebutuhan zaman tersebut dengan produk kartu pintar (Smart Card). “Ini cashless kita di pesantren,”ujar Kepala SCB Ustaz Ahmad Kamaludin Afif saat berbincang dengan Republika di gedung SCB, Cirangkong, Bogor, Jawa Barat, belum lama ini. 

Selain berfungsi sebagai kartu pelajar, Smart Card ini bisa digunakan untuk buku tabungan siswa, transaksi pembayaran di koperasi, hingga kartu perpustakaan. Smart Card ini pun terkoneksi dengan aplikasi di gadget yang bisa diakses setiap saat. “Jadi siswa kalau jajan gak pakai uang. Tapi pakai kartu tinggal di scan barcode,”tambah Ustaz Ahmad. 

Menurut Ustaz Ahmad, dengan kartu ini, besaran nominal jajan siswa bisa jauh lebih terkontrol. Mereka bahkan memiliki batasan transaksi sebesar Rp 300 ribu per bulan dan Rp 75 ribu per pekan. Santri tak bisa berbelanja jika sudah melampaui limit tersebut. Kartu pintar ini pun bisa menjadi media orang tua untuk mengirim uang kepada anaknya. Lewat aplikasi, orang tua juga bisa mengecek penggunaan uang elektrik anak selama berada di sekolah. 

Terkait

 

 

Jadi siswa kalau jajan gak pakai uang. Tapi pakai kartu tinggal di scan barcode

 

 

 
 

Menurut Ustaz Ahmad, kartu pintar ini juga digunakan Baznas  daerah untuk mendonasikan uang untuk anak mustahik yang dituju. Lewat kartu ini,  Baznas daerah bisa lebih mudah memantau penggunaan uang saku yang dikirim untuk anak mustahik tersebut.  Kartu ini pun menjadi media bagi donatur untuk mengirim uang kepada anak mustahik yang diinginkan. Setelah melihat profil para santri SCB melalui aplikasi, mereka bisa mengirim langsung uang kepada anak yang dituju. 

Pimpinan Baznas yang membidangi Direktorat Pendistribusian dan Pendayagunaan (DPP),  Saidah Sakwan mengatakan, SCB terus melakukan inovasi dalam dunia pendidikan. Hal tersebut dilakukan demi menghadapi tantangan zaman. Siswa pun sudah memasuki era industri 4.0 dimana kini dunia sudah berbasis internet.“ Kita punya MoU dengan Bank Syariah Indonesia, ini bentuk komitmen kita untuk membangun ekosistem ekonomi Islam perbankan syariah melalui Zakat Infaq dan Sodaqoh. Seluruh program yang disitribusikan oleh BAZNAS.” Jelas  Saidah Sakwan. 

Dia menambahkan, seluruh perkembangan revolusi industri teknologi informasi harus diikuti oleh dunia pendidikan. Karena itu, SCB melakukan digitalisasi pendidikan lewat inovasi  smart card yang berguna dalam membangun  akuntabilitias.   

Santri mustahik

SCB didirikan sejak 2017 lalu. Sekolah yang berada di Kampung Cirangkong, Desa Cemplang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersebut sudah meluluskan dua angkatan sekolah menengah pertama (SMP) Islam. Hingga tahun ini, SCB yang mengelola SMP, SMA, dan Rumah Tahfiz memiliki 331 siswa. 

Ustaz Ahmad menjelaskan, sekolah gratis ini dikhususkan untuk mustahik. Untuk menjadi siswa di SCB, setiap anak wajib  lolos tes seleksi nasional yang digelar di setiap daerah. Mereka harus melewati seleksi berkas, akademik, psikotes, tes fisik hingga bebas dari penyakit menular. Jika lolos, anak tersebut bisa berangkat ke Bogor dengan biaya perjalanan sepenuhnya ditanggung pihak SCB. 

Sesampainya di SCB, anak juga bisa menggunakan semua fasilitas di sekolah tersebut. Mereka akan mendapatkan seragam, makan tiga kali sehari, tenaga pendidikan seperti pembina dan guru, asrama, hingga fasilitas ekskul seperti berkuda dan memanah. “Mereka benar-benar cuma tinggal duduk dan belajar saja. Semua sudah ditanggung,”jelas dia. 

Meski memiliki predikat sekolah gratis, kurikulum SCB jauh dari kesan minimalis. Ustaz Ahmad menjelaskan, mereka membuat kurikulum Integrated Learning Cendikia (ILC). Kurikulum tersebut merupakan perpaduan Kurikulum 2013 dari pemerintah dan pengembangan kurikulum belajar ala SCB.  

Untuk bidang keagamaan, para peserta didik mendapatkan pelajaran adab dari pembinanya masing-masing. Tidak hanya itu, mereka diwajibkan untuk menghafal Alquran yang akan menjadi syarat kelulusan kelak. Untuk SMP, mereka harus menghafal lima juz sementara SMA sepuluh juz. Mereka juga diwajibkan untuk dapat menghafal hadis. 

Selain mendapat pendidikan keagamaan, para santri belajar ilmu kewirausahaan. Mereka dididik untuk mandiri lewat beragam usaha yang fokus di bidang pertanian dan peternakan. Salah satunya yakni ternak ikan.  Sebagai syarat kelulusan, para siswa SMP bahkan harus membuat konsep bisnis dan mempresentasikan kepada para guru. Untuk siswa SMA, mereka harus sudah menjalankan bisnis yang akan dipresentasikan. “Karena ini kan anak-anak dhuafa. Ada tuntutan dari keluarga yang ingin mereka segera mandiri,”jelas dia. 

Aditya Pratama (12 tahun) merupakan salah satu santri SCB asal Bengkalis. Anak penjual buah ini bersyukur bisa belajar di SCB sehingga mampu meringankan beban orang tua. Meski menjadi santri di sekolah gratis, bukan berarti Aditya minim prestasi. Penyuka matematika ini bahkan meraih Honorable Mention di International Kangaroo Mathematics Competition (IKMC) Online 2021 yang diselenggarakan secara online pada Mei lalu. “Saya selalu ingat pesan ibu untuk belajar dengan sungguh-sungguh,”ujar Aditya.


×