Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika
31 Oct 2021, 15:27 WIB

Inspirasi Persatuan dari 10 Pemuda, Eh, Kongres Pemuda

Sukarno membangkitkan semangat para pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Bebas 31 Desember 1931, pada 1 Januari 1932 Sukarno berangkat ke Surabaya untuk menghadiri Kongres Indonesia Raya. Ia dielu-elukan sejak di stasiun. Di acara ini, Sukarno menggelorakan semangat persatuan Indonesia. Sejak 31 Desember 1931 itu Sukarno diawasi polisi hingga 22 Juli 1933.

Melihat perilaku Sukarno itu, Kepala Polisi Bandung HA Albreghs menyebut, Sukarno tidak belajar apa pun selama ditahan hingga diampuni. Sukarno divonis empat tahun penjara. Tapi, di akhir masa jabatannya, Gubernur Jenderal de Graef memberi grasi, sehingga hukumannya hanya dua tahun.

Dalam laporan rahasianya pada 22 Agustus 1933, Albreghs menyebut, Sukarno membangkitkan semangat para pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan lewat slogan, "Beri aku 100 sampai 1.000 orang tua, akan kupindahkan Tangkuban Parahu, tapi beri aku 100 sampai 1.000 pemuda, akan kuguncang dunia.”

Terkait

Slogan yang dicatat koran De Standaard lebih singkat lagi. Gambaran yang dibuat koran itu begini, “Kalian memiliki masa depan. Kalian dapat memegang dunia dalam genggaman kalian. Aku minta bantuan kalian untuk kemerdekaan Tanah Air kita. Seribu orang tua dapat memindahkan Semeru, tapi 10 pemuda dapat mengguncangkan dunia. Pelajar di Hindia, Kairo, dan Belanda bantu aku untuk bersatu.”

Dalam laporan rahasianya kepada Gubernur Jenderal pada 16 Januari 1932, Penasihat Pemerintah untuk Urusan Pribumi Emile Gobee menyebut, Sukarno membangunkan semangat para pemuda dengan kalimat, "Aku meminta kalian membantuku. Dan imbalannya, saudara-saudara, aku akan berikan kemerdekaan Indonesia kelak. Singkatnya, aku dapat gambarkan kekuatan semangat pemuda sebagai berikut: Beri aku 1.000 orang tua dan bersama mereka dapat kupindahkan Gunung Semeru. Tapi, beri aku 1.000. Tidak. Seratus, ya, bahkan hanya 10 pemuda dengan semangat muda dan cinta Tanah Air yang membara, akan kuguncangkan dunia. PPPI, pelajar di Kairo, dan pelajar di Belanda, kalian semua, bantu aku memperoleh persatuan ini.”

PPPI yang dimaksud Sukarno adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia yang utusannya juga hadir di Kongres Indonesia Raya itu. Organisasi ini dibentuk untuk meneruskan perjuangan persatuan Indonesia yang digelorakan di Kongres Pemuda Indonesia Pertama.

Ketika masih menggodok konsep PPPI, Sugondo Djojopuspito mengatakan hal itu kepada WR Supratman. Sugondo kemudian menjadi ketua Panitia Kongres Pemuda Indonesia Kedua.

Setelah PPPI, muncul pula Jong Indonesia --kemudian menjadi Pemuda Indonesia. Lalu, Sukarno dan kawan-kawan sejak April 1927 menyiapkan partai yang memperjuangkan persatuan Indonesia. Maka, pada 4 Juli 1927 lahirlah Perserikatan Nasional Indonesia yang kemudian menjadi Partai Nasional Indonesia.

Kongres itu juga menginspirasi WR Supratman menciptakan lagu “Indonesia Raya”. Meski lagunya belum ada, Sugondo berjanji kepada Supratman akan menjadikan “Indonesia Raya” sebagai lagu kebangsaan. Sugondo mendapat informasi, Supratman akan membuat lagu “Indonesia Raya” dari Tabrani.

Orang pertama yang diberi tahu Supratman memang Tabrani saat jeda persidangan Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Supratman saat itu meliput untuk Sin Po.

“Mas Tabrani, saya terharu kepada semua pidato yang diungkapkan dalam Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Teristimewa pidato Mas Tabrani dan Sumarto. Dan cita-cita satu nusa satu bangsa yang digelari Indonesia Raya itu, saya akan buat. Dan namanya Indonesia Raya,” ujar Supratman seperti dikutip Bambang Sularto dalam buku biografi Supratman.

 
Pidato-pidato yang dibawakan memang menggelorakan persatuan Indonesia, Indonesia Raya, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
 
 

Pidato-pidato yang dibawakan memang menggelorakan persatuan Indonesia, Indonesia Raya, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Baik panitia maupun peserta berasal dari organisasi pemuda kedaerahan, tetapi mereka tidak mewakili organisasi. Mereka kelompok pemuda yang menginginkan Indonesia Raya.

Panitia Kongres berjumlah 10 orang, diketuai Tabrani --yang sebelumnya merupakan aktivis Jong Java. Sepuluh pemuda itu adalah M Tabrani, Soemarto, Djamaluddin Adinegoro, Bahder Djohan, Soewarso, Paul Pinontoan, Ahmad Hamami, Sanusi Pane, Jan Toule Soulehuwij, dan Sarbaini.

Selain satu nusa satu bangsa Indonesia, satu bahasa juga diusung. Saat menyodorkan rancangan Ikrar Pemuda, Yamin menyebut, bahasa persatuan adalah bahasa Melayu. Tabrani yang sudah memunculkan wacana bahasa Indonesia sejak awal 1926 tentu saja menentangnya. Akhirnya, Ikrar Pemuda tak jadi dibacakan, melainkan disepakati dibawa ke Kongres Pemuda Indonesia Kedua.

Setelah Kongres Pemuda Indonesia Pertama usai, Jong Java, Jong Islamieten Bond, dan Pemuda Indonesia gencar mempromosikan bahasa Indonesia, hingga menjadi berita koran di Belanda pada 9 Februari 1928. Pertama kali nama bahasa Indonesia dipromosikan Tabrani di koran pada Sabtu, 16 Januari 1926, meski ia mengaku sudah memendam dalam pikirannya bertahun-tahun.

Pada Sabtu, 6 Februari 1926, ia menjelaskan pengertian bahasa Indonesia ketika mengkritik Volksraad-Provincialeraad-Regentschapraad-Gemeenteraad yang ia sebut sebagai “badan-badan perwakilan yang bukan badan perwakilan”. Lembaga-lembaga itu ia kritik karena selalu mengirim laporan sidang ke pers Indonesia dalam bahasa Belanda.

Tulisan ini mendapat dukungan dari pembaca pada Senin, 8 Februari 1926, sehingga mendorong Tabrani menjelaskan lebih panjang lagi pada Kamis, 11 Februari 1926.

Polemik bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan itu berlangsung hingga Rabu, 17 Februari 1926. Ada yang mendukung, ada yang menentang.


×