ILUSTRASI Khalifah Umar pernah menyuruh gubernurnya untuk tetap berlaku adil walaupun itu terhadap orang non-Muslim. | DOK Public Domains Pictures

Kisah

31 Oct 2021, 04:12 WIB

Ketika Warga Yahudi Mengadu pada Umar

Mereka membujuk warga Yahudi itu agar mau menjual rumah reyotnya ini.

OLEH HASANUL RIZQA

Beberapa tahun sesudah wafatnya Abu Bakar ash-Shiddiq, wilayah kedaulatan Islam telah mencakup Mesir. Di bawah pemerintahan penggantinya, Khalifah Umar bin Khattab, seorang komandan militer didaulat menjadi gubernur kawasan tersebut. Dialah Amr bin Ash.

Berbeda dengan sang khalifah, gubernur Mesir itu condong pada gaya hidup flamboyan. Tempat tinggalnya adalah istana. Sehari-hari, Amr bin Ash selalu mengenakan pakaian yang bagus. Cita-citanya adalah membangun Mesir sebagai negeri yang kaya dan makmur.

Hingga saat itu, di Kairo sudah berdiri bangunan-bangunan penting, semisal kantor gubernur, madrasah, dan alun-alun. Yang dirasa masih kurang ialah masjid raya. Menurut Amr, tempat ibadah itu perlu diperluas lagi agar mampu menampung jamaah yang jumlahnya kian banyak dari waktu ke waktu.

Kebetulan, lahan di sebelah masjid tersebut dimiliki seorang warga yang beragama Yahudi. Lelaki non-Muslim itu sudah mendengar desas-desus tentang rencana proyek pengembangan masjid Kairo. Ia pun mulai was-was, rumahnya akan digusur oleh sang gubernur.

Benar saja, beberapa kali utusan Amr bin Ash mendatangi rumahnya. Dalam kedatangan pertama, mereka membujuk warga Yahudi itu agar mau menjual rumah reyotnya ini. Bahkan, pemerintah kota menawarkan dua kali lipat dari harga normal.

Namun, si Yahudi bersikeras menolak tawaran tersebut. Sebab, ia merasa sudah kerasan tinggal di sana. Lagipula, mau ke mana lagi dirinya bertempat tinggal?

Dari hari ke hari, makin banyak utusan Amr bin Ash yang menyambangi rumahnya. Terakhir, mereka sampai membentak dan mengancamnya. Karena tidak tahan lagi, orang Yahudi itu lalu pergi ke Madinah untuk mengadukan keadaannya kepada Khalifah Umar.

 
Dari hari ke hari, makin banyak utusan Amr bin Ash yang menyambangi rumah orang Yahudi itu.
 
 

Jangan bayangkan kondisi saat itu mirip dengan masa sekarang. Kala itu, orang-orang di daerah cenderung mengetahui nama, tetapi tidak begitu mengenal wajah pemimpinnya. Pria Yahudi itu pun demikian.

Ia memang tahu bahwa daulah Islam dipimpin sahabat Rasulullah SAW itu. Bagaimanapun, rupa sang amirul mukminin tidak diketahuinya sama sekali. Yang jelas, penguasa kekhalifahan itu tinggal di Madinah.

Sepanjang perjalanan, si Yahudi agak cemas juga. Dalam pikirannya, gubernur saja sudah larut dalam hidup bermewah-mewahan. Bagaimana dengan atasannya? Pasti istana khalifah jauh lebih mentereng dibandingkan dengan milik Amr bin Ash.

Dan lagi, dirinya bukanlah seorang Muslim. Sebenarnya, orang Yahudi ini mulai merasa rihlahnya akan sia-sia belaka. Bagaimana mungkin warga yang beda agama akan didengarkan keluh-kesahnya? Namun, kembali ke Kairo pun bukanlah solusi. Ia sudah terlanjur gusar dengan sikap keras Gubernur Mesir.

Akhirnya, orang Yahudi itu tiba di Madinah. Setelah bertanya kepada beberapa warga di pasar, ia pun melangkahkan kaki ke arah yang ditunjukkan mereka. Di sanalah Umar tinggal, katanya.

Betapa tak habis pikir si Yahudi. Sesuai alamat yang diberikan, ia justru mendapati sebuah rumah yang kira-kira sama jelek dengan rumahnya sendiri. Di pelataran bangunan kecil itu, seorang lelaki berbadan tegak sedang tidur-tiduran di bawah rindangnya pohon kurma. Orang Yahudi itu pun menghampirinya.

“Pak, apakah Anda tahu di mana istana Khalifah Umar bin Khattab?” tanyanya.

“Rumah Umar? Ya, saya tahu. Istananya di atas lumpur, pengawalnya adalah anak-anak yatim piatu, para janda tua, orang-orang miskin, dan papa. Pakaian kebesarannya ialah rasa malu dan ketakwaan kepada Allah,” jawab pria itu panjang lebar.

Mendengar jawaban tersebut, orang Yahudi ini kian bingung. “Jadi di mana Khalifah Umar?” ia bertanya lagi.

“Saya sendiri adalah Umar bin Khattab.”

Seketika, warga Mesir itu terkejut. Untuk sesaat, diperhatikannya wajah lelaki di hadapannya itu. Sedikit tidak percaya, ia pun berusahan menjaga sikapnya, sebagaimana di depan seorang pejabat.

“Apa yang membuatmu jauh-jauh datang dari Mesir ke sini?” tanya Umar.

Orang Yahudi itu pun menerangkan perangai Amr bin Ash kepada amirul mukminin. Gubernur Mesir itu diceritakannya telah memaksa dan mengintimidasinya untuk menjual rumah satu-satunya. Alasannya ingin memperluas masjid kota, tetapi proyek itu dapat menggusur tempat tinggalnya.

Setelah mendengar ceritanya panjang lebar, Sayyidina Umar menyuruh Yahudi tersebut untuk mengambil sepotong tulang unta dari dekat pohon kurma. Lelaki Mesir ini mematuhinya. Kemudian, Umar menghunuskan pedang. Secepat kilat, sang khalifah melesatkan senjata itu. Sebuah garis lurus pun tergores pada permukaan tulang tersebut.

 
Bawa tulang ini dan tunjukkan kepada Gubernur Amr bin Ash!
 
 

“Bawa tulang ini dan tunjukkan kepada Gubernur Amr bin Ash!”

Si Yahudi hanya bisa terdiam dan menuruti perintah al-Faruq. Sebenarnya, ia bingung, apa maksud Umar dengan instruksinya itu. Namun, lutut dan tangannya sudah gemetar duluan setelah melihat kilatan pedang tadi.

Akhirnya, lelaki ini tiba di negerinya. Sesuai amanah sang khalifah, ia pun memberikan sepotong tulang unta dari Madinah itu kepada Amr bin Ash. Ternyata, sang gubernur Mesir seketika pucat pasi.

Badannya gemetar. Keringat dingin bercucuran membasahi kepala dan lehernya. Tanpa basa-basi, Amr menyuruh bawahannya untuk tidak lagi mengganggu warga Yahudi itu. Bahkan, proyek perluasan masjid raya dibatalkan sama sekali.

“Tahukah engkau maksud tulang ini? Umar memerintahkan kepadaku sebagai gubernurnya untuk tidak main-main dengan keadilan. Sikapku harus lurus terhadap rakyat, bagaikan lurusnya goresan pada tulang ini yang telah merasakan sabetan pedang khalifah,” kata Amr.


×