Seorang investor menatap papan elektronik harga saham di perusahaan sekuritasdi Beijing, Cina, 13 Jun1 2019. Ketegangan geopolitik Cina dan India menyebabkan usaha rintisan Asia Tenggara jadi primadona. | EPA

Teraju

30 Oct 2021, 05:19 WIB

Melirik Primadona Usaha Rintisan

Ketegangan geopolitik Cina dan India menyebabkan usaha rintisan Asia Tenggara jadi primadona.

OLEH AGUNG P VAZZA

Penyesuaian aktivitas selama pandemi, dari memakai masker sampai menjaga jarak, dari berbelanja sampai bekerja, membuka peluang menguatnya arus transformasi digital. Seiring pembatasan sosial yang diberlakukan terkait upaya mencegah meluasnya penyebaran virus, industri digital seperti menemukan momentum untuk tumbuh lebih pesat. 

Kemudahan dan kecepatan untuk memulai usaha digital di sebuah negara yang menjadi tolok ukur tingginya daya saing digital, mendorong bermunculannya usaha-usaha digital baru alias startup (usaha rintisan). Pertumbuhan startup pun terbilang sangat pesat, sehingga melahirkan unicorn baru atau usaha rintisan dengan nilai kapitalisasi lebih dari satu miliar dolar AS.

Bersamaan dengan itu, dana investasi pun mengalir masuk ke negara-negara dengan pertumbuhan usaha rintisan tinggi. Aliran dana masuk itulah yang kini dinikmati sejumlah negara di Asia Tenggara dan India, terutama setelah Cina kehilangan daya tariknya akibat rontoknya perusahaan internet raksasa.

Hingga pertengahan Oktober 2021 saja, data DealStreetAsia mengungkapkan sebanyak 15 perusahaan pemodal (venture capital) mengalirkan dana ke kawasan sampai lebih dari satu miliar dolar AS, dan langsung merengkuh gelar unicorn.

Meski selama 2020 kawasan ini hanya melahirkan 19 unicorn yang didukung venture capital sejak 2013, tapi pertumbuhannya selama 2021 cukup mengejutkan. Saat ini, jumlah total unicorn yang didukung venture capital mencapai 27 unicorn. Sedangkan India, tahun ini saja bertambah sampai 30 unicorn, dengan total sebanyak 50 unicorn.

Pertambahan unicorn mencerminkan terus mengalirnya dana investor yang membeli saham dengan harga tinggi. Maka, Asia Tenggara dan India pun ditasbihkan menjadi yang terdepan dalam menarik lebih banyak investasi usaha rintisan.

 
Pertambahan unicorn mencerminkan terus mengalirnya dana investor yang membeli saham dengan harga tinggi.
 
 

Selama sembilan bulan pertama tahun ini, usaha rintisan di Asia Tenggara mampu meraih dana venture capital dan investor lain sampai 17,2 miliar dolar AS. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibanding 12 bulan penuh tahun lalu yang hanya 8,5 miliar dolar AS. India sendiri, dalam kurun yang sama mengantongi investasi venture capital sebesar 24 miliar dolar AS, juga dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Asia Tenggara dan India, tak pelak, menjadi kawasan yang paling menikmati aliran modal tersebut, dengan kekuatan demografi yang dimiliki. Pertumbuhan kelas menengah di kawasan merupakan motor utama melalui penetrasi internet dan ponsel.

Pandemi memang mendorong ekspansi ekonomi internet secara global, tapi menurut Nikkei Asia, pertumbuhan di Asia Tenggara lebih impresif. Menurut laporan studi Facebook dan Bain, enam negara utama Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam) mencatat pertambahan konsumen digital baru sebanyak 70 juta pengguna, yang benar-benar berbelanja barang dan jasa secara daring.

photo
Pandemi mendorong ekspansi ekonomi internet secara global. - (Pexels/Kaboompics)

Pertambahan dari 280 juta konsumen menjadi 350 juta konsumen, menggambarkan kuatnya rata-rata penetrasi, yang juga meningkat dari 64 persen menjadi 78 persen dari populasi usia 15 ke atas. Angka ini jauh dibandingkan dengan India, dengan 150 juta konsumen digital dengan rata-rata pendapatan lebih rendah dari Asia Tenggara.

Dengan kata lain, secara agregat ekonomi ritel online Asia Tenggara lebih besar dari India meski populasinya lebuh sedikit.

Data Cento Venture, dilansir Bloomberg, mengungkapkan fakta serupa. Meski pandemi menekan habis sektor wisata dan ritel di Asia Tenggara, tapi kawasan itu tetap menjadi pasar internet yang paling pesat berkembang.

Dukungan venture capital mencatat rekor sebanyak 393 kesepakatan bisnis sepanjang paruh pertama 2021 dan mampu menghimpun dana hingga 4,4 miliar dolar AS dari usaha rintisan di seluruh Asia Tenggara.

Konglomerat

Pertanyaannya kemudian, dari mana dana investasi besar tersebut berasal. Visnal Harnal, managing partner 500 Startup Asia Tenggara mengungkapkan, sebagian dana tersebut merupakan dana konglomerat lama yang mencari valuasi guna menyeimbangkan keruntuhan bisnis di banyak sektor, dari ritel sampai manufaktur akibat pandemi.

"Dana-dana itu menjadi hidup kembali ketika diinvestasikan di sektor teknologi dan investasi teknologi lain, dan itu bisa terjadi karena keberhasilan startup," jelasnya dilansir Bloomberg. Pandemi, tambahnya, mengakselerasi persaingan investasi teknologi tersebut.

Persaingan itu boleh jadi bakal semakin sengit lantaran usaha rintisan tidak hanya menyentuh ritel, tapi juga antarbisnis. Akshay Bhushan, mitra Lightspeed Venture Partners, membuktikan itu dengan semakin pesatnya usaha rintisan antarbisnis (business to business) dengan cakupan cukup luas.

Hal ini mendorong permintaan tumbuh untuk digitalisasi penjualan, pembelian, pendanaan, sampai usaha mikro kecil dan menengah di Asia Tenggara. "Digitalisasi usaha kecil di India dan Asia Tenggara kini berkembang secara pararel," paparnya dikutip Nikkei Asia.

Faktanya mendukung pula, satu dari 15 unicorn baru di Asia Tenggara merupakan usaha business to business (B2B), mulai penyedia e-commerce logistik sampai payment gateway.

 
Satu dari 15 unicorn baru di Asia Tenggara merupakan usaha business to business (B2B), mulai penyedia e-commerce logistik sampai payment gateway.
 
 

Di Indonesia agaknya masih akan mengandalkan ritel. Indonesia memiliki keuntungan berupa bonus demografi yang menjadi kunci penguatan ekosistem digital. Mayoritas penduduk Indonesia saat ini adalah Generasi Z dan Milenial berusia delapan sampai 39 tahun, dengan tingkat adopsi digital tinggi.

Sebanyak 37 persen konsumen baru ekonomi digital muncul selama pandemi dan 93 persen tetap memanfaatkan produk ekonomi digital pascapandemi. Setidaknya begitu data yang diungkap studi Google, Bain, dan Temasek pada 2020.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pekan lalu, dalam sebuah gelaran Grup Ciputra, menjelaskan aktivitas digital Indonesia terus meningkat. "Sekitar 41,9 persen dari total transaksi ekonomi digital Asia Tenggara selama 2020 atau sekitar 44 miliar dolar AS, merupakan kontribusi Indonesia," katanya.

Diperkirakan, pada 2025 nanti nilainya bisa mencapai 124 miliar dolar AS. Pandemi yang menghadirkan pembatasan-pembatasan aktivitas, sekali lagi, menjadi pemicunya. 

photo
Kolaborasi bisnis yang dilakukan oleh dua startup raksasa Gojek dan Tokopedia melalui pembentukan GoTo diharapkan mampu menciptakan integrasi layanan yang semakin efisien dan mempercepat penguatan bisnis di sektor UMKM. Persaingan investor regional dan global berebut usaha rintisan Asia Tenggara bakal semakin ketat - (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Ritel atau antarbisnis, Joonpyo Lee, chief executive Softbank Ventures Asia, melihat usaha rintisan dari Asia Tenggara bakal terus menarik lebih banyak investasi. Lantaran itu, terbuka peluang bagi usaha rintisan kawasan mengembangkan potensi valuasinya hingga mampu ekspansi global.

"Sekarang tidak aneh lagi melihat usaha rintisan Asia Tenggara mampu bersaing di pasar global," paparnya dilansir Nikkei Asia. Maka, tak pelak, aliran modal bagi usaha rintisan kawasan masih menjanjikan.

Peluang tersebut sangat mungkin menjadi lebih besar ketika perusahaan teknologi raksasa di Cina mulai rontok. Kondisi ini akan memaksa investor global berpikir ulang untuk terus menanamkan dananya di Cina atau yang melibatkan perusahaan-perusahaan Cina.

Faktor lain yang juga merupakan penentu adalah ketegangan geopolitik antara Cina dan India. Kondisi ini mendorong investor atau konglomerat dan perusahaan teknologi Cina mengalihkan pandangan menjauh dari usaha rintisan India, dan melirik usaha rintisan di Asia Tenggara sebagai primadona.

Persaingan investor regional dan global berebut usaha rintisan Asia Tenggara bakal semakin ketat, berlomba membidani kelahiran usaha-usaha rintisan, primadona-primadona digital baru di kawasan.


×