Dua petugas pemadam kebakaran Swadesi Borneo melakukan pembasahan ke lahan gambut yang terbakar di kawasan Sepakat II, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (3/8/2021). Pemilih muda menilai parpol belum memberi perhatian serius isu iklim dan lingkungan | ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang
28 Oct 2021, 03:45 WIB

Pemilih Muda Ingin Parpol Peduli Isu Iklim

Pemilih muda menilai parpol belum memberi perhatian serius isu iklim dan lingkungan

JAKARTA – Survei yang digelar Indikator Politik Indonesia dan Yayasan Indonesia Cerah dilakukan pada 9-16 September 2021, menemukan fakta bahwa, Gen Z dan Milenial di Indonesia menaruh perhatian serius pada isu perubahan iklim.

Selain mengkhawatirkan fenomena perubahan iklim, pemilih muda juga menilai partai politik (parpol) belum memberi perhatian serius terhadap isu iklim dan lingkungan. Dari 4.020 responden survei, sebanyak 64 persen khawatir dengan isu korupsi. Disusul sebanyak 52 persen yang khawatir isu kerusakan lingkungan. Kemudian kesehatan 43 persen. Sebanyak 42 persen khawatir terhadap isu polusi.

"Korupsi memang menempati posisi paling tinggi, tetapi isu kerusakan lingkungan itu juga mendapatkan kepedulian perhatian kalangan anak muda yang sangat besar," kata kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi dalam keterangan, Rabu (27/10).

Dalam rilis survei tersebut diketahui, Partai Demokrat dan Partai Gerindra merupakan partai yang dianggap anak muda paling menaruh perhatian terhadap isu perubahan iklim. Rinciannya, sebanyak 29 persen responden menilai Demokrat dan Gerindra cukup menaruh perhatian terhadap isu perubahan iklim.

Terkait

Partai pemenang pemilu 2019, PDIP berada di bawah Demokrat dan Gerindra. Sebanyak 26 persen responden menganggap PDIP cukup perhatian terhadap isu perubahan iklim. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai sebagai partai yang kurang menaruh perhatian terhadap isu iklim dengan angka 26 persen.

Selain itu, sebanyak 36 persen khawatir lunturnya nilai dan budaya nasional, kemudian sebanyak 36 persen responden mengkhawatirkan pekerjaan.  Menurutnya, hasil tersebut berbeda dengan survei dengan responden umum. Pada survei yang menyeratakan generasi baby boomers biasanya responden menjawab isu ekonomi yang paling dikhawatirkan.

"Menurut saya ini isu yang harus ditangkap oleh kalangan policy makers kita termasuk politisi kita karena ada perubahan demografi yang luar biasa  dan itu punya efek terkait sikap dan attitude mereka terhadap isu-isu penting di mata anak muda," imbuhnya.

Direktur Eksekutif Cerah Adhityani Putri berharap, hasil survei dapat membuka mata para politisi untuk menjadikan krisis iklim masuk dalam agenda politik utama di Indonesia. Hasil survei mengungkapkan, beberapa faktor yang menjadi perubahan iklim di Indonesia, yakni, penggundulan hutan, sumber emisi gas rumah kaca, dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, dan pertambangan.

Wali Kota Bogor dan Politisi PAN Bima Arya Sugiarto mengatakan, survei ini adalah survei bersejarah di Indonesia. Sebab, isu lingkungan, sustainable development, dan climate change belum menjadi isu populis untuk para politisi saat Pemilu dan Pilkada.

“Kemungkinannya dua, yaitu politisi tidak paham isu atau tidak paham cara menjangkau pemilih pemula dan anak muda. Jadi, lebih banyak menjadikannya sebagai gimmick. Padahal anak muda suka yang substansial dan isu perubahan iklim seksi di mata anak muda,” kata Bima.

Anggota DPR Komisi X dan politisi PDI Perjuangan Putra Nababan mengatakan, survei ini sesuai dengan ekspetasinya yang menyatakan Gen Z dan Milenial mengerti isu perubahan iklim. Ia mengeklaim kesadaran atas isu yang menjadi perhatian generasi pemilih muda belum merata di level parpol.

“Kesadaran itu belum merata baik di DPR, pemerintahan, parpol, media, dan masyarakat. Ini panggilan kita sebagai anak bangsa untuk bergerak,” ujar dia.


×