Ilustrasi Mitratel | Youtube
27 Oct 2021, 11:02 WIB

Mitratel Bidik Dana IPO Rp 24,9 Triliun

Mitratel bersiap ekspansi bisnis ke pasar Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

JAKARTA — Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel), akan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 22 November 2021. Mitratel siap melepas 29,85 persen saham atau sekitar 25.540.000.000 lembar saham.

Harga saham Mitrael dibanderol dari Rp 775 sampai Rp 975 per lembar saham. Dari IPO ini Mitratel membidik dana IPO sebesar Rp 19,79 triliun sampai Rp 24,9 triliun.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko berharap IPO Mitratel dapat meningkatkan perhatian investor regional maupun internasional terhadap Mitratel. Theodorus juga berharap Mitratel berencana ekspansi bisnis jangka panjang ke pasar Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

“Sejalan dengan visi untuk menjadi leader dan provider terbaik dalam penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Asia Tenggara, Mitratel juga tengah mempersiapkan strategi untuk ekspansi jangka panjang di Asia Tenggara dan Asia Pasifik," kata Teddy dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (26/10).

Terkait

Mitratel menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas, HSBC, JP Morgan, PT Mandiri Sekuritas, dan Morgan Stanley sebagai joint bookrunners dan joint global coordinators. BRI Danareksa Sekuritas bersama Mandiri Sekuritas juga bertindak sebagai joint lead managing underwriters dan domestic underwriters.

Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan, perseroan akan melakukan konsolidasi dan akuisisi untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Mitratel menargetkan akan mengakuisisi sebanyak 6.000 unit menara yang dibiayai dari dana IPO.

Hendra menyampaikan, akuisisi tower nantinya akan terbuka dari berbagai pihak. "Akuisisi tower tidak akan terbatas hanya dari Telkomsel, kita terbuka dari pihak manapun," kata Hendra.

Dalam lima tahun, Hendra mengatakan, Mitratel berfokus meningkatkan tenancy ratio. Selain itu, Mitratel juga akan menjangkau berbagai peluang, terutama dari sektor yang berkaitan dengan jaringan 5G, baik dari sisi penyediaan fiber optik, internet of things (IoT), maupun infrastruktur lainnya yang mendukung 5G.

Sebagai informasi, Mitratel mulai menapaki bisnis menara telekomunikasi sejak 2008. Mitratel telah mengelola lebih dari 28 ribu menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua operator seluler Indonesia telah menjadi pelanggan dengan menempatkan perangkat base transceiver station (BTS) di menara Mitratel.

Selain bisnis utamanya di bidang menara telekomunikasi, Mitratel juga melakukan ekspansi portfolio jasa turunan menara, seperti project solutions, managed services, fiberisasi, dan digital services untuk mengakselerasi iklim digital di Indonesia.

IPO Mitratel akan menjadi aksi korporasi dengan himpunan dana terbesar pada tahun ini mengalahkan perusahaan teknologi PT Bukalapak.com Tbk yang sebesar Rp 21,90 triliun. Meski demikian, Direktur Penilai Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna menilai IPO Mitratel masih akan mampu diserap investor.

Menurut Nyoman, sampai saat ini indikator pasar modal Indonesia masih positif bila ditinjau dari jumlah perusahaan tercatat yang melakukan penghimpunan dana di pasar modal. Pertumbuhan jumlah investor maupun indeks harga saham gabungan (IHSG) juga mengalami perkembangan yang relatif baik dibandingkan tahun lalu.

Selain itu, stabilitas ekonomi yang tetap terjaga, pemulihan ekonomi yang terus berlanjut, sentimen positif pada perkembangan ekonomi global maupun domestik, serta dukungan regulator-regulator terkait menimbulkan kepercayaan dan optimisme bagi para pelaku pasar modal.

"Hal-hal tersebut menjadi pertimbangan penting bagi pasar dalam merespons seluruh aktivitas yang ada di pasar modal termasuk fund raising," kata Nyoman.

Mitratel membukukan kinerja yang cemelang menjelang IPO. Berdasarkan prospektus yang dirilis Selasa, laba bersih Mitratel sepanjang semester I 2021 tercatat tumbuh signifikan sebesar 356 persen.

Pada periode tersebut, laba bersih Mitratel tercatat sebesar Rp 700,7 miliar, naik dibandingkan Rp 153,7 miliar pada semester I 2020. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan selama semester I 2021.

Per 30 Juni 2021, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 3,2 triliun, tumbuh 10,9 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,9 triliun. Tumbuhnya tersebut ditopang peningkatan penyewa menara telekomunikasi dari 34.631 penyewa per 30 Juni 2020 menjadi 36.067 penyewa per 30 Juni 2021.

Sementara, pendapatan dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Hutchison 3 Indonesia, dan PT XL Axiata Tbk masing-masing meningkat sebesar 11,9 persen, 17,1 persen, dan 17,6 persen dari Rp 1,5 triliun, Rp 308,7 miliar, dan Rp 283,4 miliar per 30 Juni 2020 menjadi Rp 1,7 triliun, Rp 361,5 miliar, dan Rp 333,1 miliar pada 30 Juni 2021.

Pertumbuhan laba juga didukung penurunan beban pokok pendapatan berkaitan dengan depresiasi, beban amortisasi, beban perizinan konstruksi dan manajemsn proyek, serta beban perencanaan, operasional, dan pemelihaan menara telekomunikasi selama semester I 2021.

Selain itu, peningkatan laba juga disebabkan oleh kenaikan pendapatan bunga yang yang berasal penempatan deposito berjangka selama periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2021.


×