Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
26 Oct 2021, 23:36 WIB

Kecerdasan Burung Hud-hud

Hud-hud merasa aneh ketika melihat pemimpin Kerajaan Saba menyembah matahari.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Burung Hud-hud datang terlambat ke dalam pertemuan dengan Nabi Sulaiman. Allah menceritakan kejadian ini dalam firman-Nya “Famakatsa ghaira ba’iidin (Tidak lama setelah itu ia datang)". (QS an-Naml: 22).

Hal ini untuk menggambarkan bahwa Hud-hud sebenarnya sangat disiplin, ia terlambat bukan karena ingin melanggar melainkan karena ada kewajiban yang sedang dilakukan.

Hud-hud memang sangat cerdas. Dengan yakin dan percaya diri ia memberikan alasan: “Ahaththu bimaa lam tuhith bihii (Aku mengetahui apa yang belum kamu ketahui)".

Terkait

Tampak bahwa Hud-hud terlambat karena inisiatifnya sendiri untuk menyingkap sebuah penyimpangan besar di sebuah kerajaan di Yaman. Penyimpangan tersebut bukan hanya berkaitan dengan sistem kepemimpinan, melainkan juga berkaitan dengan akidah. Hud-hud melaporkan bahwa dirinya datang dari Kerajaan Saba’ "wa ji’tuka min sabain binabain yaqiin” (QS an-Naml: 22).

Hud-hud merasa aneh ketika melihat pemimpin Kerajaan Saba’ adalah seorang wanita, “innii wajadtum raatan tamlikuhum” (QS an-Naml: 23). Di saat yang sama, ia menyembah matahari bersama kaumnya, “wajadtuhaa wa qawmaha yasjuduuna lisy syamsi”.

Bagi Hud-hud, perbuatan tersebut jelas mengikuti setan dan jauh dari hidayah, “wa zayyana lahumusy syaithaan a’maalahum fashaddahum ‘anissabiil fahum laa yahtaduun” (QS an-Naml: 24).

Hud-hud bertanya-tanya, mengapa mereka tidak menggunakan akalnya dengan menyembah Allah yang Maha Mengetahui atas segala yang tersembunyi di langit dan di bumi, “alla yasjuduu lillahilladzi yukhrijul khab’a fissamaawaati wal ardh”.

Artinya Hud-hud seakan mengatakan: Tunduklah hanya kepada-Nya, Dialah Allah Tuhan satu-satu-Nya, pemilik Arasy yang agung, “Allahu laailaaha illaahuwa rabbul arsyil azhiim” (QS an-Naml: 26).

Hakikat tauhid yang dideklarasikan Hud-hud telah menggerakkan Nabi Sulaiman agar segera menyelesaikan penyimpangan yang terjadi di negeri Saba’. Nabi Sulaiman tidak langsung mengambil tindakan secara gegabah, akan tetapi melakukan studi lapangan terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana kebenaran informasi yang dibawa Hud-hud.

Nabi Sulaiman berkata: “Sananzhur a shadaqta am kunta minla kadzibiin (Kami akan lihat apakah kamu - wahai Hud-hud - jujur atau dusta)".

Hud-hud diperintahkan untuk membawa surat. Isinya singkat dan tegas: “Innahuu min sulaimaan wa innahuu bismillahirrahmaanirrahiim, allaa ta’luu alayya wa’tuuni muslimiin (Sungguh surat ini dari Sulaiman, dikirim dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu - wahai Bilqis - meninggikan diri di atasku tetapi tunduklah dan berserah dirilah kepadaku)".

Surat inilah yang menggetarkan Bilqis dan karenanya kelak ia masuk Islam.


×