Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
26 Oct 2021, 03:45 WIB

Memahami Bacaan dalam Shalat

Sebagian besar bacaan shalat berisi doa kepada Allah agar kita senantiasa dituntunnya ke jalan yang benar dan lurus.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Ini bukan fatwa karena saya bukan seorang mufti. Apa yang dituturkan berikut ini semata-mata berdasarkan pengalaman langsung fenomena umat Islam di perdesaan dan perkotaan, mengenai tingginya kesetiaan mereka melakukan kewajiban shalat lima waktu.

Sekalipun kita tidak punya data pasti mengenai persentase umat Islam Indonesia yang menjalankan shalat setiap hari, yang pasti sebagian besar masjid tidak pernah kosong dari jamaah tetap. Ini patut disyukuri, apa pun parpol atau ormas yang mereka ikuti.

Yang penting, mereka mau ke masjid, surau, mushala, atau langgar untuk shalat berjamaah. Itulah sisi positif dari proses dinamis santrinisasi umat Islam Indonesia yang semakin menguat sejak 1980-an abad yang lalu.

Terkait

Sisi lain yang masih perlu mendapat perhatian, kenyataan tentang betapa kecilnya jumlah umat ini yang memahami apa yang dibacanya dalam shalat, termasuk makna bacaan surah al-Fatihah, doa-doa, dan ayat-ayat pendek yang biasa dibaca dalam shalat.

 
Ini bukan kesalahan siapa-siapa, melainkan semata-mata karena tipisnya kesadaran kita untuk belajar memahami apa yang kita ucapkan dalam shalat.
 
 

Ini bukan kesalahan siapa-siapa, melainkan semata-mata karena tipisnya kesadaran kita untuk belajar memahami apa yang kita ucapkan dalam shalat.

Perkiraan saya, sekitar 95 persen mereka yang melakukan shalat belum tentu memahami makna apa yang dibacanya, sekalipun mereka sangat setia dalam menjaga hubungan dekatnya dengan Sang Penciptanya.

Hubungan ini tentu semakin punya kesan lebih dalam, sekiranya mereka paham apa yang dibacanya. Karena itu, saya sarankan kepada setiap pengajian, majelis taklim, dan ceramah keagamaan, para ustaz, ustazah, dan penceramah menekankan pentingnya pemahaman makna bacaan-bacaan dalam shalat ini.

Belum perlu memahami bahasa Arab secara fasih, sebab hal itu memang tidak mudah bagi umat, umumnya yang non-Arab, kecuali bagi para santri di pondok dan madrasah.

Sebagian besar bacaan shalat berisi doa kepada Allah agar kita senantiasa dituntunnya ke jalan yang benar dan lurus, diampuni segala dosa, dilapangkan rezeki, dan jenis permohonan lain dari seorang hamba kepada Tuhannya.

 
Belum perlu memahami bahasa Arab secara fasih, sebab hal itu memang tidak mudah bagi umat, umumnya yang non-Arab, kecuali bagi para santri di pondok dan madrasah.
 
 

Semua bentuk permohonan ini akan jauh lebih mantap jika seseorang paham apa yang dimohonnya. Masalah ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit untuk diperoleh. Jika terasa sulit, itu karena tidak digalakkan saja.

Diharapkan, mereka yang memahami bacaan-bacaan dalam shalat terus berusaha meningkatkan pemahamannya tentang agama, dan akan menjadi lebih sadar tentang rasa tanggung jawabnya dalam kehidupan kolektif mereka.

Saya tidak menafikan akan muncul pertanyaan besar dalam masalah ini. Bagaimana mereka yang paham bahasa Arab dan mungkin hafal Alquran, perilakunya malah tak semakin baik, tutur katanya malah semakin kasar, suka menuding kian kemari, seolah-olah tidak ada manusia yang baik selain dirinya.

Jawabannya dalam bahasa Melayu klasik: “Bukan karena bunda salah mengandung, tetapi karena si buyung atau si upik yang buruk pinta.” Artinya, agama yang dianutnya barulah pakaian lahir, tidak sampai masuk ke hati yang dapat mengawal kelakuannya.

Saya tidak perlu memperlebar masalah ini, mengaitkannya dengan dunia Arab yang sudah cukup lama tidak dapat dijadikan contoh, padahal mereka memahami apa yang dibacanya dalam shalatnya.

 
Saya tidak perlu memperlebar masalah ini, mengaitkannya dengan dunia Arab yang sudah cukup lama tidak dapat dijadikan contoh, padahal mereka memahami apa yang dibacanya dalam shalatnya.
 
 

Sementara itu, umat Islam yang non-Arab yang sebagian besar tidak paham makna bacaan shalatnya, boleh jadi berperilaku jauh lebih bagus dan lebih santun dibandingkan saudara mereka dari kawasan yang berbahasa Arab itu.

Sekali lagi, ini masalah internalisasi nilai-nilai agama dalam pribadi seseorang.

Tidak jarang, seorang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerti bacaan dalam shalatnya, tetapi karena ketulusannya menjalankan perintah agama, perilakunya benar-benar mencerminkan seorang saleh lahir batin, apa pun ukuran yang dipakai untuk menilainya.

Tentu, yang lebih diharapkan adalah mereka yang paham makna bacaan shalatnya yang langsung memberi bekas pada kelakuan hariannya, sehingga sosok yang seperti ini pastilah dirindukan lingkungan mana pun.

Tipe manusia saleh semacam inilah yang diharapkan akan semakin membesar jumlahnya, karena tujuan utama pendidikan itu terciptanya sosok manusia baik dan saleh. Pancaran auranya akan dirasakan semua orang yang pernah bergaul dengannya.

Ilmu yang dimilikinya selalu dibagikannya kepada siapa pun. Namanya akan selalu disebut, kehadirannya senantiasa dinantikan. Terasa ada sesuatu yang kurang, tanpa dia. Bagi manusia tipe ini, nyaris tidak punya musuh.

Seorang musuh saja sudah terlalu banyak baginya. Tetapi, dalam hal memegang prinsip yang diyakininya, pendiriannya adalah penaka batu karang di tubir pantai. Empasan ombak yang dahsyat pun tidak pernah akan menggoyahkan posisinya.

Sekali lagi, ini bukan fatwa! Akhirnya, tanpa bermaksud untuk mengkritik, kabarnya di Kecamatan Sumpur Kudus, masih ada sebuah masjid yang khutbah Jumatnya, seluruhnya disampaikan dalam bahasa Arab.

Berat dugaan kita, sang khatib dan jamaah sama-sama tak paham apa yang disampaikan. Sebagian jamaah tentu sama tertunduk sambil mendengkur kecil karena lagi “menikmati” ketidakpahaman mereka itu. 


×