Pemain dan official Indonesia melakukan selebrasi seraya mengangkat Piala Thomas setelah pemberian medali dan penyerahan piala kepada tim Indonesia yang berhasil meraih gelar juara, di Aarhus, Denmark, Ahad (17/10/2021). | ANTARA FOTO/Ritzau Scanpix via Reutters/hp.
25 Oct 2021, 03:45 WIB

Serius Tanggapi Sanksi WADA

Jangan sampai insiden di ajang Piala Thomas terulang di acara lainnya. Bekerjalah dengan serius.

Insiden tidak bisa berkibarnya bendera Merah Putih saat Indonesia meraih Piala Thomas di Denmark masih berbuntut panjang. Insiden memalukan itu bakal tidak berhenti di situ. Sanksi dari Badan Antidoping Dunia (WADA)  yang jatuh per 8 Oktober 2021 masih akan berlangsung sampai 8 Oktober 2022 mendatang.

Itu artinya dalam waktu satu tahun ke depan, Indonesia tak bisa mengibarkan bendera nasional di acara-acara olahraga internasional. Selain itu, Indonesia juga terancam tak bisa menggelar acara olahraga internasional.

WADA dalam laman resminya pada Kamis (7/10) mengumumkan bahwa Indonesia, Thailand, dan Korea Utara merupakan negara yang tidak patuh melaksanakan standar dan prosedur uji doping. Secara khusus, Indonesia dan Korea Utara dinilai alpa dalam menerapkan program serta uji doping yang efektif.

Keputusan ini diambil WADA lewat rapat Komite Eksekutif WADA dan Komite Penilai Kepatuhan Anti-Doping (CRC) pada 14 September 2021. WADA menyatakan sudah mengirimkan surat pemberitahuan kepada Organisasi Anti-Doping (ADO) yang melanggar.

Terkait

 
Itu artinya dalam waktu satu tahun ke depan, Indonesia tak bisa mengibarkan bendera nasional di acara-acara olahraga internasional. Selain itu, Indonesia juga terancam tak bisa menggelar acara olahraga internasional.
 
 

Sebelumnya, WADA menjatuhkan sanksi kepada Rusia pada 2019 karena permasalahan tes doping. Rusia pun dilarang berpartisipasi di berbagai kejuaraan internasional selama empat tahun. Belakangan, Badan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS) memangkas sanksi tersebut menjadi dua tahun. Atas alasan inilah, atlet-atlet Rusia di Olimpiade Tokyo 2020 berlaga dengan menggunakan tanda identitas sebagai atlet Russia Olympic Comitte (ROC).

Kementerian Pemuda dan Olahraga yang paling bertanggung jawab terhadap masalah ini terlihat  justru lamban responsnya. Sebelumnya, Menpora Zainudin Amali  sebelum insiden di ajang Piala Thomas menyebut sanksi dari WADA terhadap Indonesia belum dijatuhkan.

Indonesia masih diberikan kesempatan memberikan klarifikasi dan menyelesaikan pengiriman sampel antidoping kepada WADA. Kenyataannya, sanksi sudah jatuh. Dan Indonesia harus menanggung kecewa dan malu di Piala Thomas.

Presiden Jokowi pun harus turun tangan. Jumat pekan dalam rapat kabinet terbatas di Istana Negara Jakarta, Jokowi menegur menpora. Rapat terbatas itu membahas status tidak patuh Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) terhadap prosedur penanganan doping di Tanah Air yang berujung bendera Merah Putih tidak berkibar di Piala Thomas.

 
Jangan sampai insiden di ajang Piala Thomas terulang di acara lainnya. Bekerjalah dengan serius.
 
 

Untuk menuntaskan masalah ini, Kemenpora bersama National Olympic Committee (NOC) Indonesia dan LADI membentuk tim khusus untuk mempercepat penanganan.   Tim juga akan  menginvestigasi mengapa masalah itu terjadi.

Memang tidak elok jika Presiden terlalu sering turun tangan mengurus soal-soal teknis. Tapi hal itu perlu dilakukan jika memang bawahannya tidak serius menjalankan tugasnya.

Kita  berharap, teguran Presiden Jokowi ampuh, dan tim yang sudah dibentuk ini bisa  bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menyelesaikan masalah ini. Baik yang berkaitan dengan WADA maupun pembenahan-pembenahan yang harus dilakukan oleh LADI agar sanksi bisa segera dicabut.

Jangan sampai insiden di ajang Piala Thomas terulang di acara lainnya. Bekerjalah dengan serius.


×