Dr Muhammad Mansyur Romi SU PA(K) | DOK IST
24 Oct 2021, 09:39 WIB

Ibadah dari Perspektif Ilmu Anatomi

Muhammad Mansyur Romi menjelaskan, dalam Alquran ada banyak sekali ayat tentang fenomena embriologi.

Dalam beribadah, seorang Muslim akan melakukan gerakan-gerakan tertentu, sebagaimana tuntunan syariat atau fikih. Misalnya, shalat, baik sendirian maupun secara jamaah. Mulai dari takbiratul ihram hingga salam, pengamal shalat akan bergerak dengan runtut dan beraturan.

Menurut dr Muhammad Mansyur Romi SU PA(K), gerakan tubuh dapat dikaji melalui ilmu anatomi. Sebagai ilmu basic dalam kedokteran, disiplin itu ternyata bisa menjelaskan berbagai fenomena di luar dunia medis, termasuk ritual keagamaan.

“Sebetulnya tuntunan di syariat dalam ibadah ritual (mahdhah) banyak menyangkut jasmani. Sebut saja, aturan-aturan syariat tentang kebersihan, bersuci (thaharah), pola makan, dan sebagainya. Bahkan, banyak ibadah yang bila dilakukan dengan benar akan bermanfaat dalam memelihara hingga memperbaiki sistem-sistem organ tubuh kita,” ujarnya menjelaskan.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu mengingatkan, ibadah bila dipandang dari perspektif anatomi tidak berhenti pada tataran fisik. Bagian-bagian tubuh tidak hanya untuk menjalankan fungsi biologis atau fisiologisnya. Lebih dari itu, semuanya mesti digunakan sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT.

Terkait

“Ingat surah Yasin, ayat yang menerangkan tentang kesaksian anggota-anggota tubuh kita saat nanti di Hari Akhir,” katanya.

Berikut ini petikan perbincangan antara wartawan Republika, Muhyiddin, dan dr Romi beberapa waktu lalu.

Secara garis besar, apa yang dimaksud dengan studi anatomi?

Anatomi itu adalah salah satu ilmu dasar di dunia kedokteran. Itu merupakan ilmu tentang struktur tubuh manusia dan dikaitkan pula dengan fungsinya. Sebagai ilmu dasar, kontribusinya diharapkan tidak hanya secara klinis di praktik kedokteran,  tetapi juga bidang-bidang di luar kedokteran.

Cakupan anatomi pun luas. Ia membicarakan, umpamanya, proses terbentuknya embrio hingga perkembangan. Kemudian, letak dan hubungan antarberbagai organ dalam tubuh (topografi). Selain itu, bagaimana memanfaatkan struktur agar menghasilkan kerja yang baik (kinesiologi). Dan masih banyak lagi .

Bagaimana sejarah studi anatomi?

Sebagai bagian dari ilmu kedokteran, (ilmu) anatomi itu telah dikenalkan oleh Aristoteles sejak ratusan tahun sebelum Masehi. Bahkan, kalau kita melihat pada peninggalan fosil-fosil, itu sudah digambarkan tentang struktur tubuh. Anatomi semakin berkembang sesuai kenyataan atau perkembangan zaman. Praktik pembedahan mayat atau kadaver pun memacu perkembangan studi anatomi.

Sekarang, sudah lebih maju pesat karena adanya teknologi untuk menghasilkan gambar struktur tubuh manusia, yakni dengan pencitraan (imaging). Ada yang dua dimensi, tetapi makin ke sini, makin canggih dengan adanya tiga dimensi (3D) hingga artificial intelligence (AI) dan augmented reality (AR).

Bagi kalangan di luar dunia kedokteran, apa saja manfaat pengkajian anatomi?

Mempelajari anatomi diperlukan dalam bidang di luar kedokteran dan kesehatan. Misalnya, dalam hal ergonomy, yakni merancang dan mengembangkan alat-alat yang sesuai pada tubuh manusia. Kalau diproduksi massal, bisa masuk ke ranah industri dan transportasi.

Dalam ranah ilmu sejarah, antropologi, atau arkeologi, ilmu anatomi ini juga dapat digunakan untuk membandingkan. Misalnya, perbandingan bentuk atau struktur tubuh manusia prasejarah dengan manusia modern.

Kajian ini dikenal sebagai Antropologi Ragawi. Bahkan, dapat pula ilmu ini digunakan untuk mengamati perbedaan struktur tubuh manusia dari beberapa ras yang berbeda, serta pola perkembangannya dari masa ke masa.

Baru-baru ini, Anda membahas tentang kaitan ilmu anatomi dan Islam. Bagaimana hubungan antara keduanya?

Ini memang isu yang menarik bagi saya. Kajian anatomi mencakup aneka level, baik makroskopis yang kasat mata hingga mikroskopis yang tidak tampak mata telanjang. Maka, untuk mengkaji keberadaannya, kita perlu bantuan alat. Secara umum, prinsipnya ialah bagaimana agar tubuh ini bisa menjalankan peran dan memeliharanya dengan baik.

Sebetulnya tuntunan di syariat dalam ibadah ritual (mahdhah) banyak menyangkut jasmani. Sebut saja, aturan-aturan syariat tentang kebersihan, bersuci (thaharah), pola makan, dan sebagainya. Bahkan, banyak ibadah yang bila dilakukan dengan benar akan bermanfaat dalam memelihara hingga memperbaiki sistem-sistem organ tubuh kita.

Misalnya, gerakan-gerakan shalat. Sudah banyak kajian dan buku karya ilmiah yang mendalami hal itu. Dengan menyelami hikmahnya, kita juga terdorong untuk mengamalkan dalam keseharian.

Bagaimana penjelasan ilmu anatomi tentang manfaat ibadah, seumpama shalat?

Tuntunan ibadah umumnya diawali dengan pentingnya kebersihan. Ini sangat mendasar bagi dunia kesehatan. Ambil contoh, shalat. Gerakan-gerakannya juga berkhasiat positif bagi tubuh.

Misalnya, saat berdiri tegak, tuma’ninah, dan rukuk. Begitu pula dengan posisi sujud yang menunjang sirkulasi darah di kepala, khusunya otak. Otak merupakan organ yang istimewa sehingga perlu mendapatkan asupan oksigen melalui sirkulasi darah sebanyak 20 persen dari yang ada. Maka, keutamaan bersujud dengan khusyuk sangat bermanfaat bagi otak sebagai penunjang aliran darah itu.

Semua gerakan shalat bisa dimaknai positif bagi kesehatan. Misalnya, sebuah penelitian mengungkapkan, duduk tahiyat akhir itu idealnya adalah tumit kaki kiri berada di antara anus dengan kemaluan, terutama bagi laki-laki. Dengan menempatkan tumit di sana, itu akan berpengaruh pada kelenjar prostat.

Dengan posisi seperti itu, dia akan merangsang kelenjar itu. Hasilnya bisa mencegah hipertrofi prostat, yang memang sering dialami laki-laki, terutama saat usia lanjut. Ada kajian yang menyimpulkan bahwa duduk tahiyat akhir itu dapat menunda pembesaran prostat.

Bagaimana kajian anotomi modern dapat membuktikan kebenaran Alquran?

Yang signifikan sebetulnya ialah kita mempelajari perkembangan kejadian manusia atau embriologi. Itu satu contoh saja. Nah, di dalam Alquran ada banyak sekali ayat tentang fenomena tersebut (embriologi). Bagaimana tahapan-tahapan dilalui, yakni sejak masih berupa nutfah (tetesan air), ’alaqah (segumpal darah), hingga mudghah (segumpal daging) dan seterusnya.

Sementara, dunia sains dan ilmu pengetahuan sendiri—saya kira—baru dua abad terakhir ini bisa menunjukkan secara nyata proses pembuahan itu. Sains menjelaskan tahapan-tahapan sejak masih dalam rahim hingga menjadi manusia yang lengkap.

Kalau kita lihat, embriologi itu adalah salah satu bukti yang nyata (kebenaran Alquran –Red). Sebab, sudah dijelaskan sejak sekian abad yang lalu oleh wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad SAW.

Sementara, baru sekitar dua abad yang lalu sains mampu menjelaskannya, dengan adanya instrumen-instrumen canggih untuk pencitraan (imaging) yang makin perinci  atau mikroskop elektron dan sebagainya.

Jadi, anatomi telah membuktikan beberapa kebenaran Alquran. Selain itu, tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW dalam kehidupan juga sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah. Misalnya dalam bidang kesehatan dan kedokteran. Namun, itu juga masih terus menjadi tantangan.

Artinya, belum semua bisa dipahami. Ibaratnya seperti kajian embriologi tadi. Itu kan sains modern membutuhkan waktu sekitar 12 abad—sejak masa Nabi SAW—baru kemudian bisa melihatnya secara faktual.

Apa saja tantangan perkembangan ilmu anatomi?

Pengembangan ilmu kan harus tetap ditekankan dan diutamakan. Anatomi memang merupakan ilmu dasar. Kalau di kedokteran, itu kita bisa membedakan ilmu dasar dan ilmu klinik yang kaitannya dengan praktik.

Nah, kalau kita melihat pada mahasiswa kedokteran, tentu umumnya mereka ingin menjadi praktisi yang menjalankan kedokteran klinik di rumah sakit. Sementara, yang berkutat menekuni ilmu kedokteran dasar memang lebih sedikit dibandingkan dengan yang menekuni klinis.

Namun, sekarang seiring dengan perkembangan ilmu biologi, termasuk pada tingkat molekuler, penelitian-penelitian itu menjadi semakin menarik. Ini pula yang meningkatkan minat mereka pada bidang anatomi sebagai sebuah ilmu dasar.

Apakah anatomi memiliki kontribusi dalam penanganan Covid-19?

Dalam situasi pandemi ini, kita dianjurkan untuk menjaga protokol kesehatan. Di antaranya adalah rajin mencuci tangan. Padahal, kita sebenarnya sudah ada amalan yang lebih dari itu, yakni berwudhu. Namun, berwudhu pun kadang kita masih asalan-asalan juga.

Misalnya, saat membersihkan ronggga hidung atau yang disebut istinsyaq. Itu adalah suatu proses menghirup air ke dalam hidung, kemudian mengeluarkannya lagi (nasal irrigation). Dengan begitu, rongga hidung kita menjadi bersih. Maka dengan berwudhu secara betul, sesuai tuntunan sunah Rasulullah SAW, itu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Bagi para penyandang Covid-19, ada posisi yang dianjurkan agar sistem pernapasan tetap lancar. Ini dikenal sebagai proning. Sebenarnya, posisi demikian arahnya (seperti) mengamalkan posisi sujud. Apalagi, disebutkan bahwa pada posisi sujud saat shalat, itu merupakan momen ketika seorang hamba merasa begitu dekat dengan Allah SWT.

Anatomi berperan untuk bisa melihat bagaimana perjalanan suatu penyakit dan apa yang bisa diakukan dari sisi anatomi tubuh. Kalau penanganannya sendiri, sebenarnya lebih ke ilmu tiap-tiap penyakitnya.

photo
Anatomi sebagai sebuah disiplin keilmuan telah berkembang sejak masa berabad-abad silam. - (DOK Wikipedia)

Berkembang Dalam Rentang Sejarah

Anatomi sebagai sebuah disiplin keilmuan telah berkembang sejak masa berabad-abad silam. Menurut dr Muhammad Mansyur Romi SU PA(K), ada kasus yang menarik, yakni perkembangan ilmu itu di Benua Eropa. Selama abad pertengahan, Benua Biru dilanda tekanan otoritas agama. Gereja menghalang-halangi penelitian dan studi, termasuk anatomi sebagai dasar ilmu kedokteran.

Keadaan yang bertolak belakang terjadi di daulah Islam. Ambil contoh, Baghdad, ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah pada masa itu. Kota Seribu Satu Malam justru dilanda tren penelitian medis. Turut berkembang pula kajian-kajian dalam bidang anatomi. Pemerintah pun menyokong dengan dana dan pembangunan berbagai infrastruktur publik, semisal rumah sakit, madrasah, dan perpustakaan.

“Ilmu anatomi manusia dulu tidak dikenal baik di Eropa karena kesempatan untuk mempelajari lebih dalam tentang tubuh manusia dihalangi oleh gereja. Sementara, pada masa yang sama justru di Timur Tengah perkembangannya sangat maju,” ujar Mansyur Romi kepada Republika, baru-baru ini.

Pakar dari Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (PAAI) itu meneruskan, pada saat Eropa dirundung abad kegelapan, ilmu kedokteran di dunia Islam justru tumbuh subur. Di Baghdad, muncullah tokoh-tokoh seperti Muhammad al-Razi, Ibnu al-Haitham, Ibnu Sina, Ibnu al-Nafis, dan Mansur bin Ilyas.

 
Pada saat Eropa dirundung abad kegelapan, ilmu kedokteran di dunia Islam justru tumbuh subur.
 
 

Dokter kelahiran Cilacap 10 Agustus 1956 ini menjelaskan, Eropa bagaimanapun tidak bisa dikatakan tanpa peran dalam perkembangan ilmu anatomi. Sebagai contoh, perkembangan yang terjadi di Iskandariah, Mesir. Para penguasa setempat sangat menghargai ilmu.

Itu terjadi jauh sebelum masa Islam, bahkan sebelum lahirnya Rasulullah SAW. Maka, praktik-praktik ilmu anatomi pun bergiat. Banyak ahli melakukan pembedahan kadaver untuk mengetahui struktur tubuh manusia.

“Sekitar abad ketiga Masehi itu ada tokoh di Alexandria (Iskandariah) yang merintis pembedahan pada tubuh manusia,” ucapnya.

Sementara itu, menurut dr Romi, buku teks anatomi paling awal yang dilengkapi ilustrasi antara adalah karya Mansur ibn Ilyas (1380-1422) yang dikenal sebagai Tashrihi Badani Insani Mansuri atau Mansur’s Anatomy. Dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap diseksi manusia, buku teks anatomi dengan ilustrasi yang sesuai dengan aslinya (naturalis) semakin berkembang.

Kecenderungan itu terus tumbuh. Hingga akhirnya pada abad ke-15 hadir Andreas Vesalius (1514-1564) yang menghasilkan karya De Humani Corporis Fabrica. Dialah yang dijuluki dalam literatur Barat sebagai “Bapak Anatomi Modern".

Vesalius tercatat sebagai ahli kedokteran yang menekankan pentingnya diseksi mandiri untuk belajar ilmu anatomi.


×