Sejumlah personel Polri dan TNI yang tergabung dalam Satgas Madago Raya berkoordinasi saat melakukan patroli di pergunungan Manggalapi, Sigi, Sulawesi Tengah, Senin (16/8/2021). | ANTARA FOTO/Rangga Musabar
22 Oct 2021, 03:45 WIB

Poros Damai Poso-Bima

Mengakhiri ekstremisme-terorisme di Poso strategis karena memadamkan potensi baru kekerasan.  

MUHAMMAD NAJIB AZCA, Sosiolog dan Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM

Pertengahan September lalu, ada peristiwa kecil di kota kecil Bima, NTB, tapi bermakna besar bagi perdamaian di Indonesia, yaitu diskusi Muhammad Adnan Arsal, Panglima Damai Poso. Buku terbitan Elex Media Komputindo ini ditulis Khoirul Anam.

Diskusi berlangsung di Pondok Pesantren Al-Madinah, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Kebetulan sedang riset lapangan di Bima, saya beruntung bisa menghadirinya. Acara itu bermakna besar karena sejumlah alasan.

Pertama, buku berkisah proses perdamaian di Poso, Sulawesi Tengah, yang tercabik konflik berdarah sejak 1998. Lebih spesifik, soal perjuangan tokoh terkemuka umat Islam di Poso, Ustaz Adnan Arsal membangun dan merawat perdamaian.

Terkait

Ia tokoh terkemuka saat konflik komunal agama mendera hebat, terutama pada 1999-2001. Ia juga terdepan ketika proses perdamaian dirajut hingga tercapai Perjanjian Damai Malino I awal 2001 ataupun upaya damai lain hingga kini.

 

 
Sejak didirikan Santoso atau Abu Wardah, MIT terus melakukan aksi terorisme berbasis di kawasan Gunung Biru, pesisir Poso, hingga pegunungan di Kabupaten Sigi dan Parigi-Moutong.
 
 

 

Kedua, proses perdamaian dan perjanjian damai pada 2001, terusik aksi bercorak terorisme sekelompok kecil milisi terlatih, baik terafiliasi Jamaah Islamiyah (JI) pada 2002-2007 maupun Mujahidin Indonesia Timur (MIT) sejak 2012 hingga kini.

Sejak didirikan Santoso atau Abu Wardah, MIT terus melakukan aksi terorisme berbasis di kawasan Gunung Biru, pesisir Poso, hingga pegunungan di Kabupaten Sigi dan Parigi-Moutong.

Sejak 2015, pemerintah melancarkan operasi keamanan mulai dari Operasi Camar Maleo (2015-2016), Tinombala (2016-2021), dan Madago Raya sejak awal 2001 hingga kini.

Lalu apa kaitannya dengan Bima? Nah, itu alasan ketiga, sejumlah anggota terpenting MIT berasal dari Bima. Mereka dididik dan dibesarkan di sejumlah pondok pesantren di Bima, antara lain Al-Madinah.

 Mereka Qatar alias Farel alias Anas, Abu Alim alias Ambo, Nae alias Galuh, dan Askar alias Jaid alias Pak Guru. Ada pula perempuan Bima, yaitu Umi Delima (istri Santoso), Umi Mujahid (istri Basri), dan Umi Fadel (istri Ali Kalora). (JPNN, 4 Januari 2016).

Maka itu, membangun damai di Poso tak bisa dilepaskan dari ikhtiar menghentikan dukungan dari kelompok mujahidin, yang berafiliasi dengan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang berbasis di Bima, NTB.

Pakar studi terorisme di Asia Tenggara dan Direktur Institute for Policy and Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, menganalisis, Qatar diduga lebih berpengaruh daripada Ali Kalora, komandan dan anggota paling senior MIT (Detikcom, 3 Desember 2020).

 
Seruan ini disambut hangat tokoh agama di Bima, termasuk pimpinan Pondok Pesantren Al-Madinah, Ustaz Bunyamin, yang menyatakan, “Konflik di Poso tak boleh diduplikasi di tempat lain. Hentikan teror sekarang juga!”
 
 

Pertalian erat MIT di Poso dengan basis gerakan JAD di Bima, membuat acara di Pondok Pesantren Al-Madinah strategis.

Apalagi, di acara itu, ‘Panglima Damai Poso’ Ustaz Arsal membuat seruan damai, yakni mengharapkan ustaz dan tokoh di Bima menyerukan anak-anak Bima yang ‘berjihad’ di Gunung Biru, turun gunung dan kembali ke kehidupan biasa karena masa berjihad sudah usai.

Seruan ini disambut hangat tokoh agama di Bima, termasuk pimpinan Pondok Pesantren Al-Madinah, Ustaz Bunyamin, yang menyatakan, “Konflik di Poso tak boleh diduplikasi di tempat lain. Hentikan teror sekarang juga!”

Poros damai

Poros gerakan damai di Poso dan Bima strategis karena pertama, konflik kekerasan komunal yang bertransformasi menjadi gerakan ekstremisme-terorisme di Poso, merupakan fenomena kekerasan kolektif berumur panjang di Indonesia.

Cerita berbeda terjadi di Maluku. Kekerasan komunal keagamaan dan ekstremisme-terorisme reda sejak 2004. Maka itu, mengakhiri ekstremisme-terorisme di Poso strategis, karena memadamkan potensi baru kekerasan yang berpotensi meluas.

Kedua, saat dukungan pada MIT di Poso meredup, di Bima justru menguat. Itu ditemukan laporan riset “Jalan Non-Kekerasan Para Jihadis: Laporan dari Poso dan Bima” dibuat CRCS UGM dan PUSAD Universitas Paramadina pada 2019.

 
Jadi, kini kekuatan MIT tinggal empat orang, dengan persenjataan dan logistik minimal serta dukungan dari masyarakat, yang semakin rapuh. Perkembangan di Poso juga tampak makin kondusif.
 
 

Temuan awal kaitan gerakan ekstremisme-terorisme di Poso dan Bima, diungkapkan laporan IPAC pada 2018. Di situ disebutkan, MIT sudah lama melatih beberapa orang Bima yang ke Poso dan berbaiat kepada Santoso, pimpinan MIT. Pada 11 September 2017, dua teroris menembak polisi di Bima konon atas perintah Santoso.

Jadi jelaslah, ‘poros damai’ Poso-Bima bermakna penting bagi ikhtiar membangun perdamaian di Indonesia. Dua titik panas dalam sejarah gerakan ekstremisme-terorisme itu perlu dipadamkan secara simultan.

Untungnya, pada 18 September 2021, saat ‘poros damai’ Poso-Bima dikukuhkan di Bima terdengar kabar ‘baik’ dari Poso: pentolan MIT di Gunung Biru, Ali Kalora bersama Ikrima atau Jaka Ramadhan berhasil dilumpuhkan operasi keamanan.

Jadi, kini kekuatan MIT tinggal empat orang, dengan persenjataan dan logistik minimal serta dukungan dari masyarakat, yang semakin rapuh. Perkembangan di Poso juga tampak makin kondusif.

Ketika riset lapangan di Poso awal Oktober lalu, saya sempat berdiskusi dengan sejumlah mantan narapidana terorisme (napiter), yang meninggalkan kekerasan dan meretas jalan baru untuk perdamaian.

Bahkan, pada 11 Oktober lalu, 23 mantan napiter Poso mengucapkan ikrar perdamaian dan kesetiaan kepada NKRI. Semoga ‘poros damai’ Poso-Bima kian kokoh menyokong perdamaian di bumi nusantara. 


×