Santri beraktivitas usai mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) di Pondok Pesantren Nurul Iman, Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat (3/9/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
21 Oct 2021, 03:45 WIB

Mengelola Surplus SDM dari Pesantren

Profesional berlatar belakang santri semestinya menjadi role model dalam urusan integritas dan moralitas.

AHMAD THOLABI KHARLIE; Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

Pesantren merupakan model pendidikan khas berbasis keislaman di Indonesia. Eksistensi pesantren, dalam kenyataannya membersamai penguatan SDM, khususnya bagi masyarakat Muslim di Indonesia.

Dalam kurun tiga tahun terakhir, eksistensi pesantren maju cukup pesat. Khususnya, terkait rekognisi negara, yang diwujudkan melalui legal policy. UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren serta aturan turunannya mengonfirmasi wajah baru pesantren.

Keterlibatan negara dalam pemajuan pesantren menjadi tonggak perkembangan pesantren. Penguatan kapasitas santri, ditandai fase masuknya mereka ke sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) ataupun perguruan tinggi umum (PTU).

Terkait

Termasuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri, baik di Timur Tengah, Eropa, Afrika, maupun Amerika. Fenomena ini berdampak cukup penting, khususnya dalam peningkatan SDM dari kalangan santri.

 

 
Gelombang melimpah ruahnya sarjana berlatar belakang santri dalam dua dekade terakhir meningkat signifikan. Ini ditandai dengan lahirnya profesional di luar bidang keagamaan.  
 
 

 

Kelahiran banyak sarjana berlatar belakang santri ini menandai fase musim semi-intelektual. Keberadaan sarjana santri, semestinya dikelola baik dengan cara pemetaan, pendistribusian, termasuk penguatan di ruang publik, baik negara maupun partikelir.

Profesional plus

Gelombang melimpah ruahnya sarjana berlatar belakang santri dalam dua dekade terakhir meningkat signifikan. Ini ditandai dengan lahirnya profesional di luar bidang keagamaan, yang pada awal 1980-an atau 1990-an relatif sulit dijumpai.  

Ragam profesi yang sebelumnya tak pernah terlintas dari kalangan santri, kini mudah ditemukan, seperti dokter, insinyur, bahkan profesi yang belakangan digandrungi anak muda, yakni kreator konten berbasis digital.

Uniknya, mereka penghafal Alquran dan fasih membaca teks Arab tanpa penanda (kitab kuning). Lahirnya profesi di luar bidang keagamaan ini, tak lepas dari kebijakan negara memfasilitasi beasiswa pendidikan, tak terkecuali dari kalangan santri. Termasuk program beasiswa dokter santri dan 5.000 doktor dari Kemenag.

Maka itu, tak berlebihan bila posisi santri cukup menentukan pada momen penting, seperti saat memasuki bonus demografi pada 2030, termasuk saat Indonesia Emas tahun 2045. 

Sejatinya, ada nilai pembeda profesionalitas santri dengan di luar santri. Di atas kertas, aktivitas profesional dari kalangan santri tak lepas dari spirit moralitas dan pemahaman keagamaan yang tidak dangkal.

 

 
Sejatinya, ada nilai pembeda profesionalitas santri dengan di luar santri. Di atas kertas, aktivitas profesional dari kalangan santri tak lepas dari spirit moralitas dan pemahaman keagamaan yang tidak dangkal.
 
 

 

Di titik ini, profesional berlatar belakang santri semestinya menjadi role model dalam urusan integritas dan moralitas di pelbagai profesi, bukan sebaliknya. Persinggungan santri dengan kiai dan umat menjadi pembeda dari profesional lainnya.

Kehidupan bersahaja dan berdisiplin di lingkungan pesantren menjadi modal penting untuk menautkan rasa, batin, dan sikap dari profesional berlatar belakang santri dengan umat. Di sinilah letak nilai plusnya.

Membumikan santri

Setiap zaman memiliki tantangan berbeda. Namun, setiap generasi memiliki sisi persamaan, yakni spirit untuk senantiasa berkhidmat kepada umat. Dalam konteks ini, identifikasi tantangan generasi saat ini penting agar yang dilakukan santri sesuai yang dirasakan umat.

Santri dan umat memiliki kesamaan nilai, rasa, pandangan, dan orientasi, baik dalam urusan keagamaan, kemasyarakatan, maupun kebangsaan. Santri mesti menjadi bagian solusi persoalan umat, seperti ekonomi, pendidikan, lapangan pekerjaan, serta lingkungan.

Akselerasi kontribusi santri dalam penyelesaian masalah kemasyarakatan dan keumatan dapat masuk dari berbagai pintu yang tersedia. Seperti melalui mekanisme politik kenegaraan di ruang publik, baik legislatif maupun eksekutif.

 
Akselerasi kontribusi santri dalam penyelesaian masalah kemasyarakatan dan keumatan dapat masuk dari berbagai pintu yang tersedia.
 
 

Mandat sosial yang diemban santri tentu berbeda dengan kalangan lainnya di luar santri. Setidaknya, selain mengemban misi sosial, pada saat bersamaan memiliki misi rohani sebagai bentuk pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya.

Moralitas perjuangan dan pengabdian menjadi pembeda dari kalangan lainnya di luar santri. Konsekuensinya, pejabat publik dari kalangan santri harus berperilaku saleh secara spiritual dan saleh secara sosial.

Pintu lainnya, upaya di luar kenegaraan. Penguatan umat melalui jalur ekonomi tak kalah penting. Lahirnya entrepreneur dari kalangan santri berkontribusi nyata membuka lapangan kerja. Meski begitu, permodalan kerap menjadi masalah krusial.

Sejalan dengan hal itu, ketersediaan regulasi mengenai pesantren menjadi titik pijak melahirkan santri unggulan. Kebijakan afirmatif dari negara menjadi kesempatan baik untuk penguatan kapasitas santri.

Setidaknya, berbagai upaya tersebut diharapkan, menjadi mekanisme efektif mendekatkan santri kepada umat. Santri di ruang publik, dapat lebih mengoptimalkan potensi dan jejaring untuk menjadi bagian dari solusi masalah keumatan dan kebangsaan.

Terutama dari itu, keberadaan santri juga tak menjadi beban masyarakat dan negara. Sebaliknya, santri harus menjadi bagian dari solusi untuk setiap masalah bangsa. 


×