Kapsul Molnupiravir yang disebut ampuh mengobati pasien Covid-19. Dokumen ACT-A itu akan dikirimkan kepada para pemimpin global menjelang KTT G-20. | AP Photo
20 Oct 2021, 03:45 WIB

WHO Siapkan Program ACT-A

Dokumen ACT-A akan dikirimkan kepada para pemimpin global menjelang KTT G-20.

BRUSSELS – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyiapkan program baru penanganan Covid-19 yang disebut Access to COVID-19 Tools Accelerator (ACT-A). Rancangan dokumen yang diungkap Reuters, Selasa (19/10), menyebutkan, program itu memungkinan negara kurang mampu mendapat akses yang adil terhadap vaksin, tes, dan pengobatan Covid-19.

“ACT-A masih berbentuk rancangan yang sedang dikonsultasikan,” kata seorang juru bicara yang dikutip Reuters. Ia pun menolak berkomentar lebih jauh tentang dokumen bertanggal 13 Oktober itu karena belum tahap final.

Dokumen ACT-A itu akan dikirimkan kepada para pemimpin global menjelang Konferensi Tinggal Tinggi (KTT) G-20 di Roma, Italia, pada 30-31 Oktober. Dalam KTT ke-16 itu Indonesia akan resmi menerima jabatan presidensi G-20 untuk masa jabatan 2022.  

ACT-A akan meminta anggota G-20 dan para donor lain untuk memberi dana tambahan sebesar 22, 8 miliar dolar AS hingga September 2022. Sejauh ini sudah ada komitmen 18,5 miliar dolar AS.

Terkait

Dana itu diperlukan untuk membeli dan mendistribusikan vaksin, alat tes, dan obat-obatan ke negara kurang mampu serta biaya pendistribusiannya. Program ACT-A diharapkan dapat mempersempit celah antara negara kaya dan negara kurang mampu. Program itu juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan oksigen sekitar 6 juta hingga 8 juta pasien kritis dan parah hingga September 2022.

Program ACT-A juga ingin mengamankan obat antivirus untuk pasien dengan gejala sedang dengan biaya setinggi-tingginya sekitar 10 dolar AS. Salah satu obat yang dibidik adalah pil Molnupiravir produksi Merck & Co’s yang masih dalam tahap uji coba. Perusahaan farmasi itu sudah menjalin kesepakatan lisensi dengan delapan perusahaan obat generik di India.

Berdasarkan dokumen, program ACT-A akan berlangsung hingga September 2022. Program ini menyalurkan sekitar 1 miliar unit tes untuk mendiagnosis Covid-19 di negara kurang mampu. ACT-A juga menyasar pengadaan pengadaan obat bagi sekitar 120 juta pasien secara global. Dalam 12 bulan ke depan, diperkirakan ada 200 juta kasus baru Covid-19.

Rencana WHO ini menekankan upaya untuk mengamankan pasokan obat dan tes dengan harga rendah. Upaya ini tampaknya bercermin dari pengalaman lalu, setelah dunia kalah bersaing dengan negara-negara kaya dalam perebutan jatah vaksin Covid-19. Akibatnya, negara-negara miskin harus bergulat untuk mendapatkan vaksin.

Harga tersebut cukup rendah dibandingkan biaya pengobatan per paket di Amerika Serikat yang mencapai 700 dolar AS. Namun, penelitian yang dilakukan Harvard University memperkirakan, Molnupiravir akan berharga 20 dolar AS per paket jika diproduksi oleh perusahaan obat generik. Jika produksi dioptimalkan, harga tersebut bahkan dapat ditekan hingga 7,7 dolar AS per paket.

Menyasar alat diagnostik

Menurut rencana, ACT-A akan mengalokasikan sepertiga dari dana 22,8 miliar dolar AS untuk alat diagnostik Covid-19. Porsi tersebut adalah yang terbesar dibanding alokasi lainnya.

Pengadaan alat diagnostik itu menyasar negara yang kurang mampu dengan katagori negara berpendapatan rendah dan berpendapatan menengah-bawah.  

Saat ini negara yang kurang mampu melakukan tes rata-rata 50 tes per 100 ribu orang setiap harinya. Sedangkan di negara kaya rata-rata 750 tes per 100 ribu orang per hari.

ACT-A ingin meningkatkan jumlah tes sekurangnya menjadi 100 tes per 100 ribu orang di negara yang kurang mampu. Ini artinya akan ada sekitar 1 miliar tes dalam 12 tahun ke depan.

Tes ini diharapkan dapat membantu untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya varian baru. Kemunculan varian baru cenderung berkembang biak saat infeksi menyebar. Ini biasanya terjadi di negara-negara dengan tingkat vaksinasi rendah.

Sejauh ini tingkat vaksinasi di antara negara-negara dunia menunjukkan ketimpangan, antara 1 persen hingga lebih dari 70 persen dalam populasi. Hal ini bergantung pada tingkat kekayaan negara masing-masing.

ACT-A bertujuan untuk memvaksin sekurangnya 70 persen dari populasi dunia pada pertengahan 2022. Target ini sejalan dengan target WHO.


×