Mantan Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell. Saat Powell menjadi menlu, AS melakukan invasi ke Irak pada 2003. | AP Photo/Daniel Ochoa de Olza
20 Oct 2021, 03:45 WIB

Sosok ‘Penuh Warna’ Colin Powell

Saat Powell menjadi menlu, AS melakukan invasi ke Irak pada 2003.

OLEH LINTAR SATRIA

Mantan menteri luar negeri Amerika Serikat (AS) Colin Powell berpulang pada usia 84 tahun, Senin (18/10). Ia menderita komplikasi dari Covid-19. Sebelumnya, ia sempat mendapatkan vaksin Covid-19 lengkap.

“Beliau memiliki dua komorbid. Sayangnya, (vaksinasi) tidak bekerja dengan baik. Tuhan lebih mencintainya,” kata Presiden AS Joe Biden tentang Powell.

Menurut seorang teman yang tak mau disebutkan namanya, Powell didiagnosis gejala Parkinson tahap awal. Ia juga mieloma ganda yang gejalanya menunjukkan kian reda. Kanker darah ini mengrangi kemampuan tubuhnya untuk melawan infeksi.

Terkait

Powell adalah sosok penuh warna, baik secara harafiah maupun simbolis. Pria berdarah Jamaika ini adalah kulit hitam pertama di AS yang menjadi menlu (2001-2005). Ia juga pernah menjadi penasihat keamanan nasional atau National Security Adviser (NSA).

Sang jenderal juga pernah menjadi kepala staf gabungan di militer AS. Di ranah politik, Powell mengabdi kepada tiga orang presiden dari Partai Republik.

photo
Colin Powell saat menjabat sebagai kepala staff gabungan militer AS pada 1991. - (AP Photo)

Saat menjadi menlu, AS melakukan invasi ke Irak pada 2003 dengan alasan negara tersebut memiliki senjata pemusnah massal (WMD). Invasi itu menggulingkan presiden Irak saat itu, Saddam Hussein. Sang presiden kemudian bernasib tragis. Pengadilan menyatakan ia bersalah lalu ia dihukum mati.

Invasi Irak itu dirasakan dampaknya hingga kini. Irak tak lagi sama. Kemarahan masih menguar di negeri Seribu Satu Malam itu. Powell menjadi wajah invasi AS yang menewaskan 200 ribu orang selama hampir dua dekade.

Jutaan warga Irak masih bergulat dengan bencana yang ditimbulkan invasi dan pemberontakan yang terjadi usai invasi. Powell sendiri mengakui konflik itu noda bagi warisan kebijakan luar negerinya.

Warga Kota Mosul di utara Irak masih menanggung beban pemberontakan militan. "Amerika membuat Irak jauh lebih buruk karena mereka menghancurkan seluruh negeri. Lewat merekalah orang-orang dari luar Irak datang untuk menguasai Irak, mereka membawa kekacauan ke Irak," kata warga Kota Mosul, Khaled Jamal, seperti dikutip the Guardian, Rabu (19/10).

Di Sidang Umum PBB tahun 2004 lalu Powell mengakui kecacatan perang AS di Irak. "Dia bagian penting dari ini karena ia pembohong utama yang memberikan alasan tak mendasar bagi Amerika menyerang Irak," tambah Jamal.

Warga Mosul lainnya, Suha Mutlak, mengecam kemenangan yang diklaim Powell saat berpidato di sidang Majelis Umum PBB saat itu. "Ia menjadi alasan yang membuat para sepupu saya terbunuh dan keluarga saya harus tinggal di tenda selama tiga tahun. Kemenangan macam apa ini? Kemenangan bagi mereka, bukan bagi kami," katanya.

photo
Warga berunjuk rasa menolak perang Irak yang dilancarkan Amerika Serikat dan Inggris di London, Inggris, pada 2003 silam. (AP Photo/Alastair Grant, File) - (AP)

Namun, di ibu kota Irak, Baghdad, peran Powell dan invasi AS memiliki warna lebih beragam. "Memang benar kami lebih bebas dan kami dapat bepergian dan mencari penghasilan. Namun, pengorbanannya sangat besar untuk sampai ke tahap ini. Apakah semua penderitaan ini benar-benar pantas?" kata pengusaha di Distrik Adhamiyah, Abdul Rahman.

Invasi AS tak lepas dari kisah insiden pelemparan sepatu kepada presiden AS saat itu,  George W Bush. Saat Bush sedang menggelar konferensi pers pada 15 Desember 2008, seorang wartawan, Muntader al-Zaidi, melemparkan sepatu ke arah Bush yang ada di podium. Hal itu dilakukannya dengan kedua sepatunya.

Kemarahan pun masih menyelimuti Al Zaidi saat Powell diberitakan berpulang. "Saya sedih, Colin Powell meninggal tanpa diadili atas kejahatannya di Irak, tapi saya yakin pengadilan Tuhan akan menunggunya," cicit al-Zaidi. 

Sumber : Reuters


×