Warga mengikuti doa bersama saat acara Tolak Bala Berkah Mulud di Kampung Sayar, Serang, Banten, Kamis (29/10/2020). Kejayaan Islam diwujudkan dengan memajukan sains dan teknologi berbasis sanad keilmuan. | ASEP FATHULRAHMAN/ANTARA FOTO

Opini

17 Oct 2021, 15:18 WIB

Sanad Keilmuan dan Keteladanan

Kejayaan Islam diwujudkan dengan memajukan sains dan teknologi berbasis sanad keilmuan.

MUHBIB ABDUL WAHABDosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sesuai namanya yang berarti terpuji, Muhammad SAW manusia paling mulia, pemimpin paling sukses dan berpengaruh sepanjang masa. Memperingati maulidnya, bukanlah sekadar seremonial tanpa substansi.

Namun, bagaimana visi, misi profetik dan substansi Islam rahmatan li al-‘alamin yang pernah diajarkan dan diteladankan beliau diaktualisasikan.

Fakta sosial menunjukkan, masih banyak umatnya belum mengenal, meneladani kepribadian dan ajarannya sehingga belum menjadi sumber nilai, inspirasi, ilmu, dan motivasi dalam mewujudkan kehidupan Islami. Aidh al-Qarni menulis sebuah buku menarik, Muhammad SAW: Kaannaka Tarahu (2002), Muhammad SAW: Seolah Engkau Melihat Beliau.

Buku ini diilhami sabdanya, "Shalatlah sebagaimana engkau melihatku shalat” (HR al-Bukhari) dan “Hendaklah engkau mengambil (memahami dan meneladani) dariku tata cara ibadahmu” (HR Muslim).

Artinya, menghidupkan spirit kenabian dan substansi Islam dengan memahami sirah dan sunahnya itu kebutuhan umat Islam sehingga Islam “ideal dan kontekstual” dapat mencerahkan kehidupan dan menjadi rahmat bagi semesta raya.

 
Menghidupkan spirit kenabian dan substansi Islam dengan memahami sirah dan sunahnya itu kebutuhan umat Islam.
 
 

Nabi SAW diutus Allah SWT untuk referensi dalam beragama Islam. Karena itu, proses edukasi dan transmisi ajaran Islam dari beliau kepada umatnya didokumentasikan dalam mata rantai (sanad) keilmuan.

Metode sanad dalam ilmu hadis merupakan metode ilmiah yang sangat selektif, objektif, dan kredibel dalam menjaga orisinalitas dan kualitas substansi ajaran Islam yang bersumber dari Nabi SAW.

Dengan sanad keilmuan, pengikut Nabi tidak taklid buta tetapi mengembangkan budaya ittiba’ atau mengikuti dengan dalil dan dasar keilmuan yang kuat, amal ibadah yang diteladankan Nabi.

Dalam berislam, sanad keilmuan saja tidaklah cukup, perlu dilengkapi sanad keteladanan karena tidak semua ajaran Islam berada dalam wilayah ta’aqquli (rasional). Sebagian, bersifat ta’abbudi, harus dipahami dan diamalkan seperti yang diajarkan Nabi.

 
Dalam berislam, sanad keilmuan saja tidaklah cukup, perlu dilengkapi sanad keteladanan
 
 

Regulasi ibadah mahdah, misalnya tentang rukun, bacaan, gerakan, rakaat dan waktu shalat, manasik haji dan umrah, rentang waktu puasa Ramadhan, merupakan hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya.

Sanad keilmuan dan keteladanan merupakan bagian integral dari tiga misi utama kenabian, yaitu membacakan ayat-ayat-Nya kepada umatnya, membersihkan mereka, dan mengajarkan mereka Kitab (Alquran) dan hikmah (sunah) (QS al-Jumu’ah [62]: 2).

Dalam at-Tafsir al-Wajiz, Wahbah az-Zuhaily menjelaskan, Nabi membacakan kepada mereka ayat-ayat Alquran, membersihkan mereka dari kesyirikan dan akhlak tercela; dan mengajarkan mereka Alquran, sunah, dan tujuan ajaran syariat dan rahasianya.

Dengan sanad keilmuan dan keteladanan, umat Islam idealnya selalu menjadikan Nabi rujukan moral. Bagi umatnya yang tidak pernah bertemu langsung dengannya, sanad keteladanan itu inspirasi kesalehan, kerinduan, dan kecintaan kepada beliau.

Bersanad keteladanan kepada Nabi tidak cukup memperbanyak shalawat tetapi mesti dibarengi meneladani integritas pribadi, keagungan akhlak, kehebatan kepemimpinan dan kenegarawanannya.

Sanad keilmuan dan keteladanan mengharuskan aktualisasi multikesalehan dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Menjadi saleh personal tidak cukup karena kesalehan Nabi SAW itu diwujudkan dalam semua aspek kehidupan.

 
Sanad keilmuan dan keteladanan mengharuskan aktualisasi multikesalehan dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
 
 

Esensi peran kenabian yang harus dikembangkan itu ada lima (QS al-Ahzab [33]: 45-46). Pertama, menjadi saksi atas kebenaran Islam dengan membuktikan diri sebagai Muslim yang berintegritas dan mampu menjadi teladan bagi yang lain.

Kedua, pembawa kabar gembira indahnya berislam dengan menginisiasi dan menggerakkan kebaikan yang mengantarkan kepada surga duniawi dan ukhrawi.

Ketiga, pemberi peringatan terhadap segala kemaksiatan dan kejahatan yang menjerumuskan manusia dalam neraka, dengan menegakkan kebenaran, supremasi hukum, dan keadilan.

Keempat, menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kelima, menjadi cahaya yang menerangi dan mencerahkan kehidupan berbasis keteladanan sejati.

Lima peran kenabian itu akan selalu relevan dan aktual dengan tantangan dan perubahan zaman. Karena itu, kita perlu terus belajar menjadi umat terbaik dengan mewujudkan lima peran tersebut.

 
Dalam berbisnis, misalnya, teladanilah kejujuran dan keramahan Nabi SAW dalam melayani konsumen.
 
 

Dalam berbisnis, misalnya, teladanilah kejujuran dan keramahan Nabi SAW dalam melayani konsumen. Dalam menegakkan hukum, teladanilah ketegasan, kebenaran, dan keadilan beliau dalam memutus perkara.

Dalam dunia pendidikan, gugu dan tirulah bagaimana beliau mewakafkan jiwa dan raganya untuk mencerdaskan, membimbing, dan mengedukasi umatnya dengan cinta dan sentuhan hati yang penuh keikhlasan, kesabaran, dan kesederhanaan.

Karena itu, kebangkitan dan kejayaan Islam harus diwujudkan dengan memajukan sains dan teknologi berbasis sanad keilmuan serta etos intelektualisme. Meningkatkan amal ibadah dan akhlak mulia, berbasis sanad keteladanan dan nilai-nilai kemanusiaan.


×