Cover Islam Digest edisi Ahad 10 Oktober 2021. Transisi Dua Dinasti Islam | Islam Digest/Republika
17 Oct 2021, 04:16 WIB

Transisi Dua Dinasti Islam

Muawiyah menjadi pemerintahan pertama berbentuk monarki dalam sejarah Islam.

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam sejarah, peralihan dari Dinasti Umayyah ke Abbasiyah diwarnai gejolak. Meski saling berlawanan, keduanya sama membuka jalan bagi ekspansi Islam

Bangkit dan Runtuhnya Umayyah

Dalam sejarah Islam, Dinasti Umayyah merupakan rezim pertama sesudah masa Empat Khalifah yang Utama (Khulafa’ al-Rasyidin). Terbentuknya daulah ini tidak terlepas dari rentetan perang saudara yang terjadi sesudah gugurnya Utsman bin Affan.

Terkait

Khalifah Ali bin Abi Thalib, sebagai pengganti kepemimpinan sang Dzu Nurain, terpaksa menghadapi sesama Muslimin, yakni dalam Perang Unta (656 M) dan Perang Shiffin (657 M).

Pada akhirnya, Ali dibunuh kaum Khawarij, sekelompok ekstremis yang sebelumnya justru mendukungnya. Mu’awiyah bin Abi Sufyan tidak bisa langsung mengambil alih kekhalifahan. Sepeninggalan sepupu Nabi Muhammad SAW itu, sejumlah sahabat Rasulullah SAW di Irak sepakat mengangkat Hasan bin Ali sebagai khalifah baru.

Cucu Rasulullah SAW itu berkali-kali menawarkan perdamaian kepada kubu Damaskus, tetapi selalu gagal. Hanya beberapa bulan sesudah dibaiat, lelaki yang paras wajahnya sangat mirip Nabi SAW itu kemudian meletakkan jabatan.

Menurut ijtihadnya, pengunduran diri adalah pilihan terbaik demi menyudahi kemelut di tengah umat. Kakak Husein bin Ali tersebut lalu kembali ke Madinah al-Munawwarah, menepi dari ingar-bingar politik.

Momen ini dikenang sebagai Tahun Persatuan (Am al-Jama’ah). Meskipun Hasan sudah mengalah, permusuhan terus ditunjukkan kaum Khawarij dan juga Syiah yang berpusat di Kufah. Kelompok-kelompok itu pun semakin keras menentang Damaskus sejak Mu’awiyah mengganti sistem khalifah dengan monarki absolut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Pada 670 M, Hasan berpulang ke rahmatullah. Kira-kira 10 tahun kemudian, Mu’awiyah meninggal dunia. Sebelum menghembuskan napas terakhir, pendiri Dinasti Umayyah ini sempat menunjuk anaknya, Yazid, sebagai penggantinya.

Putra Mu’awiyah ini berkuasa dengan dukungan dari banyak gubernur daerah Islam, termasuk Madinah. Di Kota Nabi, Husein terus ditekan penguasa setempat agar berbaiat kepada Yazid. Dalam kondisi demikian, datanglah surat dari sepupunya, Muslim bin Aqil, yang menyatakan, penduduk Kufah—yakni kaum Syiah—siap berbaiat kepadanya dalam melawan rezim Damaskus.

Tergerak oleh isi surat itu, Husein pun memutuskan untuk pergi ke Irak. Beberapa sahabat sudah memintanya agar tetap tinggal di Tanah Suci. Mereka mengingatkannya tentang pengkhianatan yang pernah dilakukan orang-orang Kufah terhadap ayahnya, Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, Husein sudah terlanjur yakin terhadap pilihannya ini.

Mengetahui informasi tersebut, Yazid menyuruh gubernur Irak, Ubaidullah bin Ziyad, untuk mencegat Husein beserta rombongan. Terjadilah Peristiwa Karbala pada 680 M. Dalam tragedi ini, sang cucu Nabi SAW beserta puluhan sanak famili dan pengikutnya dibunuh secara keji.

Selama lebih dari delapan dekade, Bani Umayyah memimpin umat. Dalam kurun waktu tersebut, wilayah kekuasaannya terus meluas. Bahkan, pada awal abad kedelapan sebagian besar Semenanjung Iberia di Eropa sudah ditaklukkannya.

photo
ILUSTRASI Masjid Agung Umayyah di Suriah. Dinasti Umayyah berdiri sebagai pemerintahan monarki pertama dalam sejarah Islam. - (DOK WIKIPEDIA)

Akan tetapi, krisis politik kerap terjadi. Di antara penyebabnya ialah kecenderungan raja-rajanya untuk menyimpan bara dalam sekam. Sebagai gambaran, Dinasti Umayyah dalam sejarahnya memiliki 14 khalifah. Khususnya pada periode awal berdirinya kerajaan ini, hawa kebencian terhadap kubu Ali masih terasa kuat.

Barulah pada era Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pihak penguasa berupaya meminimalkan atau bahkan menghapus sentimen dari masa silam itu. Raja kedelapan Wangsa Umayyah tersebut pernah ditanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang Perang Shiffin dan Karbala?”

“Itu semua adalah pertumpahan darah yang darinya Allah selamatkan diriku. Sungguh, aku benci untuk mengotori lisanku dengan mengomentarinya,” jawab sang khalifah.

Para pendahulu Umar bin Abdul Aziz, karena merasa dendam terhadap Ali, mewajibkan para khatib untuk menutup khutbah dengan doa-doa keburukan bagi sepupu Rasulullah SAW itu. Berbeda dengan mereka semua, ia tidak hanya mencabut kewajiban itu, tetapi juga menggantinya dengan yang lebih baik.

Umar meminta para khatib untuk menutup khutbah dengan membacakan sebagian dari firman Allah Ta’ala, yakni Alquran surah an-Nahl ayat 90: “Innallaaha ya`muru bil ‘adli wal ihsaani wa iitaa `idzil qurbaa wa yanhaa ‘anil fahsyaa `iwal munkari walbagh-i' ya’izhukum la’allakum tadzakkkaruun.”

(Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat kebajikan [ihsan], memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.) Tradisi yang dimulainya terus bertahan bahkan hingga saat ini di banyak negeri Muslim, termasuk Indonesia.

Sesudah wafatnya Umar bin Abdul Aziz pada 720 M, Dinasti Umayyah memunculkan lagi watak otoriter. Kaum bangsawannya juga kembali memamerkan gaya hidup flamboyan dengan hak-hak istimewanya. Semua itu menyemai bibit-bibit perlawanan di kemudian hari.

Di antara para penentangnya ialah sebagian kaum mawali (non-Arab). Mereka membenci watak pemerintahan Bani Umayyah yang fanatik kearaban. Sebagian besar khalifah Umayyah memiliki kebanggaan yang berlebihan terhadap identitas bangsanya. Kalangan mawali pun dianggapnya rendah, apalagi yang tergabung dalam kubu pemberontak.

Masalah tidak hanya muncul dari daerah-daerah. Di lingkungan istana pun, benih-benih perpecahan kian melebar. Penyebabnya ialah pengangakatan lebih dari satu putra mahkota. Untuk diketahui, sebagian besar khalifah Umayyah mengangkat lebih dari seorang penerus takhta. Biasanya seorang putra tertua diwasiatkan terlebih dahulu untuk kelak menduduki singgasana raja.

Setelah itu, wasiat dilanjutkan kepada putra kedua, putra ketiga, dan seterusnya, atau salah seorang kerabat khalifah, seperti paman atau saudaranya. Perselisihan timbul karena putra mahkota yang lebih dahulu menjadi raja cenderung mengangkat putranya sendiri, alih-alih adik-adik kandungnya atau karib kerabat.

Menurut Benson Bobrick dalam The Caliph Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad, raja dan para bangsawan Umayyah memiliki ketergantungan pada kekuatan militer. Hal itu khususnya terjadi pada masa sesudah pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Lebih lanjut, ketidakcakapan Damaskus dalam mengelola Persia menjadi sumber dari problem besar di ujung zaman dinasti tersebut.

“Pada akhirnya, dua hal meruntuhkan kekuasaan Umayyah. Pertama, pembusukan sistem kesukuan Arab tempat bergantungnya kekuatan militer mereka. Kedua, ketidakpuasan terhadap pemerintah yang muncul dari kesalahannya mengelola Persia,” kata Bobrick.

photo
ILUSTRASI Menara di kompleks Masjid Agung Umayyah. Salah satu penyebab keruntuhan Dinasti Umayyah ialah perpecahan umat. - (DOK WIKIPEDIA)

Revolusi Abbasiyah

Dengan wafatnya Umar bin Abdul Aziz, permusuhan-lama pun bangkit lagi. Raja-raja Umayyah kembali menindas para pendukung Ali bin Abi Thalib. Mereka juga mengekang pengaruh politik Bani Hasyim, terutama yang berasal dari keturunan Abbas bin Abdul Muthalib atau Abbasiyah.

Di Persia, Bani Abbasiyah pimpinan Ibrahim al-Imam terus berkorespondensi dengan Abu Salamah, sosok yang disebut-sebut sebagai wazir Ahlul Bait Rasulullah SAW—keturunan Ali dan Fathimah. Kedua belah pihak juga merangkul kalangan mawali lokal yang dipimpin seorang Persia, Abu Muslim al-Khurasani.

Sejak tahun 742 M, Abu Muslim sukses memimpin pasukan revolusioner hingga berhasil menguasai Persia selatan dan Irak. Bahkan, Kufah akhirnya bisa dikendalikan seluruhnya. Abu Muslim lalu mengutus Hasan bin Qahtabah untuk menemui Abu Salamah di kota tersebut.

Di tempat lain, Ibrahim telah ditangkap pasukan Umayyah. Sebelum dieksekusi di Haran, pemimpin Abbasiyah itu sempat menunjuk adiknya, Abdullah Abul Abbas, untuk menggantikan kedudukannya.

Abul Abbas dan para pengikutnya lalu segera berangkat ke Kufah untuk bergabung dengan kelomppok Abu Salamah dan Abu Muslim. Begitu sampai di kota tujuan, ia disambut hangat Abu Salamah. Akan tetapi, kedatangannya tidak langsung diumumkan kepada khalayak luas.

 
Di Masjid Raya Kufah, dia dibaiat menjadi khalifah baru. Revolusi Abbasiyah pun dimulai
 
 

Abu Salamah rupanya masih menunjukkan kesetiaan kepada Ahlul Bait. Sebelum menyambut Abul Abbas, ia bersurat kepada Ja’far ash-Shadiq. Dalam suratnya, ia mengabarkan cicit Husein bin Ali itu bahwa pemerintahan Umayyah sudah terusir dari Kufah. Karena itu, Ja’far diminta segera datang ke kota tersebut untuk mengambil hak atas kekhalifahan.

Namun, tokoh Ahlul Bait ini mengenang bagaimana dahulu Ali bin Abi Thalib dikhianati orang-orang Kufah. Surat dari Abu Salamah pun diabaikannya. Dengan tiadanya jawaban dari Ja’far, Abu Salamah lantas menawarkan kesempatan kepada Abul Abbas. Representasi Abbasiyah ini menyanggupi.

Keesokan harinya, sesudah shalat Jumat, Abu Salamah mengumpulkan seluruh penduduk Kufah. Di hadapan mereka, ia memuji-muji sosok Abul Abbas sebagai pembebas Muslimin dari cengkeraman Umayyah. Lantas, dirinya mengajukan tokoh Bani Abbasiyah itu sebagai khalifah baru.

Abu Salamah mulanya ragu-ragu akan sambutan rakyat. Sebab, penduduk Kufah sejak awal mendukungnya dengan harapan bahwa seorang Ahlul Bait kelak naik menjadi khalifah baru untuk menggantikan Dinasti Umayyah. Nyatanya, orang-orang Kufah kini justru bersorak dan bertakbir begitu dirinya menjagokan seorang dari luar keturunan Ali dan Fathimah, yakni Abul Abbas.

Seorang kurir lalu disuruh untuk memanggil Abul Abbas keluar dari persembunyiannya. Maka datanglah pemuka Abbasiyah itu di hadapan khalayak ramai. Di Masjid Raya Kufah, dia dibaiat menjadi khalifah baru. Revolusi Abbasiyah pun dimulai. Riwayat Tabari menuturkan, hari itu jatuh tepatnya pada Jumat, 13 Rabiul Awal 132 H—sekitar akhir tahun 749 M.


×