Pengunjung mengamati barang pada pameran Artefak Asli Rasulullah dan para sahabat di Masjid Jami At-Taqwa, Sukamaju, Tapos, Depok, Jawa Barat, Rabu (30/12/2021). Cinta Rasulullah SAW kepada umatnya sungguh tak teribaratkan. | Prayogi/Republika.
17 Oct 2021, 04:24 WIB

Mencintai Nabi

Cinta Rasulullah SAW kepada umatnya sungguh tak teribaratkan.

OLEH A SYALABY ICHSAN

 

 

Sudah selayaknya kita mencintai seseorang yang dalam nafas terakhirnya menyebut kita dengan sebutan Ummati.. Ummati.. 

Terkait

Mencintai Rasulullah SAW merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Mengikuti keteladanan manusia termulia itu adalah sunnah. Tidak heran jika seorang mukmin yang sempurna imannya akan mencintai beliau SAW lebih dari orang tua dan anak-anaknya.

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia." (HR Bukhari).

Masih ada orang yang butuh alasan mengapa kita mencintai orang yang hidup berabad-abad jauh sebelum kita. Bukankah banyak di antara kita yang bahkan tak mengenal kakek, buyut, hingga moyang?

Bagaimanakah kita mencintai mereka bahkan nama mereka masih terasa asing bagi para keturunannya? Lantas, kita pun diminta untuk mencintai seseorang yang berbeda suku, ras, bahasa dan negerinya amat jauh dari kita?

Cinta Rasulullah SAW kepada umatnya sungguh tak teribaratkan. Sebagai manusia pilihan yang diutus untuk menyampaikan risalah kenabian pamungkas, Nabi SAW menanggung semua amanah tersebut buat umatnya.

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS at-Taubah: 128). 

Rasulullah SAW merupakan satu-satunya nabi yang menunda untuk berdoa dengan permohonan yang pasti dikabulkan hingga hari kiamat. Hal ini dilakukan demi bisa memintakan syafaat kepada umatnya dengan doa yang tertunda itu.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bagi setiap Nabi ada satu doa mustajab yang dengannya ia dapat memohon (kepada Allah). Sedangkan, aku sendiri ingin agar doaku itu aku simpan untuk menjadi syafaat bagi umatku nanti di akhirat.” (HR Bukhari).

Syafaat menurut Syekh Muhammad al-Tamimi adalah perantaraan yang dilakukan Rasulullah SAW kepada Allah SWT. Peran Rasulullah ini atas seizin-Nya untuk meringankan beban umat manusia saat berada di Padang Mahsyar.

Dengan pertolongan Rasulullah ini, manusia bisa mendapat tiket ke surga bahkan meningkatkan derajat bagi para penghuni surga. Sebagian ulama bahkan menjelaskan, syafaat Rasulullah bisa menjadi peringan siksa bagi orang kafir — ini khusus merujuk kepada paman beliau Abu Thalib.

Tidak hanya itu, Rasulullah SAW bahkan memuliakan orang-orang mukmin yang hidup pada akhir zaman ini dengan sebutan saudara. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah menyampaikan kerinduannya kepada sosok yang disebut saudara-saudara beliau SAW ketika berziarah ke kuburan para syuhada Uhud.

 
Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka (orang-orang beriman) yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.
 
 

Lantas, seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah kami saudaramu?”  “Kalau kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah mereka (orang-orang beriman) yang belum ada sekarang ini dan aku akan mendahului mereka di telaga.” 

Hanya saja, tentu tidak semua Muslim yang masuk dalam kategori mulia tersebut. Saat sahabat bertanya kepada beliau SAW, bagaimana engkau mengenali orang-orang (beriman) yang datang setelah engkau dari kalangan umatmu?

Beliau bersabda, ‘Bukankah jika seseorang punya kuda yang sebagian kecil bulunya putih akan mengenali kudanya di tengah kuda-kuda yang hitam legam?’ Mereka menjawab, ‘Ya’,

photo
Pengunjung mengamati koleksi dalam Pameran Artefak Nabi Muhammad SAW di Jakarta Islamic Center, Koja, Jakarta, Sabtu (24/4/2021). Sebanyak 35 barang peninggalan Nabi Muhammad dan para sahabat mulai dari perlengkapan perang, tongkat hingga janggut dan rambut Nabi dipamerkan. Koleksi artefak dikumpulkan dari berbagai tempat bersejarah, antara lain Mesir, Kairo, Mekah dan Madinah. - (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Beliau berkata, “Sesungguhnya mereka akan datang pada hari kiamat dengan cahaya putih karena wudhu. Dan aku akan menunggu mereka di telaga.” (HR Bukhari dan Muslim). 

Sulit rasanya membalas besarnya cinta Rasulullah SAW kepada kita. Upaya maksimal yang kita bisa lakukan adalah senantiasa mempelajari dan memperkenalkan beliau SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan memuliakan para ahlul baitnya kepada keluarga kita.

Tak hanya sekadar mengenal, kita juga sudah seharusnya mendekatkan diri dengan perilaku beliau SAW. Tidakkah Rasulullah merupakan Alquran yang berjalan? Aisyah menyebut akhlak beliau adalah Alquran. 

Imam Al Ghazali melukiskan akhlak beliau SAW sebagai manusia paling santun, paling berani, paling adil, dan paling apik. Akhlak beliau SAW yang notabene  berstatus sebagai kepala negara, panglima perang hingga pemimpin keagamaan sungguh mengagumkan.

 
Akhlak beliau SAW yang notabene  berstatus sebagai kepala negara, panglima perang hingga pemimpin keagamaan sungguh mengagumkan.
 
 

Imam Al Ghazali menjelaskan, Rasulullah tak pernah dimintai sesuatu kecuali beliau memberikannya, kemudian beliau kembali kepada bahan makanan setahun beliau dan mengutamakan orang yang meminta tadi hingga beliau sendiri membutuhkan bahan makanan lagi sebelum habis masa setahun. Sampai-sampai, beliau harus berutang karenanya. 

Rasulullah SAW biasa menjahit sendiri sandal, menambal sendiri pakaian, serta membantu pekerjaan istri beliau. Rasulullah SAW tak hanya memenuhi undangan orang merdeka tetapi juga hamba sahaya. Beliau suka menerima hadiah dan membalasnya meski hanya seteguk susu. Namun, beliau tak menyantap sedekah. 

Rasulullah SAW hanya marah karena Tuhannya. Beliau tidak pernah marah karena dirinya sendiri. Saat Rasulullah dilempari batu ketika menyampaikan risalah dakwah di Thaif, tidakkah beliau ditawari malaikat yang hendak membenturkan kedua gunung di samping kota itu sehingga siapapun yang tinggal di antara kedunya akan mati terimpit.

Lantas, apa jawaban Rasulullah SAW? “Saya hanya berharap kepada Allah SWT. Andaikan pada saat ini mereka tidak menerima Islam, mudah-mudahan kelak mereka akan menjadi orang-orang yang beribadah kepada Allah SWT.” 

Demikian sekelumit tentang kemuliaan sosok termulia di bumi ini. Sungguh amat pantas namanya terus kita sebut dalam shalat dan shalawat. Semoga Allah Ta’ala terus memelihara cinta kita kepada baginda.

Allahumma shalli’ala Muhammad


×