Asma Nadia | Daan Yahya | Republika
16 Oct 2021, 03:45 WIB

Bayangan yang Terpatri di Hati

Pandangan nanar seolah tak percaya menyaksikan petugas memukul mahasiswa sekuat tenaga.

OLEH ASMA NADIA

Saat teman-teman di sekolah dasar (SD) dulu bercita-cita menjadi dokter, pilot, insinyur, bahkan ada yang melontarkan cita-cita menjadi presiden, kamu-- tanpa keraguan-- sejak awal telah memilih menjadi penegak hukum. “Buat menangkap orang jahat!” tegasmu.

Seperti layar yang tertiup angin, sebagian teman banyak yang lalu mengubah haluan cita. Tapi tidak denganmu. Bayangan petugas berseragam gagah, lengkap dengan topi --terlanjur terpatri kukuh di hati. Maka tak heran saat menginjak SMP sekali lagi kamu menegaskan tekad,

“Ingin menegakkan keadilan.” Impian yang tak berubah ketika kamu menginjak bangku SMA, “Agar bisa membantu orang yang kesusahan.”

Terkait

 

 
Bagaimana kamu tidak merindukan sosok gagah yang mengayomi itu.
 
 

 

Terlalu banyak jejak kebaikan, bagaimana kamu tidak merindukan sosok gagah yang mengayomi itu, sementara melalui layar televisi kamu melihat betapa berani mereka menangkap penjahat yang menakutkan.

Atau membantu nenek tua menyeberangi jalan yang penuh lalu lalang kendaraan.

Atau seperti yang sering tertangkap matamu, menyaksikan mereka menghentikan kendaraan agar anak-anak sekolah bisa menyeberang dengan aman. Citra yang tertanam terus menumbuhsuburkan harapan masa kecil.

Mungkinkah karena figur paman yang memiliki profesi serupa? Walau hidup bersahaja, sosok beliau sangat dihormati. Setiap kali ada perselisihan warga yang sulit diselesaikan, selalu paman yang diminta membantu mencari jalan keluar.

Kamu menjadi saksi betapa beliau tak pernah menolak peluang untuk menolong meski tak selalu bagian dari tugas.  

Hanya sekali kamu sempat tak mengerti melihat tetangga yang berprofesi sama dengan paman tetapi tampak hidup sangat berkecukupan. Padahal jabatan mereka tidak jauh berbeda. Namun paman menjawab keherananmu dengan senyum menyejukkan.

 
Kamu menjadi saksi betapa beliau tak pernah menolak peluang untuk menolong meski tak selalu bagian dari tugas.
 
 

“Tujuan hidup setiap orang berbeda. Bagi paman, ini adalah jalan pengabdian.” Menurutnya lagi, ini tentang berapa banyak yang bisa seseorang lakukan untuk kemaslahatan orang lain. Sama sekali bukan media mengumpulkan kekayaan.

Kekaguman mengilat di matamu saat beliau dengan tatapan penuh kerinduan terhadap sesuatu yang seolah membayangi pandangannya, lalu meneruskan, “Paman pengin ini jadi sebab ke surga.”

Profesi yang mengantarkan ke surga. Indahnya!

Sejak itu, langkahmu kian mantap hingga cita sejak kanak-kanak akhirnya berada dalam genggaman. Seperti janji di masa lalu, tanpa ragu kamu menangkap penjahat. Kamu tidak pernah membiarkan kasus kriminal terlewat dari pengawasan.

Siapa pun yang bersalah tanpa ragu akan kamu seret ke meja peradilan.

Lalu bertubi-tubi mereka menyodorkan gemerlap dunia untuk ditukar sedikit kerja sama atau keringanan tuduhan. Apakah kali ini iman akan goyah?

Kenyataannya, kamu merespons dengan gelengan, tanpa perlu berpikir.

“Keadilan harus ditegakkan,” tegasmu sesuai janji saat awal memahat cita-cita ini.

 
Siapa pun yang bersalah tanpa ragu akan kamu seret ke meja peradilan.
 
 

Lalu, bagaimana kamu menyikapi kenyataan bahwa dunia yang kamu tinggali kini berbeda dengan imajinasi masa kecil? Dulu sosok-sosok yang terpatri di hati, tanpa ragu akan menerobos hujan, bergeming menghadapi guyuran air langit demi kelancaran lalu lintas.

Kini, sebagian di antaranya memilih berteduh dalam ruangan nyaman sekalipun kemacetan di depan mata menyiksa pengguna jalan. Padahal, selalu ada jalan untuk mengatasi masalah. Terutama kemacetan yang rata-rata bisa diprediksi waktunya.

“Mungkin ada alasan lain,” tuturmu, seperti biasa mengajak banyak pihak berprasangka baik. Namun kemarin, untuk pertama luka membayang di matamu saat mengamankan protes mahasiswa.

Pandangan nanar seolah tak percaya menyaksikan seorang petugas memukul mahasiswa sekuat tenaga. Apakah ini semata merespons dan karenanya wajar?  Ekspresi wajahmu menampilkan ketidaksetujuan.

“Kalau membalas tidak adil, mereka tidak memakai pakaian pelindung. Berkelahi juga tak adil, karena mereka tak terlatih,” Benarkah? Jika demikian mengapa ada  yang memukul, menendang, membanting dan menginjak bahkan meski massa tanpa pakaian pelindung, dan jelas tidak terlatih?

 “Pasti oknum, sebagian besar petugas tetap disiplin dan melayani,“ belamu atas nama teman seprofesi. Hingga hari ini, kamu tak berhenti meyakinkan orang lain yang bereaksi terhadap suguhan kekerasan yang kian sering menyapa mata.

“Banyak yang baik…” sergahmu cepat sambil menceritakan seorang atasan --pimpinan di daerah, yang selalu mengajak anggota satuan di bawahnya shalat berjamaah, sementara dia menjadi imam. Juga tentang satu pimpinan yang begitu dicintai sehingga ketika dipindahkan ke daerah lain, masyarakat setempat menangis.

“Banyak, masih banyak yang baik!” ulangmu berusaha meyakinkan. Terus menjahit kisah-kisah teladan, membuang keraguan. Seperti ketika kecil dulu, kamu ingin menjadi seperti mereka--sosok gagah berseragam dengan senyum simpatik yang menentramkan. Bayang mereka telah begitu lama terpatri di hati. 


×