Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika
16 Oct 2021, 03:45 WIB

Memperkokoh Budaya Kerja Islami

Bekerja dan usaha juga merupakan amanah yang mulia yang berdimensi duniawi dan ukhrawi.

OLEH PROF DIDIN HAFIDHUDDIN 

Alhamdulillah kita gembira dan bersyukur kepada Allah SWT, mendengar berita hari-hari ini, bahwa Covid-19 semakin melandai di sebagian besar daerah di Indonesia. Harapan dan doa kita kepada Allah SWT, mudah-mudahan virus ini akan segera diangkat oleh Allah SWT.

Meskipun demikian, kita semua harus tetap hati-hati dan waspada dengan menggunakan protokol kesehatan secara ketat, seperti tetap memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Jika kondisi ini bisa kita jaga dan kita pertahankan dengan sebaik-baiknya, mudah-mudahan recovery dalam berbagai bidang kehidupan bisa dilakukan dengan baik, terutama recovery di bidang pendidikan dan bidang ekonomi. Karena dua hal ini, dengan tidak mengecilkan hal-hal yang lain, sangat berpengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat, kini maupun masa depan.

Terkait

Di bidang pendidikan, terutama sekolah, anak-anak kita sangat membutuhkan bimbingan langsung dari para gurunya, tidak sekedar transfer pengetahuan melalui online.

Recovery di bidang ekonomi, di samping memperhatikan bentuk-bentuk kegiatannya, seperti perdagangan, home industry, dan lain-lain, juga sikap mental yang harus kita perkuat dan kita kokohkan, baik yang berkaitan dengan budaya kerja maupun budaya usaha (dagang, wirausaha, entrepreneurship). Karena bagi orang yang beriman, bekerja yang benar, dan berdagang yang benar adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT, sekaligus suatu keniscayaan dan kebutuhan.

 
Bekerja dan usaha juga merupakan amanah yang mulia yang berdimensi duniawi dan ukhrawi
 
 

Karena itu bekerja dan usaha juga merupakan amanah yang mulia yang berdimensi duniawi dan ukhrawi. Perhatikan firman-Nya dalam QS at-Taubah [9] ayat 105: “Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan'." (QS at-Taubah [9]: 105).

Juga firman-Nya dalam QS al-Jumuah [62] ayat 10 dan QS al-Mulk [67] ayat 15: “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS al-Jumuah [62]: 10).

Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS al-Mulk [67]: 15).

Dalam kaitan dengan bekerja (beramal), dan usaha/berdagang, Islam telah menetapkan beberapa hal yang mendasar yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang beriman, agar bekerja dan usaha tersebut, menghasilkan kebaikan bagi diri, keluarga, institusi/lembaga tempat bekerja, masyarakat dan bangsa. Juga menghasilkan kebaikan di dunia ini maupun di akhirat nanti, antara lain sebagai berikut:

Pertama, meluruskan dan mengikhlaskan niat bekerja dan usaha karena mengharap ridlo Allah SWT. Perhatikan firman- Nya dalam QS al-Bayyinah [98] ayat 5: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS al-Bayyinah [98]: 5).

 
Islam telah menetapkan beberapa hal yang mendasar yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang beriman.
 
 

Kedua, menguatkan etos kerja dan etos usaha, seperti berdagang. Keyakinan bahwa sumber rezeki adalah Allah, harus dimplementasikan dalam kesungguhan bekerja, kesungguhan dalam berdagang, dan kesungguhan melakukan aktifitas ekonomi lainnya. Kaum Muslimin harus aktif produktif tidak boleh malas dan pasif.

Firman-Nya dalam QS al-Jumuah [62] ayat 10 di atas juga hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibn 'Asakir. “Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa tertidur karena kelelahan dalam mencari rezeki yang halal, maka ia tertidur dalam keadaan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.” (HR Ibn ‘Asakir).

Rasulullah SAW selalu berlindung pada Allah SWT dari malas, lemah pendirian, bakhil, dan sifat-sifat buruk lainnya. Beliau selalu berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan orang-orang.” (HR Abu Dawud).

Ketiga, menguatkan akhlak dan etika dalam bekerja dan berusaha. Tidak khianat, tidak korup, tidak berdusta, tidak menipu dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan tercela lainnya.

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Anfaal [8] ayat 27: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS al-Anfal [8]: 27).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.” (HR Muslim).

Dalam hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada amanah (tidak dapat dipercaya) dan tidak beragama orang yang tidak memenuhi janji.” (HR Ahmad).

Perhatikan juga pesan Rasulullah SAW bahwa: “Sifat amanah dan jujur itu akan menarik rezeki, sedangkan khianat itu akan menarik (mengakibatkan) kefakiran.” (HR Dailamiy).

 
Sifat amanah dan jujur itu akan menarik rizki, sedangkan khianat itu akan menarik (mengakibatkan) kefakiran.
 
 

Keempat, memperhatikan kualitas pekerjaan. Bekerja secara maksimal dan optimal, mempersembahkan pekerjaan yang terbaik (ihsan). Firman-Nya dalam QS al-Mulk [67] ayat 2: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS al-Mulk [67]: 2).

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya (bekerja secara profesional).” (HR Thabrani).

Kelima, bekerja di samping harus mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, juga memperhatikan kondisi yang akan datang. Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Hasyr [59] ayat 18: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr [59]: 18).

Keenam, jika bekerja secara team work, maka perlu memperhatikan nilai-nilai ukhuwwah dan jamaah, saling membantu dan saling menolong dalam kebaikan dan takwa, sekaligus saling mengoreksi jika terdapat kekeliruan (perhatikan QS. Al-Ashr).

Jika keenam hal tersebut di atas, diimplementasikan dengan baik, maka hasilnya akan maksimal dan optimal, dan insya Allah kita akan segera bisa melakukan recovery dalam kegiatan ekonomi (bekerja dan berusaha) untuk kesejahteraan kehidupan masyarakat dan bangsa secara luas.

Wallahu a’lam bi ash-Shawab


×