Ilustrasi kesalehan sosial | ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
14 Oct 2021, 09:51 WIB

Survei: Kesalehan Sosial Masyarakat Meningkat

Indeks Kesalehan Sosial meningkat dari 82,52 pada 2020, meningkat menjadi 83,92 pada tahun ini.

 

JAKARTA — Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama (Kemenag) merilis hasil survei indeks kesalehan sosial (IKS) masyarakat Indonesia. Hasil survei menyimpulkan, IKS tahun 2021 masuk kategori sangat baik, dengan skor nasional 83,92.

Terkait hal ini, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (Kemenag) Prof Dr Muhammad Adlin Sila menyampaikan, IKS masyarakat Indonesia pada tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. Dari skor 82,52 pada 2020, meningkat menjadi 83,92 pada tahun ini.

"Ini menunjukkan adanya peran yang signifikan dari para tokoh agama sehingga hasil survei IKS mengalami peningkatan. Tokoh agama telah menyadarkan umat beragamanya untuk peduli terhadap keadaan lingkungan, kemanusiaan, dan negara," ujar dia kepada Republika, Rabu (13/10).

Terkait

Adlin berharap, IKS terus meningkat setiap tahun sehingga bisa mencapai target skor 86 pada 2024 mendatang.

Selama ini, menurut dia, masyarakat Indonesia dikenal religius yang terlihat dari ramainya aktivitas pada hari-hari besar keagamaan. Mereka bersukacita dalam menyambut hari raya agamanya, seperti Idul Fitri, Natal, Nyepi, Waisak, serta lainnya. Rumah ibadah pun penuh karena banyak yang ingin menyambut hari raya tersebut.

"Maka, kami melalui survei ini ingin mengukur apakah kesalehan individual itu punya dampak terhadap kesalehan sosial mereka. Ini diukur dengan habitasi mereka, misalnya, menolong tetangga, bergotong royong, peduli lingkungan, kebersihan di rumah, kepedulian terhadap masyarakat sekitar dan komitmen menjaga NKRI," katanya menjelaskan.

Adlin mengingatkan, tujuan dari agama adalah kemaslahatan umat dan bangsa serta tidak berhenti pada aktivitas di rumah ibadah, apalagi pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Dari hasil survei IKS 2021, Adlin mengajak seluruh komponen umat beragama untuk memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, misalnya, dari hal terkecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Dalam Islam juga diajarkan mengenai kebersihan bagian dari iman.

Karena itu, menurut Adlin, perlu ada contoh dan kedisiplinan supaya nilai-nilai agama tecermin dalam perilaku agama dan tindakan nyata.

Dalam pandangan cendekiawan Muslim Prof Azyumardi Azra, di Indonesia saat ini tidak ada kaitan antara ketaatan ibadah dan perilaku sosial. Bahkan, sebaliknya terdapat kesenjangan mencolok yang belum kunjung terjembatani.

"Berbagai survei menemukan, kaum Muslim Indonesia memiliki tingkat  kesetiaan dan ketaatan yang tinggi dalam menjalankan ibadah. Namun, di tengah kesemarakan ibadah, ritual, dan simbolisme keagamaan lainnya, terlihat pula meningkatnya pelanggaran nilai-nilai yang dilatihkan lewat puasa dan ibadah-ibadah lain," ujar dia.

Ibadah puasa, misalnya, mengajarkan dan melatih sikap amanah, kejujuran, dan disiplin. Nilai-nilai ini, menurut Azyumardi, seharusnya terwujud tidak hanya ketika menjalankan ibadah puasa, tetapi juga dalam kehidupan pasca-puasa dan pasca-Idul Fitri.

Namun, kata dia, nyatanya nilai-nilai tersebut masih jauh terwujud dalam berbagai kehidupan kaum beriman. Banyak yang masih belum menjalankan amanah dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari sehingga terlihat berbagai penyimpangan, seperti penyalahgunaan wewenang, ketidakadilan, dan korupsi.

Ia pun menyebut, beragam ibadah yang dilakukan Muslim mengantarkan umat beriman ke dalam kesalehan personal. Ke depannya, ibadah-ibadah ini juga meningkatkan kesalehan sosial, misalnya, dalam bentuk menguatnya solidaritas filantropis, menyantuni kaum yang lemah.

Kemajuan bangsa, menurut Azyumardi, bisa terwujud dengan ketaatan dan kepatuhan dalam menjalankan perintah agama dalam kehidupan publik,serta menjalankan ketentuan hukum yang bertujuan mengatur kehidupan publik menjadi lebih baik. Dengan demikian, dapat mewujudkan kebajikan publik secara menyeluruh.


×