Anak-anak bermain saat terjadi banjir di Jalan Pramuka, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/9). Banjir tersebut akibat sampah yang menumpuk di aliran Kali Licin yang terdapat di kolong jembatan jalan perempatan Mampang, Depok. Republika/Putra M. Akbar | Republika/Putra M. Akbar
14 Oct 2021, 09:11 WIB

Tiga Ancaman Banjir Kepung Jakarta

Mulai tahun ini, alat ukur curah hujan disiapkan secara merata untuk mencegah banjir.

JAKARTA — Pemprov DKI Jakarta menyiapkan semua potensi sumber dayanya saat memasuki musim penghujan tahun ini. Pasalnya, berkaca pada kasus musim penghujan dan antisipasinya, ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi.

"Ada tiga front yang dihadapi Jakarta," ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan saat memimpin apel kesiapsiagaan, di Jakarta, Rabu (13/9).

Dia menyebutkan, ancaman pertama datang dari pesisir berupa banjir rob. Sedangkan, kedua adalah front dari kawasan selatan pegunungan berupa air hujan yang mengalir melalui 13 sungai dan memasuki Jakarta. Lalu, ketiga adalah hujan lokal yang terjadi di Jakarta. "Tiga front itu yang akan kita hadapi dengan tiga prinsip. Satu siaga, kedua tanggap, dan ketiga galang," tutur dia.

Dengan melakukan rencana tersebut, seiring dengan partisipasi masyarakat DKI, kata Anies, risiko bisa diminimalisasi. Terlebih, saat target operasi jelang musim penghujan ini, diklaimnya untuk menghindari korban jiwa dan menargetkan genangan air yang surut enam jam pasca-kejadian awal.

Terkait

"Daya tampung sistem drainase di Jakarta ini maksimal 100 milimeter hujan per hari. Ketika hujan di atas 100 ml, maka akan terjadi genangan," tambah dia.

Oleh sebab itu, lanjut Anies, jika ada curah hujan di bawah 100 ml per hari, genangan diharapkan tidak akan terjadi. Pemprov, kata dia, akan terus bertanggung jawab menyoal area yang terdampak itu untuk ditangani.

Dikatakan Anies, pihaknya mulai tahun ini sudah menyiapkan alat ukur curah hujan secara merata. Hal itu, akan memudahkan semua pihak, utamanya Pemprov DKI, untuk mengetahui secara persis bagaimana kondisi hujan di DKI.

"Kalau kiriman air, kapasitas sungai di Jakarta 2.300 meter kubik per detik, bila air masuk di bawah kapasitas itu, seharusnya tidak menimbulkan limpahan di kanan-kiri sungai. Itu target operasinya," ungkap Anies.

Rawan tumbang

Mengantisipasi musim penghujan tahun ini, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor melakukan pemetaan pohon di jalan-jalan protokol, yang dikhawatirkan mengganggu aktivitas pengguna jalan. Selain dilakukan pemetaan, pemeliharaan berupa pemangkasan dan penebangan terhadap pohon yang kondisinya sudah rawan.

Pantauan Republika, pemeliharaan pohon pada Rabu (13/10) dilakukan di beberapa titik. Di antaranya, di Jalan Ahmad Yani dan Jalan Dadali, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Pohon-pohon yang ditebang merupakan pohon jenis ketapang dan kenari.

Kadisperumkim Kota Bogor Juniarti Estiningsih menjelaskan, pihaknya telah menginventarisasi pohon-pohon mana yang akan dilakukan penebangan. Baik yang ber-KTP pohon hijau atau dalam keadaan sehat, maupun ber-KTP pohon kuning atau tingkat keroposnya sudah di atas 30 hingga 50 persen.

Esti menjelaskan, pendataan dan pemeliharaan ini merupakan antisipasi dari kejadian meninggalnya seorang pelajar berinisial MG (17 tahun), akibat tertimpa dahan pohon yang jatuh di Jalan Ahmad Yani pada Ahad (10/10) lalu. Padahal, pohon tersebut kondisinya masih sehat.

Selain melakukan pemangkasan kepada pohon ber-KTP hijau dan kuning, Esti mengatakan, sebagian besar pohon ber-KTP pohon merah atau tingkat keroposnya sudah di atas 50 persen dan rawan tumbang, sudah ditebang. Meski demikian, memasuki musim penghujan ini, dia mengimbau, masyarakat agar berhati-hati. Khususnya para pengendara kendaraan bermotor dan roda empat.

Sementara itu, dari Kota Tangerang Selatan dilaporkan, curah hujan yang tinggi di wilayah ini terjadi dalam beberapa hari terakhir. Akibatnya, sebuah rumah di kawasan Parigi, Pondok Aren, Tangsel mengalami runtuh. Sebanyak 3 KK meliputi 12 orang penghuni rumah harus mengungsi karena insiden tersebut.


×