Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat mengumumkan kerja sama AUKUS di Gedung Putih, Washington, Rabu (15/9/2021). Anggota ASEAN dijadwalkan bertemu November merespons AUKUS. | AP/Andrew Harnik

Internasional

13 Oct 2021, 03:45 WIB

Malaysia Ingin Konsensus ASEAN Soal AUKUS

Anggota ASEAN dijadwalkan bertemu November merespons AUKUS.

KUALA LUMPUR -- Malaysia mengharapkan konsensus di antara negara-negara Asia Tenggara tentang kemitraan keamanan Indo-Pasifik baru antara Australia, Amerika Serikat (AS), dan Inggris atau dikenal dengan AUKUS.

Sebelumnya Malaysia telah memperingatkan bahwa pakta tersebut dapat memicu perlombaan senjata di antara negara adidaya yang bersaing di kawasan tersebut.

Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein mengatakan, pertemuan dengan para mitranya dari negara anggota ASEAN akan memberi kesempatan bagi perhimpunan tersebut menyepakati respons bersama terhadap AUKUS. Pertemuan itu dijadwalkan dihelat pada November.

"Tujuan akhir kita adalah selalu memastikan stabilitas kawasan, terlepas dari keseimbangan kekuatan (antara) AS dan Cina," kata Hishammuddin saat berbicara di parlemen Malaysia pada Selasa (12/10). Menurutnya, pemahaman di ASEAN akan membantu dalam menghadapi dua kekuatan besar itu, yakni Beijing dan Washington.

Pada 22 September, Hishammuddin mengatakan di hadapan parlemen Malaysia, “Kekuatan kita adalah bukan saat kita sendiri, namun kekuatan kita adalah saat 10 anggota ASEAN ini bersatu untuk menunjukkan bahwa sikap dan keamanan kawasan ini dipertahankan.” 

Hishammuddin mengatakan, fokus saat ini adalah untuk menyeimbangkan dua kekuatan terkait AUKUS. Tak hanya itu, Malaysia juga terikat pakta dengan lima kekuatan, Five Power Defence Arrangements. Pakta yang disusun 1971 itu tercapai di tengah puncak Perang Dingin, antara Malaysia dengan Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Singapura.

Pakta Five Power Defence Arrangements itu, kata Hishammuddin, “Seharusnya digunakan sebagai pengimbang di antara kekuatan besar.”

Beragam reaksi

Pembentukan AUKUS diumumkan pada 15 September lalu. Beberapa saat setelah deklarasi AUKUS, Malaysia dan Indonesia memperingatkan kemungkinan perlombaan senjata di kawasan Asia Tenggara. Cina sempat mengatakan, AUKUS berisiko merusak perdamaian dan stabilitas kawasan.

Sementara AS menegaskan, tiga negara yang tergabung dalam AUKUS menghormati sentralitas ASEAN. “Kami tidak meminta negara mana pun termasuk Indonesia, untuk memilih antara AS dan negara lain mana pun,” kata Duta Besar AS untuk Indonesia Sung Kim, 29 September lalu.

Sikap Indonesia dan Malaysia berbeda dari Filipina, yang menyatakan mendukung pakta AUKUS. Menurut Filipina, AUKUS adalah sarana untuk mempertahankan keseimbangan kekuatan di kawasan. Filipina adalah mitra pertahanan AS di Asia Tenggara.

“Peningkatkan kemampuan sekutu terdekat untuk mengerahkan kekuatan di luar negaranya seharusnya dapat memulihkan dan menjaga keseimbangan dan bukan merusak stabilitas,” kata Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin, 21 September lalu.

Menurut Locsin, kehadiran kapal selam nuklir bukan berarti ada senjata nuklir. Maka, ia menilai AUKUS tidak melanggar kesepakatan 1995 yang menegaskan sikap antipengembangan senjata nuklir di Asia Tenggara.

“Kedekatan menghasilkan ketangkasan bertindak tepat waktu; karena itu kapasitas militer seorang teman dekat bagi ASEAN untuk menanggapi ancaman atau tantangan status quo pun meningkat,” ujar Locsin tanpa memerinci ancaman yang ia maksudkan.

Saat ini Malaysia, Filipina, Brunei, Vietnam, Taiwan, dan Cina  terlibat dalam perseteruan klaim atas Laut Cina Selatan. Klaim terluas dilakukan Cina yang dalam beberapa tahun terakhir terus melakukan pembangunan di sejumlah pulau yang diklaim di Laut Cina Selatan.

AS dan sejumlah sekutu Barat rutin berlayar di Laut Cina Selatan untuk menujukkan prinsip kekebasan pelayaran yang biasa berlaku di laut internasional. 

Sumber : Reuters/Associated Press


×