Pemanfaatan platform pembayaran digital oleh UMKM (Ilustrasi) | Dok OVO Indonesia
13 Oct 2021, 08:02 WIB

Pulih Ekonomi dengan Pemanfaatan Teknologi

Dengan memanfaatkan berbagai platform teknologi, para pelaku UMKM dapat terus menjalankan usahanya.

Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 64 juta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Sebelum era pandemi, UMKM di Indonesia telah berkontribusi sekitar 60 persen dari Pajak Domestik Bruto (PDB). 

Namun, selama pandemi kontribusi UMKM turun menjadi sekitar 30 persen dari PDB. Dari jumlah 64 juta UMKM tersebut, baru 15,3 persen yang dapat merasakan manfaat dari digitalisasi.

Literasi digital menjadi salah satu hambatan yang menghalangi para UMK di Indonesia bertransformasi. Pada Selasa (12/10), untuk mendorong pertumbuhan transformasi digital yang lebih gesit, OnlinePajak menghadirkan Forum Digital UMKM. 

Terkait

Kegiatan ini, digelar untuk mengatasi tantangan digital UMKM lewat solusi end-to-end milik OnlinePajak yang bukan sekadar aplikasi, melainkan ekosistem terintegrasi dengan pemerintahan, partner (swasta) dan komunitas serta dapat membantu mereka lebih mudah terhubung, bertransaksi, dan mematuhi regulasi dengan baik. 

CEO OnlinePajak Charles Guinot menyampaikan, teknologi dapat membantu mengembangkan UMKM saat ini. “Kunci utama untuk pelaku UMKM bisa menjadi lebih adaptif dan gesit dalam bertransformasi digital, adalah memanfaatkan waktu,” ujarnya.  

Karena, Guinot melanjutkan, jika kesempatan untuk bertransformasi ini dilewatkan begitu saja, momentumnya sudah tak akan ada lagi. Menurutnya, UMKM di Indonesia yang memasuki pasar digital juga lebih berpeluang untuk bisa bertahan ketimbang mereka yang masih mengadopsi cara tradisional. 

Era pandemi telah membuka peluang pertumbuhan ekonomi digital di mana banyak orang melakukan transaksi secara cashless dan contactless. Dengan bertransformasi secara digital, Guinot meyakini, UNKM akan bisa maju selangkah lebih jauh dalam operasional mereka sehari-hari. 

Kian Nyaman Tanpa Tunai

photo
Pembayaran dengan platform Ovo di Roti Eneng - (Dok OVO Indonesia)

Pemanfaatan teknologi di masa pandemi, ikut tercermin pula pada makin terbiasanya masyarakat dengan sistem pembayaran tanpa tunai. Dengan memanfaatkan berbagai platform teknologi, para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat terus melakukan usahanya.

Founder Roti Eneng, Sarah Diana, membangun usahanya sejak 2014 di Pasar Santa. Saat ini, usaha rotinya telah menjadi salah satu kuliner favorit warga Jakarta. “Perjalanan membangun bisnis Roti Eneng membawa saya mempelajari banyak hal, salah satunya pemanfaatan pembayaran digital,” ia menjelaskan dalam kegiatan webinar ‘Semangat #BertransformasiBersamaOvo’, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Saat ini, kata dia, Roti Eneng adalah merchant Ovo di toko Gandaria dan platform lokapasar. Menurutnya, layanan keuangan digital Ovo memberikan kemudahan, keamanan dan kenyamanan bertransaksi baik secara luring maupun daring. Hal ini, sekaligus menjadi nilai tambah bagi para konsumen.

Senada, memanfaatkan layanan pembayaran digital juga mampu membantu Ryan Ridhwan Arief mengembangkan usahanya. Salah satu pemilik merek pakaian Super Sentimental Secret Theory (SSST) asal Bandung ini menjelaskan, sejak dikembangkan di 2020, SSST menawarkan berbagai jenis pakaian mulai dari kaos, jaket, celana, sampai berbagai aksesoris dengan nuansa streetwear. Kehadirannya pun mendapatkan penerimaan yang positif dari masyarakat Indonesia.

Menurutnya, hal ini tak lepas dari kemudahan masyarakat dalam membeli SSST melalui pembayaran digital yang bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. “Pembayaran digital melalui Ovo sudah ada sejak SSST berdiri dan ikut berperan aktif dalam mengembangkan bisnis melalui penyediaan layanan pembayaran digital yang mudah diakses oleh konsumen," ungkap Ryan. 

Akselerasi Transformasi Pembayaran

Dalam kurun waktu empat tahun kehadirannya di Indonesia, Ovo menjadi salah satu pemicu peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Di masa pandemi, hadirnya platform pembayaran digital, ikut pula berperan dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

Presiden Direktur Ovo, Karaniya Dharmasaputra menjelaskan, saat ini Ovo memiliki 71 persen pengguna aktif dan tingkat brand awareness hingga 96 persen. Ovo juga telah hadir di lebih dari 430 kota dan kabupaten, dengan lebih dari satu juta merchant dari berbagai industri, termasuk UMKM yang telah mengimplementasikan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

https://photos.app.goo.gl/aBVSU8W3kimXCGTQ9

Menurutnya, sejak awal, Ovo telah mengadopsi prinsip open ecosystem dan model terintegrasi untuk menciptakan lanskap pembayaran digital dan layanan keuangan yang inklusif. Hal ini menjadi bagian penting dari transformasi pembayaran digital agar mampu membuka akses luas bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Di semester pertama 2021, Ovo mampu mencatat peningkatan transaksi merchant online sebesar 76 persen. Hal ini juga didukung oleh studi Core Indonesia yang juga mencatat 82 persen UMKM menyatakan terbantu oleh ekosistem Ovo yang luas.

Menurut Karaniya, Ovo berharap dapat bersama-sama dengan masyarakat Indonesia, ikut mendukung transformasi pembayaran digital untuk mendongkrak perekonomian nasional. Termasuk juga, mendukung kemajuan literasi keuangan dan mewujudkan cita-cita Indonesia 2045 untuk masuk dalam lima besar ekonomi dunia. 

 

 

 

Tidak hanya menjadi penghubung transaksi digital seperti transportasi, pemesanan makanan, dan belanja online, tetapi layanan Ovo saat ini telah berkembang mencakup asuransi, investasi hingga pinjaman.

KARANIYA DHARMASAPUTRA, Presiden Direktur Ovo.

 

 

https://drive.google.com/file/d/10Io5-2tWIRzFLohLHelkINyZgHChJZ45/view?usp=drivesdk

 


×