Peserta memanjatkan doa sebelum mengikuti ujian Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS dan PPPK di Gedung SOR Arcamanik, Jalan Pacuan Kuda, Kota Bandung, Senin (27/9/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
11 Oct 2021, 03:45 WIB

Mona dan Mimpi Buruk Guru yang Jadi Kenyataan

Sejumlah guru honorer masih mengeluhkan seleksi PPPK.

OLEH RONGGO ASTUNGKORO, SILVY DIAN SETIAWAN

Jumat 8 Oktober 2021 pukul 10.35 WIB. Ramona Adelina, seorang guru honorer, kembali menghubungi Republika lewat pesan singkat. "Gak lolos," tulisnya singkat dengan disertai tangkapan layar pengumuman hasil seleksi tahap pertama guru calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2021.

Pada gambar tangkapan layar itu, terpampang nama lengkap guru yang kerap disapa dengan nama Mona itu beserta dengan data-data lengkap miliknya. Terlihat juga jabatan yang hendak ia dapatkan lewat seleksi tersebut, yakni Ahli Pertama-Guru Kelas.

Hasil yang terdapat pada tangkapan layar itu sama dengan pesan yang dia sampaikan kepada Republika, yakni tidak lolos. Harapan Mona untuk dapat diangkat menjadi guru ASN PPPK terganjal oleh hasil wawancara, salah satu tes yang ada pada seleksi tersebut. "Kalah nilai wawancara," ungkap guru honorer yang memulai masa baktinya sejak tahun 2004.

Terkait

Perubahan ketentuan dalam penilaian hasil seleksi yang dilakukan oleh panitia seleksi nasional (Panselnas) tak membuatnya berhasil keluar dari mimpi buruk. Sejak sebelum pengumuman disiarkan, Mona memang mengkhawatirkan nilai hasil tes wawancaranya tidak mencapai ambang batas bawah.

photo
Peserta mengikuti tes seleksi PPPK (Penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) yang digelar Pemkab Tulungagung di Tulungagung, Jawa Timur, Senin (13/9/2021). - (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

Kabar mengenai betapa sulitnya soal kompetensi teknis guru membuat guru Sekolah Dasar (SD) di daerah Setiabudi, Jakarta Selatan, itu memilih untuk fokus mempelajari materi-materi terkait. Dia khawatir nilainya pada soal kompetensi teknis yang mendapatkan afirmasi dari pemerintah akan jeblok.

Setelah melalui tes selama 170 menit dan menjawab 150 soal, dia mendapatkan nilai kompetensi teknis guru sebesar 255 poin. Angka tersebut berada cukup jauh di atas ambang nilai batas yang ditetapkan Panselnas, yakni sebesar 195 poin.

Sayangnya, selain nilai kompetensi teknis, ada nilai lain yang juga keluar setelah dia menyelesaikan pengerjaan soal-soal tersebut. Nilai-nilai tersebut, yakni nilai ujian kompetensi manajerial dan sosial kultural serta nilai wawancara.

"Pakemnya 195 poin, 130 poin (kompetensi manajerial dan sosial kultural), 24 poin untuk wawancara. Tapi yang saya dapat dari hasil nilai saya ujian, saya 255, 174, dan 15," ungkap Mona kala itu.

Dia berharap Panselnas dapat lebih adil ke depan dalam menentukan penilaian pada seleksi guru PPPK. Hal yang dititikberatkan oleh Mona terkait penilaian tersebut ialah diliriknya masa pengabdian guru-guru honorer dalam mendidik para penerus bangsa.

"Saya berharapnya adil saja. Dengan usia saya yang sudah 47 tahun, saya tidak lolos, masak yang usia 32, 33, 34 masuk, pengabdian saya dinilai dong. Dalam artian kenapa sih nanggung-nanggung perhatiannya? Perhatikan dong pengabdiannya," ujar Mona.

Sebaliknya, Sri Yantini (51) berhasil lolos seleksi PPPK setelah 18 tahun mengabdi. Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berdomisili di Sumbersari, Moyudan, Kabupaten Sleman, ini sebelumnya sudah berkali-kali pindah tempat mengajar.

"Dulu saya mengajar di TK karena belum punya kualifikasi S1," kata Sri kepada Republika melalui sambungan telepon, Ahad (10/10). Saat menjadi guru TK, penghasilannya sebesar Rp 300 ribu per bulan.

Saat menjadi guru SD, penghasilan Sri sudah meningkat dari sebelumnya. Sebagai guru SD dengan status honorer atau guru tidak tetap (GTT), Sri hanya mendapatkan sekitar Rp 700 ribu per bulan. Ditambah insentif yang hanya didapat dari Pemerintah Kabupaten Sleman sebesar Rp 700 ribu.

Status PPPK-nya diharapkan Sri meningkatkan kesejahteraannya. "Alhamdulillah ada PPPK, saya bersyukur sekali, mudah-mudahan ini menjadi berkah dan jelas lebih sejahtera karena gajinya sudah seperti ASN. Bersyukur, alhamdulillah," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Nadiem Anwar Makarim (nadiemmakarim)

Sri sempat sakit di hari pelaksanaan uji kompetensi PPPK beberapa waktu lalu. Ia merasa pusing dan mual saat mengikuti seleksi, bahkan ia sempat izin keluar ruangan untuk mendapatkan obat dari panitia seleksi. Menurutnya, kondisi badannya yang kurang fit disebabkan karena Sri sempat merasa cemas dan panik.

"Belum selesai mengerjakan semua soal, tidak enak badan dan seperti melayang, kepala pusing dan mual. Mungkin karena di perjalanan sudah panik duluan," tambahnya.

Kemendikbudristek bersama dengan Badan Kepegawaian Negara, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB), dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), telah mengumumkan hasil ujian seleksi pertama guru PPPK tahun 2021. Mendikbudristek menyampaikan, sebanyak 173.329 guru honorer lulus ujian seleksi pertama.


×