Ndakasi, seorang gorila yang menjadi viral di internet karena swafotonya meninggal di pelukan penjaga yang merawatnya sejak bayi. | Brent Stirton/Virunga National Park via REUTE
11 Oct 2021, 03:45 WIB

Ndakasi Berpulang di Pelukan Penjaganya

Tragisnya nasib Ndakasi bertahan hidup di pelukan ibunya yang telah berhari-hari mati.

OLEH LINTAR SATRIA

Banyak cerita kenangan yang pernah terjadi dalam kehidupan Ndakasi. Gorila betina berusia 14 tahun ini, terkenal setelah swa-fotonya bersama penjaga viral di media sosial pada 2019.

Pada 26 September lalu, Ndakasi mengembuskan napas terakhirnya, dan pada 5 Oktober, tempat tinggal Ndakasi di Taman Nasional Virunga mengumumkan gorila itu berpulang setelah lama sakit. Media sosial pun dipenuhi ucapan duka cita atas kepergian Ndakasi yang menjadi simbol perjuangan perlindungan gorila yang menghuni daerah pegunungan Republik Demokrasi Kongo.

Dalam pengumumannya, Taman Nasional Virunga mengunggah foto-foto yang menyentuh. Di masa akhir hidupnya, Ndakasi nampak menyandar dengan lemah dipelukkan penjaganya, Andre Bauman.

Terkait

Taman Nasional mengungkapkan, sebelum meninggal dunia kondisi kesehatan Ndakasi terus memburuk. "Ndakasi menghembuskan napas terakhirnya di lengan penuh kasih penjaga dan teman lamanya, Andre Bauma," kata Taman Nasional seperti dikutip dari the Observers, Ahad (10/10).

Ndakasi menjadi terkenal dua tahun yang lalu, setelah jagawan Mathieu Shamavu membagikan swa-fotonya bersama Ndakasi dan gorila lainnya yang sedang berdiri dengan dua kaki, sementara lengan mereka ada di punggung.

Seketika, dunia pun jatuh cinta dengan foto tersebut. Hal ini sekaligus mengingatkan betapa dekatnya hubungan gorila dengan manusia. Ndakasi lahir pada 2007 dan langsung menjadi yatim piatu sejak bayi, setelah ibunya dibunuh oleh berondongan milisi bersenjata.

photo
Mathieu Shamavu, seorang perawat di Senkwekwe Center for Orphaned Mountain Gorillas, berpose bersama Ndakasi (kiri) dan Ndeze (tengah) di Taman Nasional Virunga National Park, Congo, Kamis (18/4/2019). - (Mathieu Shamavu/Virunga National Park via AP)

Karena terlalu rentan untuk dilepaskan ke alam liar, ia tinggal di suaka margasatwa bersama gorila-gorila yatim piatu lainnya. Ia membentuk hubungan istimewa dengan penjaganya Andre Bauman yang merawatnya beberapa hari sejak ia diselamatkan.

"Sepanjang malam, Andre memeluk bayi itu dalam dekapannya, mendekapnya di dadanya agar tubuh mungil itu tetap hangat dan nyaman," kata Taman Nasional Virunga dalam pernyataanya saat menjelaskan kedekatan Bauman dengan Ndakasi sejak hari pertama mereka bertemu.

Bauman pun menuliskan penghormatan pada Ndakasi di situs Taman Nasional Virunga. "Merupakan keistimewaan dapat membantu dan merawat mahluk penyayang itu. Terutama karena mengetahui trauma yang diderita Ndakasi sejak ia masih sangat kecil,” ujarnya.

Menurut Bauman, sifat Ndakasi yang lembut dan cerdas telah membantunya memahami hubungan antara manusia dan Kera Besar. “Ia juga membuat saya mengerti, mengapa kita harus menggunakan semua kekuataan kita untuk melindungi mereka," ia melanjutkan.

Taman Nasional Virunga yang terletak di Provinsi Kivu Utara, kerap dilanda serangan kelompok-kelompok bersenjata. Serangan tersebut biasanya mengincar warga setempat, tapi juga kerap menjadi ajang perburuan liar.

Kekerasan di Virunga tercermin dari pembunuhan enam jagawana pada Januari lalu. Pemerintah yakin, pembunuhan itu dilakukan milisi bersenjata yang dinamakan Mai-Mai, salah satu milisi yang beroperasi di daerah tersebut.

BBC melaporkan juru bicara Taman Nasional Virunga menyampaikan, para jagawana diserbu saat berpatroli di dalam taman. Sebelumnya, tepatnya April 2020, sebanyak 13 orang jagawana juga dibunuh para pemberontak.

Beberapa milisi bersenjata hingga kini masih beroperasi di wilayah timur daerah Kongo. Taman Nasional Virunga mengatakan, para jagawana biasanya diserbu mendadak dan tidak memiliki kesempatan untuk membela diri.

Dalam pernyataan resminya, Taman nasional Virunga menyampaikan, Ndakasi merupakan perwujudan semangat, sekaligus kisah penyintas yang telah terjalin menyatu dengan taman nasional. “Pembantaian keluarganya dan gorila lain pada 2007 mendorong pihak berwenang Kongo untuk mengambil reformasi keamanan dan institusional ekstensi dengan Taman," taman nasional melanjutkan dalam pernyataannya.

Tragisnya nasib Ndakasi bertahan hidup di pelukan ibunya yang telah berhari-hari mati, juga mampu mendorong penguatan signifikan dalam perlindungan di gorila-gorila gunung Virunga. Termasuk juga, memungkinkan kondisi yang berkontribusi pada pemulihan spesies Kera Besar hingga hari ini.

Ketika Ndakasi lahir, gorila hutan sejatinya sudah hampir punah. Tapi dalam 14 tahun terakhir jumlah populasi gorila tumbuh sekitar 47 persen dari 720 individu pada 2007 menjadi sekitar 1.063 pada 2021.  


×