Warga menyaksikan pertandingan penyisihan sepak bola putra PON Papua antara tim Papua melawan tim Jawa Barat di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua, Rabu (6/10/2021). | ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
07 Oct 2021, 03:55 WIB

Prokes PON Papua Diperketat

Penerapan prokes di PON makin diperketat setelah ada puluhan kasus positif Covid-19.

JAYAPURA -- Penerapan protokol kesehatan (prokes) di PON XX Papua semakin diperketat setelah terdeteksinya puluhan kasus positif Covid-19. Upaya pencegahan penularan juga diperkuat dengan meningkatkan skrining kepada pihak-pihak yang terlibat dalam ajang olahraga empat tahunan ini.

Satgas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Papua pada Selasa (5/10) mengungkapkan, terdapat 29 kasus positif Covid-19 yang menimpa atlet, ofisial, dan panitia. Kasus positif tersebut tersebar di empat klaster penyelenggaraan PON, yakni di Kota dan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika, dan Kabupaten Merauke.

Berdasarkan pengamatan Republika, panitia menerapkan prokes secara lebih ketat pada Rabu (6/10). Penguatan prokes tak hanya dilakukan kepada kontingen dan penonton, tapi juga awak media yang bertugas meliput perhelatan PON. Para awak media, termasuk Republika, yang menginap di Port Numbay, Padang Bulan, Jayapura, diwajibkan menjalani tes antigen sebelum berangkat ke venue.

Sejak kedatangan pada 2 Oktober lalu, baru sekali ini petugas medis mendatangi tempat menginap Republika dan sejumlah awak media di Port Numbay. Wartawan baru diperbolehkan berangkat ke arena pertandingan jika hasil tes antigen nonreaktif. Sebaliknya, jika hasilnya reaktif, maka dilarang meliput dan harus terlebih dahulu menjalankan tes PCR.

Terkait

photo
Warga menyaksikan pertandingan penyisihan sepak bola putra PON Papua antara tim Papua melawan tim Jawa Barat di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Papua, Rabu (6/10/2021). - (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.)

Di arena pertandingan, prokes juga diterapkan secara ketat. Hal itu salah satunya terlihat pada pertandingan cabang olahraga angkat besi di Auditorium Universitas Cendrawasih Jayapura, yang baru memulai pertandingan pada Rabu kemarin.

Sarana dan prasarana penegakan prokes telah siap, seperti tempat cuci tangan dan pemeriksaan suhu tubuh. Tersedia juga meja untuk tes antigen. Sukarelawan juga bersiaga untuk membagikan masker gratis. Sementara, kursi perwakilan kontingen di belakang meja undangan juga diberi jarak sekitar setengah meter.

Sukarelawan prokes dari Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) Ritha mengatakan, prokes ketat di Auditorium Universitas Cendrawasih sudah diterapkan sejak tempat tersebut menggelar pertandingan cabor binaraga. "Kita bukan hari ini saja menyiapkan tes antigen, tapi sejak cabor binaraga dipertandingkan dua hari lalu dan selesai kemarin," kata Ritha, Rabu (6/10).

Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali memastikan akan mengevaluasi penegakan prokes PON. Zainudin bakal membahasnya dengan Panitia Pengawasan dan Pengarah (Panwasrah) PON XX Papua, PB PON, dan berbagai pihak terkait.

"Kita berupaya meminimalkan risiko transmisi Covid-19 melalui berbagai strategi, di antaranya penegakan prokes ketat. Ayo kita bersama-sama mengecek asal virus ini karena sebelum datang ke Papua semua kontingen sudah tes PCR," kata Menpora, kemarin.

Menpora meminta agar tes antigen dilakukan sejak di tempat akomodasi bagi seseorang yang bergejala. Jika hasilnya reaktif harus dilanjutkan dengan tes PCR. 

"Kalau positif, diisolasi dan dilakukan tracing untuk sekitarnya. Atlet yang akan bertanding dengan body contact seperti wushu atau gulat, dilakukan tes antigen sebelum bertanding,” tambahnya.

Meski ditemukan adanya kasus positif Covid-19, Zainudin memastikan pertandingan PON tetap berjalan sesuai jadwal. Pertandingan tetap bergulir dengan menegakkan prokes sesuai aturan yang telah ditetapkan.

Ketua DPR Puan Maharani meminta agar ada evaluasi prokes penyelenggaraan PON XX Papua. Puan juga mengingatkan pentingnya pelacakan serta sterilisasi untuk mencegah meluasnya penyebaran virus.

"Temukan apa yang salah hingga muncul cukup banyak kasus Covid-19. Semua pihak harus bergotong royong mencari solusi untuk menghindari semakin banyaknya peserta PON yang terpapar Covid-19," katanya.

Puan juga menyoroti longgarnya prokes di lokasi penyelenggaraan PON. Berdasarkan laporan, kata dia, pemeriksaan dan pengawasan saat pertandingan kerap kurang maksimal. Dia berharap panitia konsisten memeriksa surat keterangan vaksin bagi penonton.

Syarat jumlah penonton maksimal 25 persen dari kapasitas juga tidak boleh diabaikan. "Jika penonton bergerombol, panitia harus segera mengingatkan. Termasuk apabila ada yang melepas masker," katanya.

photo
Lifter putra Jawa Timur Eko Yuli Irawan (tengah), lifter Kalimantan Timur Triyatno (kiri) dan lifter Bengkulu Deni (kanan) berfoto bersama saat upacara pengalungan medali angkat besi kelas 67 Kg PON Papua di Auditorium Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Papua, Kamis (6/10/2021). - (Republika/Thoudy Badai)

Meski begitu, Puan meminta agar temuan kasus Covid-19 tak menyurutkan semangat PON Papua. Ia berharap tidak ada lagi tambahan kasus Covid-19 di PON Papua.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi memastikan para atlet, panitia, dan ofisial yang terpapar Covid-19 telah ditangani dengan baik. Mereka diisolasi secara terpusat di kapal-kapal yang sudah disiapkan Satgas Covid-19 dan PB PON Papua serta di rumah sakit mitra yang bekerja sama dengan PB PON XX Papua.

"Penanganan masih tetap (sama), yang positif harus isolasi terpusat. Kami sudah siapkan fasilitas pelayanan kesehatannya dan tentu dilakukan contact tracing untuk membatasi penularan," kata Nadia, kepada Republika, kemarin.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Alexander K Ginting menegaskan, semua orang yang bergejala, kontak erat, maupun yang positif Covid-19, sudah dipisahkan di fasilitas kesehatan yang telah dibangun. Fasilitas kesehatan di Papua sejak lama sudah disiapkan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 selama penyelenggaraan PON. 

Sementara, sebanyak tujuh atlet dari empat kontingen kini menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD Mimika, Papua setelah dinyatakan positif terpapar Covid-19. Direktur RSUD Mimika dr Antonius Pasulu mengatakan, tujuh atlet yang menjalani perawatan isolasi itu berasal dari kontingen DKI Jakarta, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

"Sampai pagi ini ada tujuh orang yang kami rawat di ruang isolasi RSUD Mimika. Satu orang atlet basket dari DKI Jakarta dengan gejala ringan, lima orang atlet judo yaitu tiga orang dari DKI Jakarta dan dua orang dari Kaltim. Mereka semua tanpa gejala. Lalu satu orang atlet futsal kontingan NTB tanpa gejala," ujar Antonius, kemarin.

Secara keseluruhan, katanya, kondisi para atlet yang menjalani isolasi itu cukup baik. Petugas kesehatan sudah melakukan tracing atau penelusuran kontak erat para atlet yang terpapar Covid-19 itu dan semuanya dinyatakan negatif.

Menurut Antonius, para atlet yang dinyatakan positif Covid-19 rata-rata terdeteksi saat pemeriksaan PCR untuk kepentingan penerbangan kembali ke daerah asalnya masing-masing.

Evaluasi Penerapan Sistem Bubble

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyarankan agar para pemangku kepentingan terkait memperkuat penerapan sistem bubble di arena penyelenggaraan PON XX Papua. Sistem itu harus dipastikan terimplementasi dengan baik untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19.

Juru Bicara Covid-19 PB IDI, Erlina Burhan menilai, ada kemungkinan para atlet, ofisial, dan panitia yang positif Covid-19 sudah terinfeksi sebelum ikut perhelatan PON. Namun, orang tersebut saat itu belum ada gejala karena masih masa inkubasi.

"Dan gejala baru timbul saat PON. Ini harus ditelusuri saat kedatangan atlet, saat timbul gejala, dan tanggal tes PCR," kata Erlina kepada Republika, Rabu (6/10).

Bila ternyata hasil penelusuran menunjukkan bahwa yang bersangkutan memang sudah dipastikan sehat dan tidak sakit saat datang ke Papua, penerapan sistem bubble mesti lebih diperketat. "Sistem bubble-nya mesti ditelusuri, apakah berjalan baik atau lemah implementasinya," kata Erlina.

photo
Pemain hoki putri Papua Barat Jihan Ayu Pratiwi (tengah) melewati adangan pemain hoki putri DKI Jakarta Rayhan Jannataini Ainani (kanan) dan Annur Amalia (kiri) dalam penyisihan Hoki Ruangan Putri PON Papua di Stadion Indoor Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (6/10/2021). Tim hoki DKI Jakarta kalahkan tim hoki Papua Barat dengan skor 3-0. - (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.)

Berdasarkan panduan yang telah ditetapkan Satgas Penanganan Covid-19, ada beberapa aturan yang ditetapkan terkait penerapan sistem bubble. Pertama, setiap peserta (atlet, tim, ofisial, panitia, dan lainnya) tidak diperkenankan melakukan kegiatan di luar rencana aktivitas yang sudah ditentukan. Setiap peserta dalam bubble dipastikan tidak berkontak langsung dengan orang di luar bubble.

Selain itu, semua perjalanan peserta PON XX Papua menggunakan transportasi yang telah disiapkan penyelenggara atau panitia. Pelanggaran terhadap sistem bubble dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan yang ditetapkan panitia.

Stadion juga dibagi menjadi tiga zona. Zona satu merupakan area pertandingan (atlet, wasit, ofisial, dan tim). Zona dua merupakan area tribun. Sedangkan zona ketiga merupakan area di luar stadion.

Satgas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Papua pada Selasa (5/10) mengonfirmasi ada 29 kasus positif Covid-19 di PON XX Papua. Mereka yang terpapar bukan hanya atlet, melainkan juga ofisial dan panitia.

Ketua Panitia Pengawas dan Pengarah PON XX Papua Mayjen TNI (Purn) Suwarno pada Selasa (5/10) memastikan, kegiatan PON mengadopsi sistem bubble yang diterapkan pada saat Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020. Aturan yang diadopsi, yakni para atlet hanya boleh beraktivitas di penginapan dan tempat pertandingan.

"Kami juga gunakan sistem bubble berawal dari sebelum berangkat para atlet harus sudah divaksin di provinsi masing-masing. Mereka juga harus menjalani isolasi atau karantina di provinsi masing-masing sebelum berangkat," katanya.

photo
Pelari Nusa Tenggara Barat Lalu Mohammad Zohri (kiri) mencapai garis finis dalam final nomor lari 100 meter putra PON Papua di Stadion Atletik Mimika Sport Center, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu (6/10/2021). Zohri meraih medali emas, sementara pelari Nusa Tenggara Barat lainnya Sudirman Hadi meraih medali perak dan pelari Kalimantan Tengah Eko Rimbawan meraih medali perunggu. - (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/tom. )

Pelacakan

Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan melakukan pelacakan dan tes Covid-19 terhadap para atlet, ofisial, dan panitia pelaksana asal Jawa Barat yang tengah ikut serta dalam PON XX Papua. Hal tersebut dilakukan menyusul adanya puluhan kasus positif Covid-19 di PON Papua.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Jabar, Dewi Sartika mengatakan, sejauh ini belum ada atlet ataupun ofisial dari Jawa Barat yang dinyatakan positif Covid-19. Hal ini dipastikannya setelah berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Covid-19 di Papua.

Kendati demikian, pihaknya akan terus memantau perkembangan kasus Covid-19 di PON Papua. "Kami sudah berkomunikasi ke Papua dan memang ada datanya, tapi Jabar belum ada masuk di data itu. Tidak ada atlet Jabar (yang terpapar Covid-19)," ujar Dewi, Rabu (6/10).

Dewi mengatakan, antisipasi tetap harus dilakukan. Selain pelacakan kontak melalui testing di arena pertandingan, kontingen Jabar dipastikan harus melakukan tes PCR sebelum kembali dari Papua. "Kemudian nanti setibanya di Bandung, juga kita akan lakukan konsolidasi dan pemantauan," katanya.

Kalaupun nantinya tetap ditemukan yang terdeteksi positif Covid-19 setelah sampai di Jabar, pihaknya sudah menyiapkan langkah antisipatif. Antisipasi itu dilakukan dengan menyiapkan tempat isolasi.

"Jadi untuk yang tidak bergejala, kita siapkan di BPSDM Jabar seperti biasa. Penutupannya kan nanti dan sekarang kita siapkan tempat karantinanya," katanya.  

Sumber : Antara


×